
Sementara itu Putra Mahkota Lin Tian hanya mengerutkan dahi dan juga mengigit jempol kanannya hingga berdarah-darah, ia seolah-olah sedang berfikir keras.
Ia terduduk di meja kerjanya, seraya memandangi berbagai macam sobekan kertas dan coretan tulisan yang berada di depan matanya.
Didalam ruangan yang gelap itu hanya ada Putra Mahkota dan asistennya.
"Terlalu ceroboh"
"Terlalu mencolok"
"Bukan ini"
"Siapa yang menulis sampah ini"
"Sial tidak ada harapan"
Lin Tian mulai melempar dan merobek-robek kertas itu hingga hancur berkeping-keping.
Kertas itu adalah berbagai macam saran yang didapat dari keluarga Tan dan beberapa anggota lainnya.
"Tuan Muda Lin Tian, mungkin lebih baik sekarang Anda beristirahat dulu" kata Asisten yang berdiri di samping Lin Tian.
__ADS_1
"Apakah dia masih berlatih?" Tanya Lin Tian sambil melirik ke arah asistennya.
"Semuanya sudah beres Tuan muda Lin Tian, sumberdaya yang Anda berikan kepada anak itu semuanya sudah ia gunakan dengan semaksimal mungkin" kata asistennya tersebut.
"Tidak, itu belum cukup" kata Lin Tian dengan nada berat.
Asisten tersebut menaikan alisnya keatas, matanya juga membesar namun ia mencoba tenang.
"Belum cukup katamu?, Saya yakin kekuatan Wong Punk, masih berada di atas rata-rata anak kecil biasa bahkan untuk bocah bertopeng yang ada di arena itu"
"Selain sumber daya yang kita berikan untuk Wong Punk terbilang fantastis, Wong Punk juga seorang anak berbakat, kami telah berusaha keras untuk menyelundupkan Wong Punk dari Wilayan Xing Selatan menuju Kerajaan Lin dengan begitu hati-hati"
Huhhhhh....
"Oi bocah kecil, bukankah kita sudah sepakat untuk membagi hasil"
"Lagipula aku juga sudah muak menjadi asisten palsu ini" kata Asisten itu sambil mengebrak meja milik Lin Tian.
Mata Lin Tian mulai melebar, ia mungkin telah lupa bahwa asistennya itu adalah seorang Keluarga yang berpengaruh di Kekaisaran Lin.
"Tentu saja aku tidak lupa, selama aku mendapatkan Lin Lin, aku akan memberikan semua kekuasaan ku kepadamu" kata Lin Tian dengan nada tegas.
__ADS_1
Huhhhh....
Asisten itu menghela nafas lega, ia kemudian mencoba mengontrol emosinya agar stabil kembali.
"Aku senang mendengarnya Tuan muda Lin Tian"
"Maaf atas ketidak sopananku"
"Baiklah sebagai permintaan maaf, aku akan memberikan Karu As ku kepadamu" Asisten itu mulai mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan sebuah rencana untuk mengalahkan Yu Zen.
Lin Tian mulai meraih kertas itu kemudian membaca secara perlahan-lahan, melihat setiap detail tulisan, memikirkan konsekuensi kesalahan, dan juga memikirkan setiap manfaat yang didapat.
"Hahaha......aku sudah lupa, bahwa kamu juga memiliki anak yang berbakat, namun umurnya sudah mencapai 30 tahun"
"Lagipula bukankah turnamen ini hanya dapat ikui oleh peserta 15 tahun kebawah?" Tanya Lin Tian dengan penuh penasaran.
"kartu As yang aku punya bukanlah anak ku sendiri, melainkan terletak di Cincin yang dimilikinya, karena Cincin itu memiliki kekuatan ilusi tingkat tinggi bahkan sang Kaisar Lin tidak dapat menyadarinya"
"Dengan begitu kita dapat menganti peserta yang nantinya akan melawan Bocah bertopeng itu tanpa ketahuan sedikitpun" kata Asisten tersebut dengan nada sombong.
"Baiklah...., mungkin hari ini aku dapat tidur nyenyak"sahut Putra Mahkota Lin Tian dengan nada puas.
__ADS_1