
Setelah melakukan perjalanan dari kota Burssa sampailah Hesa dan lainnya di ibukota kerajaan Mejajaran. Hesa dan lainnya kaget dengan napa yang mereka lihat, mereka tidak mengira bahwa ibukota kerajaan Mejajaran akan hancur berantakan. Banyak sekali bangunan bangunan yang rusak, reruntuhan berserakan di jalanan dan terlihat juga banyak warga yang memilih untuk tinggal di ibu kota ini dan tidak mengungsi.
Hesa, Jhon, Sellyne, Bonnye dan Zazkia berjalan membaur bersama para warga yang ada di sana agar tidak menarik perhatian. Sembari memperhatikan situasi mereka melihat banyak tentara berpatroli di setiap jalan yang ada di sana. Mata para tentara itu sangat tajam menatap ke segala arah seperti diak ada yang bisa luput dari pandangannya.
Meskipun sudah berusaha membaur dengan para warga yang ada di sana tapi beberapa tentara menghampiri Hesa dan lainnya. Mereka menyadari bahwa Hesa dan lainnya bukanlah warga asli ibu kota ini, tapi Hesa dan lainnya berusaha untuk meyakinkan para tentara itu bahwa mereka adalah warga asli ibukota ini. Dengan nada tinggi para tentara itu berkata kepada Hesa dan lainnya:
“Jangan bohong, aku tidak pernah melihat kalian sejak aku pertama kali datang ke sini!!!”
“Mungkin saja kamu memang belum pernah melihatku sebelumnya.” Jawab Hesa.
“Apakah kamu mengatakan bahwa aku ini buta.” Ucap si tentara dengan nada yang semakin tinggi.
“Hey semuanya apakah kalian dengar, orang ini mengatakan bahwa aku ini buta, kalian tadi mendengarnya kan.” Lanjut si tentara mempofokasi Hesa dengan bertanya kepada para teman temannya.
“Hajar saja dia Wosh hajar saja.” Saut salah satu tentara.
“Iya benar Wosh kamu memang harus memberinya pelajaran.” Saut para tentara itu.
Tiba tiba sebuah hantaman tinju mendarat tepat di wajah si tentara dan membuatnya terkapar di tanah. Itu adalah sebuah hantaman tinju yang dilayangkan oleh Jhon yang sudah berusaha menahan kemarahannya sejak tadi. Tapi kemarahan itu memuncak dan sebuah tinju tidak bisa ia taham.
“Maafkan aku kapten aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi.” Ucap Jhon dengan ekspresi tanpa menyesal sama sekali.
Pertarungan tidak bisa di hindarkan antara guild Dark Phoenix melawan tentara kerajaan Enjuba yang sedang menduduki ibu kota kerajaan Mejajaran. Hesa dan teman temannya mulai bersiap dengan senjata mereka, Hesa mengeluarkan pedangnya, Jhon dengan kapak di tangannya, Sellyne dengan busurnya, Bonnye dengan kalung kristal di lehernya serta Zazkia dengan belati di kedua tangannya. Dengan cepat satu persatu tentara itu di hajar oleh Hesa dan teman temannya.
__ADS_1
Dengan sekejap saja pertempuran antara Guild Dark Phoenix dengan para tentara itu menjadi pusat perhatian di ibu kota kerajaan Mejajaran. Beberapa tentara mulai berdatangan untuk membantu melawan Hesa dan teman temannya tapi mereka juga di kalahkan dengan mudah. Hingga akhirnya seorang pemuda datang dengan kudanya menghampiri pertemuan itu dan melerainya.
"Hentikan, apa yang sedang kalian lakukan." ucap si pemuda dari atas kudanya.
"Akhirnya kamu datang juga Ezra, jadi kenapa kamu meninggalkan kami dan bergabung dengan orang - orang lemah ini." Ucap Jhon dengan nada tinggi.
"Apa yang kamu katakan Jhon, siapa yang mengatakan aku bukan bagian dari kalian. Aku masih bagian dari guild dark Phoenix kan, iya kan kapten?" Ucap Ezra menatap Hesa.
"Tentu saja." Jawab Hesa dengan sedikit bingung tetapi ia berusaha untuk tidak menampakan kebingungannya itu.
Ezra meminta para tentara itu untuk meminta maaf kepada Hesa dan lainnya karena telah melakukan kesalahan. Setelah diperintahkan oleh Ezra para tentara itu meminta maaf dengan mengatakan bahwa mereka tidak tahu bahwa Hesa dan lainnya adalah teman Ezra. Setelah itu Ezra juga memerintahkan para tentara untuk menyiapkan kuda untuk Hrsa dan lainnya.
Setelah menyiapkan lima kuda Ezra menuntun Hesa dan teman teman lainnya menuju ke istana kerajaan Meja jaran tempat ia tinggal saat ini. Dengan mengikuti Ezra, mereka menaiki kuda kuda yang telah di siapkan dan setelah beberapa saat sampailah mereka di depan istana kerajaan Mejajaran.
"Sebenarnya aku terpaksa semua melakukan ini." Ucap Ezra kepada teman temannya sembari berjalan masuk ke dalam istana.
"Apa yang kamu katakan dengan terpaksa melakukan semua ini?" Tanya Zazkia kepada Ezra.
"Apakah kamu sudah menceritakan semuanya kepada mereka kapten." Ucap Ezra kepada Hesa.
"YA aku sah menceritakan semuanya."Jawab Hesa.
"Sebenarnya aku menaklukan kerajaan ku sendiri dengan maksud untuk menyelamatkan ibuku."
__ADS_1
"Meskipun saat kecil aku di buang olehnya tapi dia tetaplah ibuku dan saat dia sedang dalam bahaya aku harus menyelamatkannya." LAnjut Ezra.
Tepat setelah Ezra menyelesaikan kalimatnya mereka akhirnya sampai di aula utama kerajaan. Di sinilah para petinggi kerajaan Enjuba yang memimpin para pasukan mereka berkumpul. Sama seperti di depan di dalam aula ini juga sedang di adakan sebuah pesta. Tiba tiba seorang bernama Loberto seorang yang memimpin pasukan kerajaan Enjuba untuk menyerang kerajaan Mesajaran menghampiri Ezra dan yang lainnya.
"Ezra apakah ini teman temanmu yang kemarin kamu ceritakan itu." Ucap Loberto dengan sangat ramah dan ekspresi wajah yang sedikit mabuk.
"Iya benar mereka adalah teman teman yang pernah aku ceritakan, perkenalkan ini adalah Hesa, Jhon, Sellyne, Bonnye dan Zazkia." Ucap Ezra menunjuk mereka satu persatu.
"Dan perkenalkan ini adalah Loberto pemimpin pasukan ini." Lanjut Ezra menunjuk Loberto.
"Senang bertemu kalian, seperti yang Ezra katakan namaku adalah Loberto. Sebelumnya kau minta maaf, aku mendengar bahwa sebelum sampai di sini, kalian mengalami sedikit keributan dengan bawahan ku ya. Tolong maafkan mereka karena mereka sedikit mabuk akibat pesta yang sudah berlangsung tiga hari tiga malam ini." UCap Loberto kembali dengan nada ramahnya.
"Tenang saja tidak ada yang peru di khawatirkan itu hanyalah sebuah kesalahpahaman kecil." Jawab Hesa dengan nada ramah.
"Kalau begitu terimakasih, ayo kalian nikmati saja pestanya." Ucap Loberto yang dengan ekspresi mabuknya.
Hesa dan yang lainnya mulai menikmati perta yang sedang di adakan. Entah sadar ataupun tidak, mereka sedang merayakan sebuah pesta yang di adakan untuk merayakan sebuah kemenangan atas hancurnya ibukota kerjaan Mejaajaran, Hesa dan lainnya iku berpesta di sana seolah mereka juga sudah ikut serta dalam penghancuran kota.
Beberapa saat yang lalu di sebuah lorong gelap yang ada di ruang bawah tanah istana kerajaan Mejajaran. Ezra menyusuri lorong itu dengan membawa sebuah lilin di tangan kirinya. Dengan kunci yang ia pegang di tangan kanan ia membuka salah satu pintu sel yang ada di sana.
Dari cahaya lilin terlihat seorang wanita yang sedang terikat oleh rantai. Wanita itu adalah ibu dari Ezra sendiri. Dengan perlahan Ezra menghampiri wanita itu dan berkata.
"Ibu aku tidak bisa membebaskan mu sekarang, tapi aku berjanji besok aku akan membebaskan mu." Ucap Ezra dengan lilin di tangannya.
__ADS_1