
3 Hari perjalanan menuju Kekaisaran Lin telah berlalu begitu singkat, Karena Putri Lin Lin terus bercerita mengenai berbagai macam hal hingga membuat telinga Yu Zen terasa sakit.
Para penjaga gerbang mulai membunyikan lonceng Setelah melihat kereta kuda milik Putri Kaisar Lin telah kembali setelah begitu lama pergi meninggalkan Kerajaan Lin.
Beberapa penduduk Ibu Kota segera berbondong-bondong memenuhi pintu gerbang kerajaan Lin Setelah mendengar suara lonceng yang dinanti-nantikan oleh para penduduk Ibu Kota Kerajaan Lin tersebut.
Pasalnya kepergian Putri Lin Lin meninggalkan Kerajaan itu mengandung tanda tanya besar mengingat Putri Kaisar Lin belum pernah sekalipun meninggalkan Kerajaan seleama 12 tahun terakhir.
Mereka tidak pernah tau bahwa Putri Kaisar Lin saat itu sedang bertaruh kepada salah satu orang penting di dalam Kerajaan Lin, mereka bertaruh untuk memperebutkan tahta kerajaan Lin yang saat ini dipegang oleh Kaisar Lin Guwong, yang sekarang sudah menduduki tahta selama 99 tahun.
Di kerajaan Lin memiliki sebuah sistem tradisi, mereka hanya dapat memegang tahta maksimal 100 tahun dan tidak boleh lebih.
Pengawalan sangatlah ketat menuju ke istana kerajaan, para penduduk kota hampir memenuhi setiap samping jalan yang tersusun dari batu-batu yang rapi, mereka memenuhi di setiap sudut-sudut bangunan, atmosfer mulai menipis karena banyaknya penduduk berdesak-desakan hanya sekadar untuk melihat kereta kuda milik Putri Lin Lin.
Yu Zen terkejut sekaligus terkagum melihat sorot mata penduduk Kerajaan Lin yang mayoritasnya memperlihatkan sorot mata bahagia, berbeda dari Kerajaan Xu milik Ayahnya yang mayoritas penduduk Ibu Kota Xu kebanyakan memperlihatkan sorot mata putus asa.
Ia terus mengamati satu persatu dari balik celah kereta kuda, mayoritas penduduk terlihat sangat sehat dan beberapa penduduk lainnya juga terlihat sangat ramah.
Hingga akhirnya Yu Zen kebingungan dengan sistem yang di terapkan oleh kerajaan Lin.
"Tuan Putri Lin, Bagaimana kerajaan ini begitu makmur?" Tanya Yu Zen sambil memandangi wajah Lin Lin yang tertutup kain.
Putri Lin mulai menoleh ke luar celah jendela kereta kuda. "Kerajaan ini hanya menganut sistem Demokrasi" kata Putri Lin Lin sambil kembali memandang Yu Zen yang masih mengenakan topeng.
Yu Zen menelan ludahnya, ia tidak begitu mengerti mengenai sistem demokrasi secara keseluruhan karena pengetahuannya masih terlalu jauh untuk dapat membahas politik di usianya yang masih 9 tahun.
__ADS_1
"Tapi tuan Puteri, bagaimana jika ada salah satu penduduk yang mengkritik sistem pemerintahan itu sendiri?"
Lin Lin kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh anak ingusan yang masih berusia 9 tahun itu.
"Ya pemerintah akan menerima kritikan itu selama dapat membangun kerajaan ini menjadi lebih baik"
Yu Zen tidak mengerti secara keseluruhan, namun yang ia tau saat ini adalah Kritikan itu hanya akan memperburuk keadaan dan juga membuat mereka seolah-olah tidak percaya pada pemerintahan.
Di kerajaan Xu, seorang penduduk yang mengkritik sistem pemerintahan akan dikenakan hukuman yang sangat barat yakni hukum mati, mereka yang mengkritik kepemimpinan akan disebut sebagai pembangkangan Kerajaan yang berarti ia telah melawan raja secara langsung.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di depan gerbang Istana Kerajaan Lin.
Pendekar Dong Deng membukakan pintu kereta kuda yang terbuat dari lapisan emas itu.
Putri Lin Lin keluar dari dalam kereta kuda bersama dengan seorang anak kecil berusia 9 tahun dengan mengenakan sebuah topeng.
Disamping itu Seorang Laki-laki berpakaian rapi berusia 18 tahun juga menyambut kedatangan Putri Lin Lin dengan didampingi oleh anak kecil berusia 15 tahun.
Laki-laki itu mulai berjalan mendekati Lin Lin hingga membuat sekujur tubuh Lin Lin gemetar hebat.
Yu Zen yang mengetahui Putri Lin Lin sedang gemetar hanya dapat terdiam karena ia tidak tau permasalahannya.
Mata laki-laki itu tertuju kearah Anak kecil dengan mengenakan sebuah topeng, tampang laki-laki itu terlihat sangat bahagia setelah mengamati Yu Zen lebih dalam.
Pakaiannya yang lusuh dan ukuran tubuhnya yang mungil itu membuat Laki-laki itu sangat bersemangat.
__ADS_1
"Hahaha... ternyata kamu sudah putus asa ya, hingga membuat anak ingusan ini menjadi harapan terakhir mu" kata Laki-laki tersebut kemudian berbisik kepada Lin Lin kembali.
"Jangan lupa pertaruhan kita, jika aku menang turnamen ini, aku akan melumat setiap bagian tubuhmu dengan sesuka hatiku" Bisik Laki-laki tersebut dengan nada mengintimidasi.
Yu Zen yang saat itu mendengar jelas ucapan laki-laki tersebut seketika emosinya meluap-luap, ia tidak menyangka akan ada orang seperti itu di dalam Kerajaan yang makmur.
Dengan tegap Laki-laki itu kemudian berjalan meninggalkan Lin Lin namun saat itu juga Yu Zen mulai mengandung kaki laki-laki itu hingga tersungkur ke lantai.
Bruk!
Ia tersungkur jatuh seperti layaknya sekor kambing yang sedang berdiri.
Beberapa pengawal dan dayang terkejut kemudian mendekap mulutnya sendiri karena menahan tawa setelah melihat kejadian itu.
"Beraninya kau mempermainkan putra mahkota" kata Laki-laki yang tersandung itu.
"Fufufufu.....aku tidak peduli!" Kata Yu Zen dengan lantang hingga membuat orang-orang disekitarnya terkejut.
Disisi lain Putri Lin Lin mulai menarik tangan Yu Zen kemudian berbicara.
"Ayo kita pergi dari sini" kata Putri Lin Lin sambil berjalan menuju kediamannya.
Disisi lain Putrinya mahkota Kerajaan Lin hanya memandangi dari kejauhan Setelah melihat Putri Lin berjalan semakin menjauh.
"Hahaha.. lakukan sesukamu Lin Lin, lagi pula sebentar lagi aku akan memilikimu" batin Lin Tian, dengan perasaan penuh nafsu.
__ADS_1
Disamping itu Dong Deng hanya menyaksikan dari kejauhan tanpa tau permasalahannya.