
Di sebuah hutan dengan pepohonan yang sangat rindang, Hesa sedang menjalankan misi seorang diri melawan ular raksasa yang mengganggu ketentraman para warga. Ular raksasa itu memiliki sisik yang sangat keras hingga semua tebas pedang yang Hesa layangkan tidak melukai tubuh ular raksasa itu. Tapi karena ketidak sengajaan Hesa menebas bagian bawah tubuh ular raksasa itu dan ternyata tubuh bagian bawah ular itu tidak sekeras tubuh bagian atasnya.
Dengan sekuat tenaga Hesa terus menerus menebas bagian bawah tubuh ular itu dan tiba tiba saja Hesa mendengar ternyata ular itu bisa berbicara. Hesa yang kaget sempat menghentikan tebasan nya dan hal itu dimanfaatkan oleh si ular dengan menyerang Hesa menggunakan ekornya. Sebenarnya serangan itu tidak terlalu kuat tapi karena ekor ular itu sangat besar dan keras membuat dampak serangan yang diterima Hesa cukup parah hingga membuatnya muntah darah.
“Jika aku terkena serangan itu sekali lagi mungkin tulang rusukku akan hancur.” Ucap Hesa yang terpental karena serang ekor ular raksasa itu.
“Kemana kamu lari hah, apakah sekarang kamu takut, kemana perginya kepercayaan dirimu yang pergi kesini sendirian dengan niat membunuhku.” Teriak si ular kepada Hesa yang bersembunyi di balik pepohonan.
Memanfaatkan tubuh besarnya, ular raksasa itu menerjang pepohonan yang menghalangi pandangannya. Hutan di sekitar ular raksasa itu seketika gundul karena si ular menumbangkan semua pohon yang ada di sana mencari Hesa yang bersembunyi. Hesa yang merasa bahwa sakti akibat serangan si ular sudah berkurang, bersiap dengan busur dan anak panah di tangannya.
Anak panah yang Hesa siapkan sudah di lapisi dengan minyak tanah yang membuatnya mudah terbakar. Dengan sebuah korek di tangannya Hesa membakar ujung anak panah itu dan membidik si ular. Daei atas pepohonan sebuah anak panah melesat dengan cepat masuk tepat ke lubang hidung kanan si ular. Karena anak panah itu sudah di lapisi dengan api, anak panah yang menancap di lubang hidung si ular membuat ular raksasa itu sempat kesulitan untuk bernapas.
__ADS_1
Ular raksasa itu menggeliat kesakitan dan menabrakkan kepalanya ke pepohonan untuk memadamkan api di lubang hidungnya. Hesa memanfaatkan hal itu dengan mencari tempat lain untuk bersembunyi dan bersiap dengan anak panah selanjutnya. Setelah beberapa kali menabrakkan kepalanya ke pohon akhirnya api yang ada di lubang hidung ular raksasa itu padam.
“Kurang ajar, kurang ajar, kurang ajaaarrrrr!!!!” Ucap ular raksasa itu melihat ke sekeliling mencari Hesa.
“Kalau kau berani hadapi aku dengan pedangmu sialan.” Lanjut si ular dengan berteriak membuat para burung yang ada di hutan itu beterbangan.
Saat ini Hesa sudah bersiap dengan busur di tangannya, dengan satu anak panah ia membidik ular raksasa itu. Tapi berbeda dari sebelumnya kali ini ia berada di pohon yang mudah untuk di lihat oleh Ular raksasa itu. Dengan cepat ular raksasa itu membuka mulutnya dan meluncur ke arah Hesa.
“Sepertinya kamu terlalu percaya diri dengan kemampuan memanah mu itu dan sepertinya anak panah pertama yang mengenai ku tadi hanyalah sebuah kebetulan.” Ucap si ular mengejek Hesa.
Si ular membuka mulutnya dengan lebar dan bersiap memakan Hesa, tapi sebelum melahap Hesa dengan mulutnya beberapa anak panah melesat dan mengenai mata kiri si ular. Sebenarnya sejak awal anak panah Hesa tidak meleset, anak panah pertama bertujuan untuk memancing si ular ke tempat yang Hesa inginkan dan anak panah ke dua di tujukan ke sebuah tali yang menjadi tuas sebuah pelontar sederhana dari batang pohon yang sudah ia siapkan sejak awal. Anak panah yang mengenai mata ular itu membuat si ular raksasa menggeliat karena kesakitan
__ADS_1
Memanfaatkan hal itu Hesa melompat ke arah ular raksasa dan menebas salah satu tari ular itu dengan pedangnya. Hanya butuh satu kali tebasan dan taring ular raksasa itu langsung terpotong. Setelah menebas taring ular raksasa itu Hesa berkata:
“Itu sebagai bayaran untuk pedangku yang patah.”
Si ular yang masi kesakitan dengan anak panah yang menancap di mata kirinya berusaha pergi dari tempat itu. Hesa yang menyadari hal itu dengan cepat memanfaatkan kesempatan menusuk tubuh bagian bawah ular raksasa itu dengan pedangnya. Rencana Hesa adalah saat ia menusuk si ular, ular itu akan bergerak dan dia bisa merobek tubuh ular itu dengan mudah. Tapi semuanya tidak sesuai dengan rencana karena saat Hesa sudah menusuk tubuh bagian bawah si ular Hesa tidak bisa merobek tubuh si ular dengan mudah keran meski tidak sekeras tubuh bagian atas tubuh bagian bawa si ular juga tidak terlalu lembek.
Karena hal itu Hesa terbawa oleh si ular yang membawanya ke sebuah goa. Bersama si ular raksasa Hesa masuk ke goa itu dan ia sada bahwa goa itu adalah sarang dari ular raksasa. Hesa akhirnya bisa mencabut pedangnya dari tubuh ular itu dan si ular masuk ke goa lebih dalam.
Saat melihat sekeliling Hesa melihat banyak sekali tulang belulang dari hewan hewan dan manusia yang menjadi mangsa si ular raksasa. Bersiap dengan pedang di tangannya Hesa bergegas masuk ke dalam goa dengan maksud mengejar ular raksasa itu. Tapi baru beberapa langkah Hesa menggerakkan kakinya, tiba tiba terdengar suara dari rongga batu yang ada di sana.
“Tolong, tolong, tolong, apakah ada orang di sana.”
__ADS_1
Dan saat melihat ke sela sela batu itu, begitu terkejutnya Hesa karena ternyata suara itu berasal dari seorang anak perempuan kecil yang sedang terjebak di sana.