
Yu Zen mulai membuka matanya, sorot mata Yu Zen tertuju kearah Rusa surga yang masih dalam kondisi segar.
"Woahhh apakah kita akan makan lagi?" tanya Yu Zen dengan nada Bersemangat.
"Hahaha... tidak melainkan aku akan menjelaskan bagian-bagian paling penting dari tubuh Rusa Surga yang aku dapatkan ini"
Setelah beberapa jam Guru Fu menjelaskan dengan Begitu detailnya mengenai Bagian-bagian Rusa Surga.
"Apakah kau tau Yu Zen, kekuatan Fisik seseorang itu terbagi dari 2 aspek, yang pertama ketahanan tulang dan yang kedua kekuatan otot"
Yu Zen kebingungan hingga akhirnya mulai bertanya kembali.
"Jadi apa hubungannya dengan Rusa Surga itu Guru Fu?" Tanya Yu Zen dengan penuh penasaran.
"Tulang sumsum Rusa Surga dapat memperkuat Tulang manusia yang telah mengonsumsinya, kemudian dagingnya dapat memperkuat otot-otot manusia dan yang terakhir kotoran Rusa Surga dapat dijadikan sebagai Pil pengobatan tingkat 4" jawab Guru Fu Dangan nada jelas.
Yu Zen terkejut, ia tidak percaya bahwa khasiat Rusa Surga sangatlah luar biasa.
Pagi mulai berganti siang, dan siang mulai berganti sore, Yu Zen, Nin dan Nan akhirnya selesai melakukan latihan beladiri dasar.
"Fuhhhhh capeknya!" Kata Nin dengan nada mengeluh disisi lain Nan hanya terdiam membisu.
"Yu Zen akhirnya kamu dapat menguasai beladiri yang aku ajarkan" kata Guru Fu dengan nada bahagia.
Ilmu Beladiri yang diajarkan oleh Guru Fu hanyalah Beladiri tingkat dasar namun ada beberapa gerakan yang belum pernah Yu Zen lihat sebelumnya.
"Yu Zen, apakah kamu tau nama beladiri yang aku ajarkan?" Kata Guru Fu.
"Aku tau Guru Fu, beladiri yang Guru Fu ajarkan adalah beladiri dasar, namun ada beberapa gerakan tambahan" kata Yu Zen dengan pengetahuannya.
"Hahaha.... hampir benar Yu Zen" Guru Fu mulai menghela nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya kembali.
"Beladiri yang aku ajarkan kepada mu adalah Seni Beladiri Murni yang telah lama hilang selama 500 tahun yang lalu" kata Guru Fu dengan senyum lembut.
__ADS_1
"Beladiri Murni?" Tanya Yu Zen dengan penuh kebingungan.
Saat itu juga, Nin dan Nan mulai berdiri mendekati Yu Zen.
"Terimakasih Yu Zen nin" kata Nin sambil membendung air matanya.
"Haha... akhirnya kamu sudah menguasai Seni Beladiri Murni itu" kata Nan sambil menepuk pundak Yu Zen.
"Anak anak waktunya malam!" Kata Ibu Lin yang saat itu sudah mempersiapkan makanannya.
"Hore!!! Makan!" Teriak Nin dengan eksepsi pura-pura bahagia.
Ke lima orang itu akhirnya makan bersama seperti biasa namun pada saat-saat terakhir Guru Fu berkata.
"Yu Zen, kamu harus tetap menjaga Seni Beladiri itu ya agar selamnya tetap ada" kata Guru Fu dengan nada berat.
"Siap Guru!" Sahut Yu Zen dengan nada bersemangat.
"Yu Zen nan, jangan lupa jaga kesehatan" kata Nan dengan ekspresi Pura-pura bahagia.
"Terimakasih ya Nak sudah datang kemari" kata Ibu Lin sambil terduduk di samping Yu Zen.
Yu Zen yang tidak paham situasi itu seketika kebingungan setelah Nin mulai menangis kecil.
Hiks! Hiks! Hiks!
"Kenapa kamu menangis Nin?" Tanya Yu Zen dengan kebingungan.
"Nin, katanya kamu sudah berjanji untuk tidak menangis" kata Nan sambil mengelus-elus kepala Nin.
Hanya beberapa menit kemudian tubuh mereka berempat mulai memudar seperti bayangan secara perlahan.
"Kenapa Tubuh kalian memudar?" Tanya Yu Zen dengan nada panik.
__ADS_1
"Hahaha.... jangan lupa pesanku tadi" kata Guru Fu dengan nada berat.
"Yu Zen nin, jangan sampai melupakan aku... Hiks!....Hiks!...Hiks!" kata Nin sambil menangis sedih.
"Yu Zen nan, terimakasih telah menemani kami" sahut Nan dengan menahan tangis.
"Nak Yu Zen, terimakasih telah membatu Keluarga Kami, akhirnya kami dapat meninggalkan dunia ini dengan tenang" kata Ibu Lin dengan nada lembut.
Tubuh Keempat orang tersebut makin lama makin memudar Hingga akhirnya hanya tersisa bayangan-bayangnya saja.
"Kenapa kalian pergi secepat ini Hiks!, Padahal aku juga ingin bermain dengan kalian, jika saja aku mengetahui ini aku tidak akan pernah berlatih segiat ini... Hiks!" Sahut Yu Zen dengan nada berat sambil meneteskan air mata kesedihan.
"Hahaha... justru aku lebih suka Yu Zen yang berlatih dengan giat, dan jangan lupa pelajari Juris yang Guru ajarkan kepadamu ya nak" kata Guru Fu dengan nada bahagia.
Yu Zen tidak menyangka bahwa makan malam bersama ini adalah makan malam terakhir yang ia jalani.
Ia berdiri sambil menunduk hormat.
"Terimakasih semua pengalaman, kebahagiaan, kekeluargaan, kesenangan, kedisiplinan, seta kasih sayang yang telah kalian berikan kepada saya"
"Sekali lagi Terimakasih!" Kata Yu Zen dengan nada berat
"Hahaha... sama-sama, akhirnya aku benar-benar bisa tenang" kata Guru Fu hingga akhirnya mulai menjadi butiran-butiran cahaya.
Disisi lain Nin mulai berlari kemudian mencium pipi Yu Zen hingga akhirnya ia juga berubah menjadi butiran-butiran cahaya.
Dalam sekejap saja mereka berempat sudah menghilang diterpa angin malam.
Gubuk yang saat ini ia tinggali berubah menjadi hutan belantara, meja makan yang sering Yu Zen gunakan menjadi sebuah tumpukan batu besar.
Ia tidak menyangka rasanya akan sesakit itu mengingat ia belum benar-benar bersiap jika sewaktu-waktu berpisah dengan mereka.
Yang tersisa hanyalah daging Rusa Surga yang masih utuh.
__ADS_1