Darah Biru

Darah Biru
Chapter 2 - Misi Berburu Ular - Part 3


__ADS_3

Ikut dengan ular raksasa ke dalam sarangnya saat ini Hesa sedang di buat bingung dengan seorang anak kecil yang terjebak di dinding batu yang ada di sana. Hesa bingung karena warga desa mengatakan bahwa gadis kecil ini dimakan oleh si ular raksasa itu tapi kenapa sekarang ia masih hidup. Dan kenapa dia bisa berada di sela sela bebatuan ini, dengan sekuat tenaga Hesa membuka sela sela batu itu dan membuat sebuah celah hingga anak kecil itu bisa keluar.


“Siapa sebenarnya kamu, apakah kamu adalah anak kecil sari desa yang dimakan oleh ular raksasa itu.” Ucap Hesa bertanya kepada anak kecil itu dengan nada lembut.


“iya aku memang sempat berada dalam mulut si ular raksasa itu tapi dia mengeluarkan ku.” Ucap si gadis kecil dengan wajah pucat.


Hesa kembali di buat bingung, bagaimana mungkin si ular raksasa itu mengeluarkan kembali mangsanya ketika sudah berada di dalam mulutnya. Saat Hesa sedang merasa kebingungan, gadi muka dari gadis kecil itu semakin pucat setelah melihat apa yang ada di belakang Hesa. Menyadari hal itu Hesa langsung menoleh ke belakang, dan saat itu juga ia kembali di buat kaget dengan apa yang dia lihat.


“Apa yang kamu lakukan, beraninya kamu menyentuh anak ku.” Ucap seorang wanita dengan tubuh setengah ular dan ular di kepalanya.


Hesa sekarang sada bahwa ular besar yang ia lawan adalah seorang iblis, lebih tepatnya manusia yang menjalin kontrak dengan iblis. Karena itulah ular raksasa yang Hesa lawan tadi bisa berbicara. Dan sekarang yang ada di depan Hesa saat ini adalah bentuk hybrida nya.


“Jadi seperti itu ya, siapa namamu.” Ucap Hesa menatap tajam ke arah iblis ular yang ada di depannya.


“Benar, aku belum memperkenalkan namaku kepadamu. Namaku adalah Medusa si ratu ular, kamu sangat beruntung karena hanya musuhku yang melihat wujud ku saat ini dan ketiganya tentu saja mati.” Jawab si iblis ular dengan mendesis.

__ADS_1


“Heeeeh ternyata banyak juga ya.” Saut Hesa dengan nada mengejek.


Dengan ekspresi sangat marah iblis ular itu menerjang Hesa dan mengangkatnya dengan tangan kirinya. MEnggunakan tangan kanannya yang memiliki kuku panjang dan tajam, si iblis ular menyerang Hesa bertubi tubi dengan cakaran. Tapi semua cakaran dari ular itu berhasil di tangkis oleh Hesa menggunakan pedang yang ada di tangannya. Karena tidak berhasil dengan cakaran yang ia lancarkan si iblis ular membanting tubuh Hesa ke arah dinding dengan sangat keras.


Bantingan yang sangat keras itu membuat tubuh Hesa yang sudah terluka kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Melihat Hesa yang sudah tidak berdaya, si iblis ular menghampiri si anak kecil yang wajahnya semakin pucat. Dengan nada sangat lembut iblis ular itu berkata.


“Apakah kamu takut, sudah lah jangan takut karena ibu ada di sini.”


“…” Tidak ada jawaban apapun dari gadis kecil itu, dia hanya diam saat tangan iblis ular itu mengelus kepalanya dengan sangat lembut.


“Apakah kamu lapar?, jangan khawatir karena makan malam kali ini adalah daging manusia yang sangat enak itu.” Ucap si iblis ular.


Melihat gadis kecil yang ada di pelukannya merasa takut kepadanya membuat di iblis ular semakin marah. Iblis ular itu tidak melampiaskan kemarahannya kepada si anak kecil yang ada di pelukannya karena dia menganggap bahwa anak kecil itu adalah anaknya. Semua kemarahan yang ada di dalam diri iblis ular itu ia lampiaskan kepada Hesa karena dia yang sudah menyentuh anaknya itu. Dengan sangat marah Iblis ular itu memerintahkan semua ular yang ada di goa itu untuk menyerang Hesa.


Ular yang sangat banyak tiba tiba muncul dari celah bebatuan yang ada di dinding goa dan bersiap menyerang Hesa. Hesa yang masih lemas berusaha menggerakkan tubuhnya karena Hesa berpikir bahwa tidak seperti iblis ular, ular ular itu memiliki racun. Dan benar saja saat ular ular itu mendekati Hesa mereka menyemburkan racun dari mulutnya. Beruntung Hesa bisa menghindari itu karena sekarang ia sudah bisa menggerakkan tubuhnya.

__ADS_1


Dengan pedangnya Hesa berhasil membunuh beberapa ular yang ada di sana, tapi meski begitu ular yang keluar dari celah bebatuan lebih banyak dari ular yang Hesa bunuh. Ia terus menebas kepala ular ular itu meskipun apa yang Hesa lakukan seperti tidak mengubah apa apa. Dan saat Hesa fokus dengan ular ular yang menuju ke padanya, tanpa sadar rambut ular dari iblis itu sudah melilit kakinya kiri Hesa. Disusul dengan ular lainnya yang melilit kaki kanan dan kemudian kedua tangan Hesa. Meskipun sudah berusaha melepaskan diri dari lilitan rambut ular itu, tapi yang Hesa rasakan adalah semakin ia bergerak ular itu semakin erat melilitnya.


Setelah Hesa sudah tidak bisa bergerak, iblis ular itu berjalan ke arah Hesa dengan perlahan. Di ikuti dengan rambut ular lainnya dari iblis itu yang ikut melilit tubuh Hesa hingga menyisakan leher dan kepala. Dengan tangan yang memiliki kuku panjang si iblis ular mengusap kepala Hesa dengan perlahan. Dan saat melakukan itu mulutnya berdesis membisikan sesuatu ke telinga Hesa:


“Apakah kamu pikir aku tidak memiliki bisa beracun, yah wajar saja karena saat berwujud ular raksasa aku memang tidak mengeluarkannya karena memang tidak memilikinya. Hal itu karena saat berada dalam wujud ular raksasa kemampuan bisa beracun ku diganti dengan kemampuan kulitku yang sangat keras. Berbeda dengan wujud ini, meskipun aku tidak memilik wujud keras seperti saat berwujud ular raksasa tapi aku memiliki bisa beracun yang sangat mematikan.”


Iblis ular itu kemudian menjilat leher Hesa dengan lidahnya dan kemudian menggigit leher Hesa dengan taring di mulutnya. Melalui luka gigitan itu si iblis ular menyalurkan bisa yang ada di mulutnya ke tubuh Hesa yang tidak berdaya. Hesa yang tidak bisa bergerak tidak bisa berbuat apa apa dan hanya diam menerima bisa beracun itu masuk ke dalam tubuhnya.


“Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha” Si iblis ular itu tertawa dengan sangat lepas hingga membuat suaranya bergema di seisi goa.


Bersamaan dengan tertawanya itu ia mulai melepaskan rambut ularnya yang melilit sekujur tubuh Hesa. Saat terlepas dari lilitan si iblis ular tubuh Hesa yang lemas seketika tumbang dan terkapar di tanah. Melihat hal itu si iblis ular semakin tertawa terbahak bahak dan berkata:


“Apakah kamu menginginkan penawar dari racun itu, apakah kamu menginginkannya, apakah kamu menginginkannya, katakanlah apakah kamu sangat menginginkannya.”


“Apakah kamu pernah mendengar tentang Mutiara ular, Mutiara ular adalah sebuah bola kecil yang berbentuk seperti Mutiara yang berada di semua kepala ular. Mutiara ular sebenarnya adalah penawar sebenarnya dari racun ular yang miliki. Dan tentu saja aku juga punya Mutiara itu di kepala. Tapi lihatlah dirimu yang menyedihkan itu bahkan tidak bisa berdiri. Bagaimana kamu bisa mengambil Mutiara itu dari dalam kepalaku.” Lanjut si iblis ular dangan nada sangat mengejek.

__ADS_1


“Terimakasih kerena sudah memberitahuku.” Ucap Hesa yang kembali berdiri mengagetkan iblis ular itu.


“Apakah kamu pikir aku pergi mengambil misi memburu ular tanpa persiapan, tentu saja aku sudah membawa penawar ular sebelum datang ke sini. Meskipun tidak seefektif Mutiara ular yang kau katakan tapi penawar ular ini bisa menahan racun mu sebelum aku mengambil Mutiara ular itu dari dalam kepalamu.” Lanjut Hesa dengan tersenyum.


__ADS_2