
Pagi yang cerah di sebuah bar yang ada di kota Walaheyu, terlihat lima anggota dari guild Dark Phoenix sedang sarapan. Mereka makan sembari mendengarkan cerita kapten mereka Hesa yang sedang memamerkan pedang barunya. Saat Hesa mengeluarkan pedang dari sarungnya terlihat pedang itu berkilau cukup indah. Hesa yang terlalu senang kemudian mengayunkan pedangnya dan tidak sengaja menebas salah satu kursi yang ada di sana.
“Apa yang kamu lakukan Hesa!!!” Teriak Alina dengan ekspresi sangat marah.
“Aku mengerti aku akan menggantinya degan memotong gaji misi ku nanti.” Jawab Hesa dengan menundukkan kepalanya.
“Sepertinya ada yang kurang.” Ucap Alina masih dengan ekspresi marahnya.
“Aku mengerti aku minta maaf Alina.” Ucap Hesa dengan suara pelan.
“Apa katamu, aku tidak mendengarnya.”
“Aku minta maaf Alina.” Lanjut Hesa dengan sura yang lebih keras.
“Baiklah aku memaafkan mu.” Jawab Alina dengan senyum di wajahnya.
“Ha ha ha ha ha ha ha haha haha hah.” Ke empat teman Hesa tertawa melihat kapten mereka bertingkah seperti anak kucing yang sangat penurut.
Hesa kemudian kembali duduk dan mulai memakan makanan yang ada di atas mejanya. Ekspresi murung terlihat di wajahnya akibat ia ditertawakan oleh teman temannya tadi, dengan nada pelan Sellyne melayangkan pertanyaan untuk menghibur Hesa.
“Jadi kapten bagaimana kamu bisa membayar pedang yang dibuat oleh ayah Kalista itu.”
“Iya kapten aku sangat penasaran.” Saut Bonye dengan nada bersemangat.
“Aku malas untuk menceritakannya, lagi pula kalian pasti akan mentertawakan ku lagi.” Ucap Hesa dengan nada murung.
__ADS_1
“Ayolah kapten aku ingin mendengar ceritamu.” Saut Jhon.
“Baiklah baiklah aku akan menceritakannya, awalnya aku sangat bingung harus membayar pedang itu dengan apa. Tapi tiba tiba di desa Kalista diadakan sebuah sayembara untuk melawan seorang bertubuh raksasa, bahkan tubuhnya lebih bear dari Jhon. Tapi tentu saja aku bisa dengan mudah mengalahkannya dengan sebuah pedang kayu dan kemudian si panitia memberiku sekantung emas yang aku gunakan untuk membayar pedang ini. Dan kalian tahu apa yang terjadi setelah itu, si panitia memintaku untuk bergabung dengannya.”
“Ha aha ahahahah aha hahaha ahaha ahaha aha ahahah ah ah a hahhaha.” Semua yang ada di sana tertawa terbahak bahak setelah mendengar cerita dari Hesa itu.
Mereka kemudian melanjutkan memakan makanan mereka sembari sesekali bercerita satu sama lain. Beberapa saat berlalu dan sekarang mereka berlima sedang menyiapkan makanan serta barang barang yang akan di bawa untuk melakukan perjalanan. Mereka memasukan semua keperluan itu ke dalam sebuah kereta kuda yang ada di depan bar milik Alina.
Setelah persiapan mereka telah selesai tiba tiba Alina keluar dari bar dan menghampiri Hesa. Dia kemudian memberikan secarik kertas kepada Hesa dengan tersenyum dan berkata.
“Kamu tidak akan sampai jika kamu lupa dengan peta ini.” Ucap Alina.
“Heehe kamu benar, terimakasih Alina, seperti biasa aku akan membayarnya dengan memotong uang hasil dari menjalankan misi.” Jawab Hesa dengan tersenyum.
Dari kerajaan Penaloka menuju ke kerajaan Mejajaran tempat Ezra sekarang berada membutuhkan sekitar lima hari perjalanan. Bisa dikatakan bahwa perjalanan mereka kali ini adalah perjalanan yang cukup panjang karena itulah mereka mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Pada awalnya semuanya berjalan dengan lancar, mereka melewati hutan, sungai, kota kota kecil dengan sangat tenang tanpa ada masalah sedikitpun.
Hingga akhirnya pada Hari ke tiga di sebuah jalanan yang cukup sepi mereka di cegat oleh beberapa orang yang mengenakan pakaian seba hitam dan mengacungkan pedang ke arah mereka. Dengan pedang yang mereka pegang salah satu dari mereka mengancam Hesa dan lainnya untuk menyerahkan barang bawaan mereka agar tidak ada kekerasan yang akan terjadi. Hesa dan lainnya berhenti dan tersenyum setelah mendengar omongan yang keluar dari mulut mereka.
“Beraninya kalian tertawa, capat serahkan semua barang barang kalian.” Ucap Salah satu orang itu mengacungkan pedangnya ke arah Hesa.
Hesa yang merasa tertantang dengan pedang yang di acungkan kepadanya mulai mengeluarkan pedang dari sarungnya. Tapi sebelum Hesa sempat mengayunkan pedangnya Zazkia dengan cepat melompat ke arah orang yang mengacungkan pedang ke arah Hesa dan menusuk leher orang itu dengan kedua pisau sangkur yang ia pegang. Seketika orang itu mati karena tusukan yang Zazkia lakukan tepat menancap di tenggorokan pria itu.
“Apa yang kamu lakukan Zazkia, aku baru saja akan bermain main dengan dia, kenapa kamu membunuhnya begitu daja.” Ucap Hesa dari atas kudanya.
“Kamu harus istirahat terlebih dahulu setelah kamu melakukan perjalanan kemarin kapten.” Jawab Zazkia dengan tersenyum.
__ADS_1
“Benar kapten kamu tetap diam di kudamu dan istirahatlah.” Ucap John bersamaan dengan berlari ke sekumpulan orang itu dan menerjang mereka dengan kapak besar yang ia pegang.
Pertempuran antara dua kelompok terjadi setelah John menerjang orang orang itu. Orang orang itu melawan Jhon dengan pedang mereka tapi itu sepertinya sia sia karena tidak ada satupun tebasan pedang yang mengenai Jhon. Bersamaan dengan itu Sellyne juga mulai menggunakan panah di punggungnya untuk menyerang orang orang itu dari kudanya. Zazkia yang sempat terdiam juga mulai menyerang mereka sembari berkata.
“Ingat kamu tetaplah diam di sana kapten.” Ucap Zazkia dengan senyum di wajahnya.
Meskipun mereka kalah jumlah pertempuran di dominasi oleh anggota dari guild Dark Phoenix. Hesa hanya melihat teman temannya menghajar beberapa orang itu dengan sangat cepat, meskipun ia sangat ingin ikut bertarung dengan mereka tapi Hesa sadar bahwa tubuhnya belum pulis sepenuhnya karena perjalananya beberapa hari yang lalu. Selain itu ia juga sangat mempercayai teman temannya jadi ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
Di saat pertempuran berlangsung beberapa orang berpakaian serba hitam itu menyusup ke dalam kereta kuda milik guild Dark Phoenix. Tapi saat mereka sedang melihat ke dalam kereta kuda itu, tiba tiba sebuah batu kristal runcing meluncur dengan cepat menembus kepala semua orang yang ada di sana dan membuat mereka mati seketika. Batu kristal itu bisa meluncur karena di kendalikan oleh kemampuan telekinesis milik Bonnye. Setelah membunuh orang orang yang ada di sana batu itu kembali terbang ke arah Bonnye dan ia memasangnya ke kalungnya kembali
Beberapa saat berlalu dan akhirnya mereka berhasil menghajar semua orang itu. Hesa yang melihat hal itu melakukan tepuk tangan untuk merayakan hasil kerja teman temannya itu. Dengan ekspresi serius Hesa turun dari kudanya dan berkata.
“Kalian adalah kelompok bandit ya, kalian mengingatkanku tentang teman temanku dulu.”
“Aku pedang ini sebagai hadiah untuk ku ya.” Ucap Hesa dengan senyum di wajahnya.
Setelah itu semua anggota dari Dark Phoenix kembali ke kuda mereka dan mulai melanjutkan perjalanan meninggalkan para bandit itu. Dengan senyum di wajahnya Sellyne berkata:
“Aku yakin kamu ingin sekali ikut menghajar mereka tadi kan kapten.”
“Diamlah, tapi lihat aku mendapatkan pedang keduaku.” Jawab Hesa sembari mengangkat pedangnya.
“Pemberhentian selanjutnya adalah sebuah kota bernama Kabelera dan aku mempunyai firasat kira akan mendapatkan masalah di sana. Tapi tidak apa apa karena kita hanya perlu menghajar musuh yang menghalangi kita.” Lanjut Hesa bersamaan dengan melihat peta yang ada di tangannya.
“Ya!!!” Jawab ke empat teman Hesa dengan serentak.
__ADS_1