
"Akhirnya" Yu Zen tergeletak di atas panggung arena dengan penuh ketenangan dan kedamaian, namun saat itu juga Kaisar Lin mulai berdiri dan kembali berkata.
"Pertandingan tidak jadi diundur..."
"...Dan akan dimulai kembali setelah 30 menit persiapan"
"...Apa!..." Yu Zen mengumpat dalam hati namun, hal itu tetap percuma karena perintah itu langsung dari Kaisar Lin.
Woaaaaaaaa!
Gemuruh teriakan penonton semakin meriah dan semakin keras, mereka tidak ingin kehilangan momen yang menegangkan itu yang saat ini mereka rasakan.
Disamping itu Putri Lin Lin juga tidak dapat berbuat apapun, dan juga Dong Deng hanya terdiam membisu.
Putra mahkota Lin Tian semakin gembira, ia juga bersorak dengan sorakan paling keras diantara para penonton lainya, mungkin saja bahwa kegembiraan nya saat ini sudah mencapai puncak.
Yu Zen berdiri kembali menuju ke tempat istirahat, ia berjalan dengan kaki gemetaran, sambil melihat kebawah dengan tatapan kelelahan.
Sebuah sinar kecil muncul di salah satu sudut arena, tidak, melainkan itu hanyalah sebuah pantulan sinar matahari yang berasal dari cincin ilusi yang mengkilap.
Pantulan cahaya tersebut mulai memantul kearah mata Yu Zen hingga kemudian ia berjalan dengan penuh penasaran, ia mendekati pantulan cahaya tersebut, entah apa yang memasukinya, saat itu mata Yu Zen mulai kembali hidup dan Kekuatannya mulai bangkit kembali walaupun hanya sesaat.
Tangan mungilnya mulai meraih cincin tersebut dengan penuh hati-hati.
"Cincin ini... seperti cincin yang sering ibu pakai" Yu Zen kembali berjalan dengan penuh kegembiraan sambil memakai cincin tersebut agar tidak mudah hilang, namun sesaat setelah ia memasuki ruang tunggu saat itu juga Yu Zen merasakan sebuah keanehan dalam tubuhnya.
"Apa yang terjadi?"
"kenapa diriku menjadi tinggi?"
Saat Yu Zen mulai melihat tangannya sendiri, saat itu juga ia terkejut.
"Bukankah ini tangan ibuku?"
Dengan cepat ia mulai melihat dirinya melalui ember yang berisi air.
"... mustahil...,ini wajah ibuku..."
"... Aku berubah menjadi ibuku?.."
"... tidak-tidak... apakah karena Cincin ini?"
Yu Zen tidak menyadari bahwa Cincin Ilusi hanya aktif jika pengunanya sedang membayangkan wajah seseorang, bahkan jika pengunanya memakai topeng sekalipun.
__ADS_1
Sesaat setelah ia menyadari hal itu, saat itu juga Yu Zen mulai melepas cincin Ilusi tersebut dari jari mungilnya.
"Fufufufu...menakutkan sekali" tubuh Yu Zen gemetar hebat, disisi lain ia kebingungan dengan efek cincin tersebut, mungkin saja ia berfikir bahwa ibunya masih hidup di suatu tempat karena ibunya juga memiliki Cincin yang terlihat sama dengan Cincin yang Yu Zen kenakan sebelumnya.
Setelah 30 menit berlalu saat itu juga sebuah lonceng mulai dibunyikan kembali.
Ting! Ting! Ting!
"Mari kita sambut Bocah Bertopeng!"
Yu Zen mulai kembali ke tengah arena dengan kondisi yang hampir sama setelah dirinya kelelahan bertarung dengan spirit Beast yang buas.
"Fuuuh, baiklah akan aku akhiri secepatnya" Yu Zen mulai mengatur nafasnya dengan teratur hingga akhirnya komentator itu mulai berbicara.
"Kita sambut...."
"Peserta terakhir dari Grup A, yang juga tidak kalah dengan Bocah bertopeng....ini dia..."
"Wong Punk..."
Woooooooo!!
Sorakan penonton semakin meriah, mereka telah lama menanti-nantikan pertandingan terakhir tersebut dengan penuh kegembiraan, disamping itu Putra Mahkota Lin Tuan juga berteriak kegirangan.
Yu Zen dan Wong Punk saling bertatapan dari jarak yang sudah ditentukan.
Kaisar Lin mulai memberikan aba-aba.
Saat itu juga suara lonceng mulai dibunyikan sebagai tanda dimulainya pertarungan.
Ting!
Wong Punk melesat cepat menuju ke tempat Yu Zen berdiri.
Disamping itu Yu Zen mengepalkan satu tangan kanannya sambil memasang kuda-kuda.
"Fuuuuu....."
"...atur nafas..."
"...perkiraan gerakan lawan..."
"...bayangkan setiap kemungkinan..."
__ADS_1
Kepalan tangan Yu Zen dipenuhi dengan kekuatan, ia tidak menyangka bahwa kepalan tangan tersebut berbeda dari kepalan sebelumnya.
Dengan cepat ia mulai melancarkan serangan di satu titik.
"Jurus Tinju Maut!"
Yu Zen mulai memukul dengan kekuatan penuh miliknya namun, ia mulai merasakan sensasi yang berbeda dari biasanya.
Wong Punk terhempas ke luar area, bahkan saat itu Yu Zen belum juga mendaratkan satu pukulan pun kearah Wong Punk seolah ia terhempas oleh tekanan angin.
Yu Zen menelan ludahnya. "...ini bukankah Jurus Pukulan Angin?" Tangan Yu Zen gemetar.
Disamping itu Wong Punk terhempas keluar arena kemudian mendarat di dinding pembatas hingga hancur berkeping-keping.
Semua penonton terdiam kebingungan, pasalnya pertandingan itu belum sampai 10 detik dimulai namun berakhir begitu cepat.
Sebuah lonceng mulai dibunyikan sebagai tanda telah berakhir pertandingan.
Ting!
Yu Zen tergeletak di atas panggung arena "akhirnya aku dapat tidur nyenyak"
Putra mahkota Lin Tian semakin menggila, matanya melebar seolah-olah tidak percaya, seketika pandangannya berubah menuju ke arah Putri Lin Lin dengan pandangan yang menjijikkan.
"Sial tidak ada pilihan lain" Putra mahkota Lin Tian mulai mendekati Lin Lin dengan penuh nafsu namun saat itu juga sebuah pedang milik Kaisar Lin menancap menembus tubuh Putra Mahkota Lin Tian tersebut.
Jleeb!
"Ayah...apa yang Ayah... lakukan...?" Lin Tian tergeletak di hadapan Kaisar Lin dan Putri Lin Lin.
Seketika sebuah Tirai besar menutupi seluruh bagian tempat duduk Raja hingga tidak menyisakan satu celah pun.
Sorot mata Putra Mahkota Lin Tian semakin lama semakin memudar.
Tidak ada yang tau semuanya kejadian itu kecuali para Penjaga dan beberapa orang terdekat Kaisar Lin.
"kau telah didakwa dengan kasus, penyelundupan, korupsi, pembocoran informasi dan Penghianatan"
"Pengawal Urus Sisanya" Kaisar Lin mulai membaik badannya kemudian ia meninggalkan tempat duduknya.
Sorot mata Putra Mahkota Lin Tian semakin lama semakin memudar, darahnya yang mengalir deras membasahi karpet membuat dirinya perlahan melemah, rasa dingin mulai menusuk bagaikan anak panah yang menghujani tubuhnya, hanya dalam hitungan menit Putra Mahkota Lin Tian talah kehilangan nyawa untuk selamanya.
Disamping itu Putri Lin Lin gemetar hebat dengan raut muka pucat dibalik kain penutup wajahnya.
__ADS_1