
Pagi ini aku di kejutkan dengan kedatangan kak Karin yang menjemputku di rumah, begitupun juga mas Tama yang dibuat heran dengan kedatangan kak Karin sepagi ini.
Aku tak membalas pertanyaan mas Tama mengenai kedekatanku dengan kak Kari , apa itu terlalu penting untuknya? bukankah mas Tama sendiri yang memintaku untuk menjauhi Jessie bukan untuk menjauhi kak Karin juga kan?
"Apa nggak ada kesibukan lain hingga sepagi ini mas udah ada di sini?" kataku sarkas ke arah mas Jefri.
"Nak Jefri menginap di rumah sayang, bukannya itu udah menjadi hal yang biasa? semalam kamu pulang jam berapa dan kenapa nggak memberikan kabar baik kepada bunda atau masmu?" tanya bunda bertubi-tubi.
Aku hanya melirik malas ke arah keduanya, maksudku mas Jefri dan mas Tama. Kak Karin yang ada di sebelahku pun terlihat heran dengan sikapku yang tak biasa.
"Nggak bun, dia juga punya kepentingan lain seharusnya nggak perlu berlama-lama di sini."
"Ale, ada apa denganmu? Jefri sahabat mas, mengapa kamu mempermasalahkannya sekarang?"
Benar juga ucapan mas Tama barusan, mengapa aku mempermasalahkannya sekarang? padahal sejak dulu mas Jefri selalu menginap di rumah, bahkan hingga berhari-hari tapi aku tak masalah akan hal itu.
"Maaf, mungkin aku hanya kelelahan. Kak Karin bisa kita pergi sekarang?" kak Karin hanya menganggukkan kepalanya singkat, kurasa Ia juga kebingungan untuk bersikap setelah melihat sikapku barusan.
"Aku pergi ya bunda, jam 12 aku udah ada di rumah." pamitku kepada bunda tanpa menoleh ke arah mas Tama dan juga mas Jefri. Kak Karin mengekoriku setelah berpamitan kepada mereka. Aku masih mendengar suara bunda yang bertanya kepada mas Tama mengenai sikapku pagi ini.
"Mas kamu bertengkar dengan adikmu?" terserah dengan respon mas Tama nanti, aku kembali mensejajarkan tubuhku dengan kak Karin dan merangkulnya untuk berjalan keluar rumah.
"Why did you turn right? bukankah cafe Kak Sean ke arah sana?" tunjukku ke arah di mana seharusnya kami tidak berbelok kanan.
"Aku udah meminta ijin untukmu hari ini kepada Sean." ucapnya santai, yang benar saja aku baru masuk kerja sehari dan sudah meminta ijin.
"Kak, nggak enak dengan pegawai kak Sean yang lain, apa kata mereka nanti?"
"Kamu nggak perlu khawatir tentang mereka Al, kalau memang mereka merundungmu beritahu aku ataupun Sean. Lagi pula Sean juga meminta kita untuk memilihkan kemeja dan jas untuk menghadiri acara anniversary orang tuanya. Kamu juga harus datang ya."
Mengapa aku juga harus datang? padahal aku baru mengenal mereka.
"Nggak ada penolakan, Sean sendiri yang memintaku untuk mengajakmu. Nggak perlu undangan biar nanti malam Sean yang menjemputmu di rumah.
"Tapi kak ini acara keluarga kalian, aku takut nanti mengacaukan acaranya." ucapku lirih.
__ADS_1
"Kamu lupa, kamu kan juga keluargaku. Jefri juga pasti datang jadi kamu nggak akan merasa asing di sana, oh iya aku udah memarahinya habis-habis-an apa dia sudah meminta maaf padamu? berani sekali dia memutuskanmu."
Aku menatap kak Karin dengan takjub dari mana dia mendapat info mas Jefri yang memutuskanku? dan juga apa permintaan maaf mas Jefri kemarin karena permintaan dari kak Karin.
"Bukan dia yang memutuskanku kak, tapi memang kita yang sudah tidak ada kecocokan."
"Apa dia selingkuh? jawab jujur Al. Aku mengenal Jefri, dia nggak akan tega memutuskan wanita."
"Ada hal lain yang belum bisa aku ceritain."
"Baiklah, aku akan menunggunya sampai kamu mau cerita masalah ini."
"Tapi Ale saat Jefri mendekati wanita lain dalam waktu dekat, aku nggak akan mau menemuinya lagi."
"Mengapa begitu kak? sudah haknya untuk memiliki dan menyukai orang lain kan?"
"Aku nggak suka Jefri melukai hatimu Ale jadi biarkan dia mendapat balasannya dariku." tak ada keraguan sama sekali dari ucapan kak Karin barusan, aku semakin takut jika nantinya kak Karin mengetahui fakta yang sebenarnya dan mengetahui jika mas Jefri menjalin kasih dengan sahabatku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sean." Kak Karin melambaikan tangannya dan memanggil kak Sean untuk menghampiri kami.
"Kau sendiri yang meminta pergi di jam segini Sean padahal aku memintamu untuk berangkat lebih siang lagipula masih banyak toko yang belum buka di jam segini."
"Okay, ini memang salahku karena aku yang terlalu bersemangat. Ale maaf memintamu untuk kemari."
"Nggak perlu basa-basi cepat kita membeli jas dan kemeja untukmu setelahnya temani kami untuk membeli gaun." sahut kak Karin.
Tanpa membalas ucapan kak Karin, kak Sean segera berjalan meninggalkan kami. "Seperti itulah Sean Al, dia nggak akan bersikap manis padaku maupun Joana, padahal kami ini sepupunya tapi saat dia sudah menjadi budak cinta sikapnya bisa sangat mengerikan." tutur kak Karin membuat kak Sean kembali berjalan ke arah kami.
"Mengapa membicarakanku? bukankah kamu yang memintaku untuk bergegas?" aku hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Kak Karin menarikku ke salah satu toko dan meninggalkan kak Sean yang kemudian mengekori kami.
"Bagaimana dengan yang ini? dress code acara : Black and white kan? gunakan kemeja putih dan jas hitam saja.
"Aku bosan dengan jas hitam." tolak kak Sean malas. Aku berjalan menghampiri jas berwarna putih, tidak telalu buruk nenurutku.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ini? kak Sean bisa menggunakan kemeja hitam dan celana hitam tanpa dasi, menurutku terlihat bagus." ucapku membuat atensi kak Sean dan kak Karin beralih ke arahku.
"Terserah lo aja Sean, gue mau ke toilet. Ale kakak pergi sebentar." pamit kak Karin, aku membalasnya dengan anggukan singkat kemudian tersenyum ke arahnya.
Kak Sean menghampiriku dan meraih jas yang aku sarankan tadi. "Lumayan, seleramu lumayan bagus. Aku akan mengambil ini." ucap kak Sean tersenyum tipis kepadaku.
"Apa ingin dicoba terlebih dahulu? ruang ganti ada di sebelah sana." kata salah satu pegawai yang sudah berdiri di sebelahku.
"Tolong dengan kemeja hitam lengan panjang."
"Baik, silahkan ikuti saya Mas."
Kak Sean menarik lenganku untuk mengikuti pegawai tadi dan mengambil jas juga kemeja panjang yang di minta kak Sean tadi.
"Mbak bisa menunggu suaminya di kursi itu ya, saya tinggal untuk melayani tamu yang lain." ucapnya. Aku ingin memprotes ucapan pegawai tadi yang mengira jika kak Sean adalah suamiku, ingin bermimpi saja aku takut karena aku dan kak Sean sangat jauh berbeda.
"Ale? ternyata ini benar elo? gue pikir siapa." aku menoleh ke arah seseorang yang sangat ku kenali suaranya.
"Kiara? kamu di sini juga?" tanyaku sedikit terkejut, dari banyaknya toko mengapa aku bertemu dengan Kiara dan untuk apa Kiara berada di toko seperti ini?
"Iya, lo sama siapa? gue nemenin kak Jefri beli jas baru."
"Gue sam..."
"Al." panggil kak Sean menghampiriku, aku menoleh ke arahnya dan terpana sesaat. Sungguh kak Sean bak malaikat yang turun ke bumi.
Kiara menyentuh lenganku pelan menyadarkan aku yang sedang terpana oleh ketampanan kak Sean. "Siapa?" tanya Kiara berbisik di telingaku.
"Boss.. oh sepupunya teman gue." balasku pelan.
"Bagaimana menurut kamu? apa jasnya terlalu kekecilan?" aku menghampiri kak Sean dan meneliti jas yang sedang Ia kenakan. Membenarkan sebagian kerahnya yang agak kusut dan menarik ujung kain yang ada di bawah.
"Nggak kok kak." balasku tersenyum padanya seraya mengusap kerah jasnya yang masih berkerut, tepat saat itu mas Jefri berhenti di hadapanku dengan wajah terkejut.
"Ale? Sean? kalian saling mengenal?"
__ADS_1
"Jefri? lo kemari ingin menjemput Ale?"
Bisakah aku menghilang dalam sekejap, bagaimana jika kak Sean memberitahu bahwa aku adalah kekasih mas Jefri di depan Kiara? kak Karin mengapa lama sekali, aku membutuhkanmu kak.