Dear Mas J

Dear Mas J
Waktu yang Menjawab


__ADS_3

Ku tolehkan wajahku saat merasakan kakiku yang sedang ditendang pelan oleh Ajun, "Ada apa?" tanyaku ketus dan dihadiahi tatapan tajam dari anak-anak lain, aku lupa diri bahwa kami sedang di perpustakaan saat ini.


"Kita keluar karena sebentar lagi kelas kak Dirga." bisiknya.


Aku mengerutkan keningku, mengapa menjadi kelas kak Dirga? baru ingin melontarkan kalimat dengan pertanyaan lain Ajun sudah menarikku keluar menjauh dari area perpustakaan.


"Ajun kenapa sih? bukunya juga belum dirapihin, kasihan sama yang jaga perpus hari ini." ucapku memarahinya.


"Udah diam, lo belum tau kak Dirga galaknya seperti apa."


"Sedari tadi lo menyebut kak Dirga padahal nggak ada korelasinya, setelah ini kelas pak Arka Jun dan sejak kapan kak Dirga mengajar?"


"Wah main lo kurang jauh, kak Dirga yang gue akui tampan dan pintar itu sudah lama menjadi asdosnya pak Arka, makanya punya grup itu di baca Ale jangan cuma di anggurin sampai lo nggak tahu pak Arka hari ini ada keperluan penting dan di gantiin kak Dirga."


Masa sih? aku meraih ponselku di tas dan memastikan apa yang di katakan Ajun, membuka room chat grup info program studiku kemudian merutuki kebodohanku sendiri, tidak biasanya aku melewatkan info sepenting ini tapi selama aku mengenal kak Dirga, aku tidak pernah mengetahui dia yang merangkap sebagai asisten dosen, mungkin karena aku yang tidak ingin tahu menahu mengenai hidupnya.


"Sorry Jun tadi di cafe tempat gue kerja lagi banyak pengunjung jadi gue nggak sempat buat cek ponsel."


Astaga ada apa dengan bibirku yang dengan mudahnya menceritakan kepada Ajun bahwa aku bekerja. Ajun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapkan tubuhnya di hadapanku.


"Lo kerja?"


"Sejak kapan?" tanyanya lagi.


"Please jangan kasih tahu yang lain." kataku memohon.


"Jadi kalau lo nggak keceplosan seperti tadi lo nggak akan cerita ke gue, begitu? kita ini apa sih Al? lo paham kan arti seberapa lama kita bersama? gue nggak pernah menutupi apapun dari lo termasuk soal keluarga gue yang berantakan, tapi lo? apa lagi yang lo tutupin dari gue?"

__ADS_1


"Bukan kayak gitu Jun, gue nggak bermaksud untuk merahasiakan ini sama lo. Gue cuma belum sempat cerita lagipula ini hari pertama gue part time jangan marah ya?"


Ajun tak menghiraukan ucapanku, dirinya berbalik dan berjalan menjauhiku, aku mengekorinya dan menarik lengannya pelan namun ditepis olehnya dengan kasar, sepertinya Ajun marah padaku lebih tepatnya kecewa.


"Jun Sorry lain kali gue nggak akan seperti ini lagi. I swear! maafin gue ya? gue traktir deh nanti baskin robbins selama seminggu, bagaimana?" tawarku berharap hati Ajun kembali luluh.


"Oke." balasnya singkat, aku tersenyum lega, seorang Ajun akan luluh hanya dengan se cup baskin robbin. Tidak masalah untukku setidaknya aku memiliki penghasilan saat ini.


"Gampangan banget lo cuma di kasih baskin aja udah luluh." sarkas seseorang yang tiba-tiba sudah bergabung dengan kami.


"Berisik lo baru juga datang. Dari mana saja tuan putri?"


"Baru balik nemenin kak Jefri makan siang dan di ajak ke kantornya, dari pada gue kena amukan pak Layandrs lebih baik gue membolos kan? tapi Al kenapa Ajun marah sama lo dan kenapa lo harus minta maaf sama Ajun?"


Aku melirik Ajun bermaksud untuk meminta bantuan. "Dia bohongin gue makanya gue marah." bukan itu jawaban yang mau aku dengar Ajun, jawabanmu justru membuat Kiara semakin penasaran dan bertanya-tanya.


"Kenapa bisa dia berbohong?"


Ajun jika kamu tidak menyukainya jangan diperlihatkan seperti itu, kasihan Kiara. Bukan salahnya juga jika dia menyukai orang yang aku cintai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku menatap malas mas Jefri di parkiran yang aku yakini sedang menunggu Kiara, aku berpamitan kepada Ajun untuk pergi meninggalkan kampus lebih awal karena aku sedang terburu-buru harus melanjutkan pekerjaan part time ku di cafe kak Sean, masih ada 2 jam lagi sisa waktuku bekerja di sana.


"Lewat jalan lain aja deh." gumamku pelan lalu berbalik arah menjauhi parkiran.


"Kamu mau ke mana?" tanya mas Jefri menahan lenganku, secepat itu kah dia bisa sampai di tempatku berdiri? aku meliriknya malas.

__ADS_1


"Pulang kak."


"Bareng." sepasang mataku tergerak untuk menatap mata mas Jefri, meminta penjelasan apa maksudnya bersama, memintaku untuk pulang bersama mereka begitu?


"Aku sedang terburu-buru mas, ku rasa Kiara masih lama untuk menyelesaikan kelasnya." ucapku menolaknya secara halus.


"Siapa bilang mas menunggu Kiara? mas ke sini karena ingin menjemput kamu. Ada yang harus kita bicarakan karena kamu terkesan menghindari mas terus. Soal di rumah sakit waktu itu aku mau minta maaf, seharusnya mas berdiskusi dulu sebelum menjawab pertanyaan Tama." terlambat mas mengapa baru sekarang setelah sehari terlewat? wajahnya terlihat frustasi membuatku menghela nafas pelan dan menyingkirkan tangannya dari lenganku.


"Aku udah maafin dan nggak ada yang perlu dibahas lagi mas, lagi pula itu hanya kesalahpahaman biasa menurutku. Masalah kak Karin biar nanti aku yang jelasin, mas nggak perlu khawatir baik aku dan dia nggak akan mengganggu hubungan mas dengan Kiara." aku tahu hal yang dicemaskan mas Jefri tentang sahabatnya kemarin karena dari cerita yang ku dengar kak Karin memarahi mas Jefri karena dia tahu dari mas Tama jika kami putus.


"Dari mana kamu tahu hubunganku dengan Kiara? apa sahabatmu sudah menceritakannya?"


"Dia belum bercerita apapun padaku mas tapi dari cerita yang aku dengar mas Jefri nggak akan mencampuri urusan kantor dengan kehidupan percintaan, apalagi membawa seorang wanita ke kantor jadi aku bisa menyimpulkan bahwa Kiara itu berarti bagimu. Selamat ya mas semoga kalian selalu bersama." kataku kemudian memberikan senyum terbaikku untuknya, senyuman manis terbit dari bibir dan kedua mata mas Jefri.


"Ale, kamu selalu memahamiku lebih dari yang mas pikirkan."


"Tentu mas, aku selalu memahami dirimu tapi sayang sekali kamu nggak pernah memahamiku." cicitku pelan berharap mas Jefri tidak mendengarnya.


"Mas antar kamu pulang sekarang." mas Jefri menarik lenganku menuju parkiran tempat di mana aku melihatnya menungguku tadi.


"Aku harus ke tempat lain mas."


"Kemanapun, mas antar kamu ya?"


"Ak-aku udah di jemput temanku, ya temanku udah menjemputku di depan gerbang mas. Mas bisa menunggu Kiara, kayaknya sebentar lagi kelasnya selesai. Aku pamit ya mas."


Tanpa menunggu jawaban darinya aku berlari menjauh dari mas Jefri ternyata semakin aku berusaha untuk melupakan cintaku padanya kenangan-kenanganku bersamanya dulu semakin menghantui.

__ADS_1


Melupakan bukanlah hal yang sepele karena membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar dan aku menyadarinya mengapa aku tidak mencoba untuk segera move on? apa aku harus meminta bantuan kepada Ajun untuk mengenalkanku kepada teman laki-lakinya.


Ah, tidak. Mungkin aku terlalu berlebihan setidaknya dengan kesibukanku bekerja part time dan mengurus bunda bisa membuatku tak memikirkan perasaanku dan juga mas Jefri.


__ADS_2