
Pernahkah kalian berpikir bagaimana cinta yang kalian miliki terhadap seseorang?
Terkadang kata "cinta" dan "mencintai" itu sangat mudah untuk diumbar.Tapi, nyatanya tidak untukku.
Ya. Aku mencintai sahabat masku dalam diam sejak SMA, saat di mana mas Tama mengajak mas Jefri pulang ke rumah.
Entahlah aku tidak bisa berpikir, apakah aku benar-benar mencintainya dengan tulus atau hanya sekedar rasa kagumku terhadapnya. Tapi, yang jelas senyumannya membuatku jatuh cinta saat pertama kali kita bertemu.
Katakan jika aku mempunyai hati yang lemah dan itu memang benar adanya. Tak bisa ku pungkiri, hatiku lemah saat pandangan mata kami bertemu kala itu dan aku mengaku kalah saat dirinya hanya menganggapku sebagai adiknya.
Hahaha, terlihat menyedihkan bukan?
Karena hanya aku yang jatuh cinta, aku putuskan untuk memilih menyimpannya seorang diri dan tidak memberi tahu kepada siapapun termasuk mas Tama dan juga sahabat-sahabatku, Kiara dan Ajun.
Tidak. Aku tidak pernah menyesal untuk mencintainya, sama sekali tidak pernah terpikir olehku untuk menyesalinya. Bagaimanapun, aku justru berterima kasih karena mas Jefri aku dapat merasakan indahnya cinta.
Dia, cinta pertamaku.
Apa kalian kira aku tidak berusaha?
Kalian pernah mendengar pepatah ini bukan?
"Cinta yang tulus akan menjadikanmu sebagai pendo'a yang handal."
Aku mencintainya. Itu sebabnya, aku tak akan pernah selesai mendo'akan keselamatan dan kebahagiaan untuknya.
Apakah ini bisa dikatakan jika aku tulus mencintainya?
Jatuh cinta dalam diam, berarti memendam sejuta perasaan dalam hati. Aku tahu betul resiko apa saja yang akan aku tanggung kelak termasuk rasa sakit dan juga sedih yang teramat dalam ketika dia bersanding dengan wanita lain.
Jika memang memendam rasa kepada mas Jefri sangat menyakitkan, entah mengapa aku enggan untuk berhenti. Aku tahu ini kesalahanku karena memilih untuk memendamnya sendirian. Tapi, aku juga tidak bisa memaksakan orang lain untuk membalas perasaanku kan?
"Saat kamu hanya bisa memendam perasaan kepada seseorang, saat itu juga kamu harus siap melihat dia bersama dengan yang lain."
Kalimat itu yang selalu membuatku semakin berpikir untuk berhenti. Namun, sayangnya sangat sulit untuk aku lakukan.
Namanya Jefri, laki-laki yang membuat dunia dan hatiku terombang-ambing. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan mas karena dirinya adalah sahabat mas Tama, teman kuliah sekaligus teman kerja masku.
Dia adalah pangeran tampan yang baik hati. Mungkin aku terlalu berlebihan, tapi itu faktanya. Bagiku seorang lelaki berparas tampan jika tidak dilengkapi dengan kepribadian yang baik akan berakhir sia-sia.
__ADS_1
Mas Jefri adalah orang yang supel, perhatian, sopan, dan juga ramah. Aku tidak mengada-ngada karena aku memang dekat dengannya.
Sudah aku katakan sebelumnya, aku ini adik baginya jadi apapun itu dia akan bercerita padaku termasuk ketika dia sedang menyukai seseorang.
Apakah aku cemburu ketika mendengar dia menyukai orang lain?
Sangat! tentu saja, tapi mau bagaimana lagi?
Aku tidak ingin mas Jefri menghilang dari hidupku. Jika memang sudah waktunya, biarkan aku yang menghilang dari kehidupannya.
Jatuh cinta memang membuat kita dalam situasi kebingungan, terkadang berbunga-bunga bahkan menguras air mata. Sejak awal aku tidak ingin menyukainya karena aku sadar dia terlalu sulit untuk ku gapai. Namun, cinta itu datang dengan sendirinya, tidak bisa aku cegah dan aku tidak bisa memilih ke mana hati ini akan berlabuh.
Aku masih meyakini ini : "Cinta bukan hanya dua orang yang saling mencintai saja, melainkan ada campur tangan Tuhan di dalamnya."
Jika memang mas Jefri itu jodohku, sejauh apapun aku melangkah kita akan tetap bersatu nantinya dan juga bisa sebaliknya, seperti yang aku katakan tadi, aku akan menghilang dari hidupnya hanya tinggal menunggu waktunya saja.
Biarkan aku egois untuk kali ini karena aku masih ingin bersamanya, meskipun hanya dianggap sebagai adik olehnya.
Aku mengutamakan kebahagiaan mas Jefri di atas kebahagiaanku. Apa aku telihat bodoh? katakan yang jujur meski itu menyakitiku sekalipun.
"Al?" aku terkejut kala mas Tama memasuki kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, bahkan langkah kakinya pun tidak terdengar sama sekali di telingaku.
"Ada masmu di bawah." ucapnya membuatku mengerutkan kening, pertanda tidak mengerti akan ucapannya.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
Aku memberikan tanda dengan clear bookmark pada halaman novel yang sempat ku baca.
"Jefri, siapa lagi? masmu kan ada dua. Cepat turun."
"Oh, ok."
Meletakkan novelku di samping nakas, mas Tama menarik lenganku pelan saat aku berjalan mendahuluinya. "Kamu yakin kalian nggak ada hubungan apapun?" tanya mas Tama, wajahnya terlihat penasaran menunggu jawaban dariku.
"Seperti yang mas lihat, memangnya apa lagi?"
"Kamu itu sudah dewasa. Mas dan Bunda nggak melarang kamu untuk jatuh cinta dan memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Kamu mas ijinin untuk memiliki kekasih, mas percaya kamu bisa jaga diri." tuturnya yang membuatku terlihat heran ke mana arah pembicaraan mas Tama kali ini.
"Kamu dapat salam dari Dirga." katanya memberitahu, "apa kamu nggak mau mencobanya?" lanjutnya.
__ADS_1
"Maksud mas?"
"Dirga menyukai kamu dan mas rasa dia baik dan juga bertanggung jawab. Apa salahnya kalau kalian mencoba lebih dekat."
"Lantas?"
"Mas, kalaupun dia menyukaiku bukan berarti aku juga menyukainya kan? aku nggak bisa melarang dia untuk menyukaiku, tapi aku juga nggak bisa memaksa hatiku untuk menyukainya. Mas percaya padaku kan? aku tahu mana yang terbaik. Biarkan kepada siapa hati ini akan berlabuh dengan sendirinya." jelasku dengan nada santai, seolah aku sudah khatam masalah percintaan padahal aku belum pernah berpacaran sama sekali.
"Sebenarnya aku telah menyukai laki-laki lain mas dan itu sahabatmu sendiri" timpalku dalam hati.
Mas Tama mengusak suraiku lembut, "Ternyata kamu benar-benar sudah dewasa ya? duduk di bangku kuliah membuat adik mas menjadi pintar seperti ini, bahkan mas nggak mengenal Alleta si manja dan si cengeng lagi." tuturnya.
Mendapat jawaban darinya membuatku mencubit lengannya pelan. Sebenarnya mas Tama berniat memujiku atau menghinaku?
"Yaudah, cepat kita turun."ajaknya.
Saat menginjakkan kaki di anak tangga terakhir, aku melihat mas Jefri yang menatapku, tak lupa dengan senyum yang terpatri di bibirnya. Senyumnya selalu menjadi senyuman terfavorit yang pernah aku lihat.
"Hai Al." sapa Mas Jefri dengan senyum manisnya saat melihatku menuruni anak tangga.
"Hai mas, ada perlu?"
"Iya, aku butuh bantuan kamu. Bisa ikut aku sebentar? janji nggak akan lama. Tam, gue pinjam Alleta ya?" ujarnya meminta ijin.
Aku melirik ke arah mas Tama yang sedang sibuk dengan ponselnya, kemudian Ia mengalihkan perhatiannya kepadaku dan juga mas Jefri. "Mau ke mana? ada urusan apa? sama siapa?" tanyanya beruntun.
Mas Tama memang selalu seperti itu. Dirinya akan menanyakan beberapa pertanyaan secara mendetail saat aku akan pergi, entah aku pergi sendiri ataupun pergi bersama dengan yang lain.
"Tanya satu-satu." protes mas Jefri, aku terkekeh mendengar balasannya dan melihat raut wajahnya yang terlanjur kesal sedang menatap mas Tama, sepertinya akan terjadi perang mulut.
"Gue cuma takut terjadi sesuatu sama adik gue, wajar kan kalau gue bertanya?"
"Alleta jalannya sama gue Tam, lagi pula kita juga nggak akan macam-macam." sahut mas Jefri.
Mas Tama menyanggah kalimat mas Jefri dengan penuh penekanan. "Iya, gue percaya sama dia kalau dia nggak akan berbuat yang iya-iya tapi, gue nggak percaya sama lo. Bisa aja lo khilaf sama adik gue."
"Alleta adik gue juga, mana mungkin gue macam-macamin dia." timpal mas Jefri.
See?
__ADS_1
Hampir 5 tahun lamanya, mas Jefri tetap menganggapku sebagai adiknya. Hati bersabar sedikit lagi ya?