
Didalam sebuah Paviliun megah milik Putri kerajaan Lin, Lin Lin terbaring di ranjang kamarnya yang lembut dan nyaman, ia melepaskan kain penutup wajah miliknya, wajahnya terlihat sangat puas setelah Yu Zen mempermalukan Putra Mahkota yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.
Sebenarnya Lin Lin tidak menginginkan sebuah pertaruhan ini, mengingat taruhan ini adalah sebuah tradisi keluarga kerajaan, taruhan itu hanya diketahui oleh 3 orang, Kaisar Lin, Putri Lin Lin dan Putra Mahkota Lin Tian.
Disebuah ruangan yang tertutup disaksikan oleh Kaisar Lin, Putra Mahkota Lin Tan dan Putri Kaisar Lin mulai membuat perjanjian.
Saat itu Lin Tian menginginkan Lin Lin menjadi budak pemuas nafsunya.
Sang Kaisar Lin yang mendengar perkataan itu mulai gelap mata setelah melihat anak laki-laki pertamanya menginginkan hal itu kepada putrinya sendiri namun ia hanya pasrah menerimanya.
Disamping itu Lin Lin terkejut sekaligus tidak percaya setelah mendengar perkataan Kakaknya, kemudian Lin Lin meminta menjadi pewaris tahta selanjutnya agar dapat menghukum kakaknya.
Perjanjian itu ditandatangani dengan 3 tetesan darah keluarga kerajaan, dengan begitu perjanjiannya sudah menjadi resmi.
Mereka bertaruh melalui sebuah turnamen Beladiri Pemula yang akan di wakilkan oleh peserta pilihannya.
Waktu silih berganti, malam yang dingin mulai terasa, Yu Zen mencoba bermeditasi di atas atap bangunan dengan maksud dapat meningkatkan Jurus Ketahanan Kura-kura miliknya.
__ADS_1
Namun hanya beberapa saat saja Dong Deng mendekati Yu Zen dengan melayang di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan di belakang ku?" Tanya Yu Zen yang masih berkonsentrasi.
"Anak ini barusan mendeteksi hawa keberadaan ku?" Dong Dengan terkejut dengan penuh kebingungan.
"Bagaimana mungkin anak berusia 9 tahun dapat mendeteksi hawa keberadaan ku dengan begitu mudahnya?" Batin Dong Deng.
"Nak siapa kau sebenarnya?"
Yu Zen yang mendengar ucapan Lin Lin mulai melompat dari atap bangunan menuju ke rumput yang ada dibawahnya.
Dong Deng kemudian terkejut kedua kalinya, pasalnya atap bangunan itu berada di ketinggian 20 meter dari kepermukaan tanah, namun Yu Zen dapat mendarat tanpa luka sedikitpun, melainkan seolah-olah seperti melayang di udara.
"Bukankah itu Jurus berjalan di Udara?, Tidak tidak, tidak mungkin anak berusia 9 tahun itu dapat menguasai jurus yang harus mengunakan tenaga Spiritual yang cukup besar" batin Dong Deng.
Dong Deng pun mulai mengikuti Yu Zen dari belakang, ia mencoba merasakan tekanan tenaga Spiritual yang dimiliki oleh Yu Zen, namun hal mengejutkan membuat Dong Deng tidak dapat mencerna semuanya.
__ADS_1
"Anak ini tidak memiliki tenaga Spiritual, bahkan aku dapat merasakan bahwa Jalur Kultivasi anak ini telah dirusak" Dong Deng menelan ludahnya, selama 200 tahun ya hidup baru kali ini Dong Deng melihat anak kecil yang misterius.
Dengan cepat Lin Lin mulai menemui Yu Zen, ia melihat Pakaian yang dikenakan Yu Zen sudah di ganti dengan pakaian yang baru, pakaian pilihan yang dipilih oleh Lin Lin.
"Kenapa kamu memanggilku?" Tanya Yu Zen dengan penuh penasaran.
"Aku ingin makan malam bersamamu di tempat ku" kata Lin Lin dengan nada lembut.
"Baiklah"
Setelah beberapa menit berlalu mereka berdua mulai makan di atas meja makan yang terbuat dari marmer.
Lin Lin mulai mengamati cara makan Yu Zen yang tidak biasa, karena ia makan melalui lubang yang ada di depan topengnya.
Disamping itu Lin Lin juga makan sambil mengunyah beberapa makanan dibalik kain penutupnya.
Dong Deng yang saat itu mengikuti Yu Zen hanya terdiam di balik pintu depan karena tidak ingin mengganggu Putri Lin Lin saat makan.
__ADS_1