
Keheningan melandaku dan juga kak Sean saat kami dalam perjalanan menuju rumahku, setelah mencari gaun untukku yang awalnya aku sempat menolaknya tapi kak Karin memaksaku untuk menerimanya, aku di buat bungkam kala kak Karin yang tiba-tiba meminta pulang bersama mas Jefri dengan Kiara tentunya.
Aku tak mengerti dengan sikap kak Karin dan juga dengan sikap mas Jefri yang mengijinkan kak Karin untuk pulang bersamanya, mereka membiarkanku untuk pulang berdua dengan kak Sean? aku sedikit penasaran apa yang akan di lakukan kak Karin ketika mengetahui sahabatnya jalan bersama dengan orang lain. Bagaimana jika mas Jefri mengakui kebohongannya tempo hari?
Aku melirik ke arah kak Sean yang sedang fokus menyetir, aku perhatikan sejak tadi Ia seperti menahan sesuatu... maksudku Ia ingin bertanya sesuatu kepadaku tetapi dia menahannya.
"Kak." panggilku memecah keheningan. Kak Sean menoleh ke arahku.
"Ya?" balasnya singkat kemudian kembali melihat jalanan yang cukup licin karena belum lama ini turun hujan.
"Apa sebaiknya kita berhenti? hujannya terlalu lebat." kataku memberi saran kepadanya, aku hanya takut jika konsentrasi kak Sean terganggu.
"Mau mampir ke apartemenku sebentar?" tanyanya membuatku tersentak.
"Oh, maksudku bukan seperti itu. Apartemenku nggak jauh dari sini cukup membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai ke sana, kita bisa istirahat sebentar sampai hujan reda."
Aku menimang saran yang diberikannya, jika aku memaksa terus berjalan dengan cuaca yang seperti ini bahaya juga untuk kami, jadi menyetujui sarannya tidak terlalu buruk lagipula aku percaya dengannya tidak mungkin kak Sean melakukan hal yang macam-macam padaku mengingat dia dan keluarganya sudah terlalu baik kepadaku.
"Kamu mau aku meminta Joana untuk mampir? kebetulan unitnya ada di gedung yang sama."
"It's okay kak lebih baik kita menunggu sampai hujan reda."
"Good choice." balasnya menatapku.
Semoga pilihanku tepat dan tidak menimbulkan masalah nantinya. Aku melihat gedung tinggi menjulang di depanku, gedung yang cukup mewah menurutku.
Kekayaan mereka memang tidak perlu diragukan lagi karena aku tahu berapa biaya yang dikeluarkan untuk memiliki unit apartemen ini.
"Tunggu sebentar." ucapnya kemudian tangannya terulur untuk mengambil payung yang ada di jok belakang. Kak Sean keluar dari mobil dan mengitari mobilnya guna membuka pintu di sampingku serta memayungi kami agar tidak terkena tetesan hujan, jika yang melakukan ini adalah mas Jefri mungkin wajahku akan merona karena malu.
"Mendekat." pintanya kemudian menarik bahuku untuk mendekat ke arahnya karena hujan semakin deras membuat bajuku semakin basah. Yang aku herankan mengapa kak Sean tidak memarkirkan mobilnya di basement?
__ADS_1
Aku melirik kak Seab yang menekan tombol 11 pada lift kemudian menyeka rambutnya yang basah, bayangkan saja payung sekecil itu tak akan muat untuk melindungi tubuh kami berdua sampai kemeja putih kak Sean dan rambutnya pun ikut menjadi basah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tidak. Alleta apa yang sedang kamu pikirkan jangan berpikiran yang tidak-tidak, laki-laki yang ada di hadapanmu saat ini adalah bosmu sendiri. Aku menggoyangkan kepalaku ke kiri dan ke kanan guna menghilangkan pikiran aneh yang sedang berputar di kepalaku, sialnya kak Sean sedang menatapku kebingungan.
"Ada apa Al? Kamu kedinginan?"
"Nggak kak." balasku cepat. Dentingan lift menyadarkanku untuk kembali mengekori kak Sean menuju unitnya, setelah membuka unitnya kak Seab mempersilahkan aku untuk masuk.
"Kamu bisa duduk di sofa itu." tunjuknya pada sofa yang berada di depan Televisi besar. Kak Sean berjalan ke suatu ruangan yang aku yakini itu adalah kamarnya.
"Di minum." ucapnya seraya menyodorkan se cup cokelat panas ke arahku. Aku melirik ke arahnya yang sudah berganti pakaian dan sedang meminum sekaleng cola.
"Kamu mau ini?" tanyanya saat mendapatiku masih menatapnya.
"Nggak, terima kasih." balasku sedikit malu dan merutuki kebodohanku hari ini yang tidak fokus jika berada di dekat kak Sean, sepertinya aku sedang tersihir oleh ketampanannya.
Aku ingin menolaknya tetapi kak Sean sudah lebih dahulu berjalan ke arah kamarnya, mungkin dirinya paham jika aku merasa tak nyaman dengan pakaianku yang sedikit basah.
Setelah kembali dari kamar dengan membawa sweater yang ada di lengannya dan juga handuk, kak Seab berjalan menghampiriku. "Sepertinya hujan ini akan lama, kamu bisa berganti pakaian dengan ini di kamar mandi sana." tunjuknya ke arah sudut ruangan. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Al jangan lupa untuk mengabari Jefri aku takut dia salah paham kepadaku." katanya.
Kembali melangkah setelah mendengar ucapan kak Sean barusan, aku dibuat sedikit kesal, apa aku harus mengabari mas Jefri jika aku sedang berada di apartemen kak Sean? tidak ada gunanya, lagi pula biarkan saja cukup aku mengabari bunda dan meminjam ponsel kak Sean karena aku lupa mencharge ponselku dari semalam.
"Mengapa tidak diangkat kak?" tanyaku pada kak Sean, sejak tadi ponselnya sangat berisik, kak Sean hanya melirik ke arah layar ponselnya dengan malas.
"Tanpa nama, aku tidak sembarangan menerima telepon." balasnya acuh.
"Siapa tahu itu penting." kataku, aku sedikit mencodongkan tubuhku ke arahnya guna melihat nomor yang tertera di layar ponselnya, aku terkejut kala aku mengenal siapa pemilik sim card yang sedang menghubungi kak Sean.
__ADS_1
"Kak itu nomor masku." mata kak Sean sedikit membola dan segera menyentuh warna hijau di layar.
"Ya?" sapa kak Sean.
"Ada, apartemen gue." balasnya yang aku tidak tahu mereka berbicara tentang hal apa, sepertinya mas Tama sedang menanyakan keberadaanku.
"Tunggu." kak Sean mengulurkan ponselnya kepadaku. "Tama ingin berbicara denganmu." ucapnya tanpa suara. Aku mengambil ponsel dari tangannya dan mengarahkannya ke telingaku.
"Pulang." nada bicaranya sangat ketus sekali.
"Alleta Anjani, aku tahu telingamu masih berfungsi dengan baik. Cepat pulang atau mas jemput."
"Diluar sedang hujan deras."
"Tunggu di sana, mas jemput kamu bersama Jefri." mengapa harus pergi bersama dengannya.
"Di luar hujan deras mas, setelah reda aku pastikan aku segera pulang. Nggak perlu menjemputku. Aku aman bersama kak Sean."
"Apa isi kepalamu Ale? bisa-bisanya hanya berdua dengan Sean di Apartemen miliknya? Kalau saja Jefri nggak menanyakan di mana keberadaanmu, mas nggak akan tahu tentang ini."
Sungguh aku malas meladeninya. "Aku tutup, mas Tama ataupun mas Jefri nggak perlu menjemputku atau aku yang akan pulang sendiri." ancamku kesal kemudian mematikan sambungan teleponku secara sepihak. Aku menghela nafas dan kembali melirik ke arah kak Sean yang sedang menatapku.
"Kamu sedang bertengkar dengan Jefri, Al?"
"Menurut kakak?" tanyaku balik.
"Iya, kalian seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar." balasnya yang membuatku tersenyum tipis.
"Kami berdua sudah putus dan memilih jalan masing-masing jadi tolong kak Sean jangan membawa namanya lagi ke dalam obrolan kita."
"Sorry Al, aku nggak tahu tentang itu mau aku buatkan makanan untukmu? siapa tahu bisa membuat hatimu sedikit lebih tenang." senyum itu, ini pertama kalinya aku melihat senyuman tulus kak Sean yang mungkin akan menjadi candu bagiku. Aku tahu dia sedang menghiburku saat ini. Terima kasih kak.
__ADS_1