Dear Mas J

Dear Mas J
Dia yang Memulainya


__ADS_3

"Ada apa denganmu Alana? aku lihat sejak tadi kamu nggak punya semangat, apa karena kondisi bunda kamu? kamu bisa cerita sama aku kalau butuh teman cerita."


Saat ini aku berada di dalam mobil kak Karin, kak Karin menjemputku di kampus dan kami sedang menuju cafe milik sepupu kak Karin yang kami bicarakan kemarin malam.


"I'am okay kak hanya merasa gugup takut nggak diterima kerja sepupu kakak" jelasku.


Kak Karin terkekeh menatapku singkat sebelum kembali fokus menyetir. "Kamu itu lucu ya? pantas Jefri bisa jatuh cinta sama kamu. Mulai sekarang kamu aku anggap sebagai adikku karena aku nggak memiliki adik. Aku nggak suka dibantah. Apapun itu kamu bisa memintanya padaku. Bantuan apapun, mengerti Ale?" ucapnya membuatku tak percaya. Sungguh aku merasa bersyukur masih di kelilingi orang-orang baik.


"Okay kak Rinrin." balasku hormat membuat kami tertawa.


"Kau memanggilku Rinrin? terdengar manis sekali, kakak menyukainya."


"Ah, itu dia cafenya tidak terlalu jauh dari kampusmu bukan? kamu bisa berjalan kaki sebentar. Aku akan meminta Sean untuk mengatur jadwalmu se fleksibel mungkin."


Kak Karin melambaikan tangan kepada pemuda tinggi yang sedang berdiri melayani salah satu pelanggannya.


"Kau bersama Alleta?" tanya lelaki itu saat menghampiri kami. Apa kak Karin sudah bercerita sebelumnya?


"Ya, seperti yang aku katakan semalam di telepon. Dia adikku jadi jangan macam-macam dengannya. Mengerti Sean?"


"Iya, iya miss galak."


"Mengapa kamu selalu mengataiku dengan panggilan itu? aku nggak suka Sean." protes kak Karin.


"Rubah dulu sikapmu yang galak setelah itu aku bisa menggantinya, oh iya Aletta. kamu kuliah di dekat sini kan? aku nggak akan memberatkanmu dengan jadwal karena kamu pekerja part time jadi waktu bekerjamu ku bebaskan, sesuaikan dengan jadwal kuliahmu setiap harinya, selama 5 jam kamu bekerja di sini. Mengenai upah aku sudah berdiskusi dengan wanita yang mengaku sebagai kakakmu ini."


"Tenang saja Al, aku memintanya untuk membayarmu lebih." Aku semakin tak percaya dengan tingkah ajaib kak Karin.

__ADS_1


"Kamu boleh bekerja besok Al. Usahakan memberi kabar padaku jika memang kamu nggak bisa bekerja. Aku sudah mengetahui masalahmu jadi nggak perlu sungkan jika membutuhkan sesuatu." ucap bos baruku ini.


Aku pikir yang bernama Sean ini galak tapi nyatanya dia sangat baik dan tegas. Mereka semua baik kepadaku, aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka dan tidak menimbulkan masalah di sini.


"Kak, terima kasih banyak ya aku nggak tahu lagi bagaimana membalas kebaikan kalian." Lirihku.


"It's okay sayang. Ayo kita ke rumah sakit aku juga ingin menjenguk bundamu." ajak kak Karin yang aku angguki.


"Sean, kita pamit. Awas ya kalau gue dengar elo gangguin Ale, dia udah punya pacar jadi jangan macam-macam. Lo kenal Jefri bagaimana kan? sebelum lo habis sama Jefri, gue yang bakal habisin lo duluan." ketus kak Karin membuatku beringsut mundur.


"Jangan takut, Sean memang harus diancam, kalau nggak nanti kamu bisa jadi korban budak cintanya dia. Ayo kita pergi Al."


"Dasar nenek lampir." umpat kak Seab yang masih bisa aku dengar dengan samar. Mereka terlihat kompak dan lucu di saat bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Syukurlah aku sangat senang mendengarnya, saat di telepon bunda sempat membahas mengenai mas Tama tapi aku tidak menanggapinya dan berusaha untuk mencari topik obrolan lain.


"Jadi besok bundamu sudah bisa pulang?" tanya kak Karin berjalan disampingku, merangkul lengan kiriku seperti aku tidak boleh jauh-jauh dari dirinya aku cukup senang karena aku merasa dimanja dan diperhatikan.


"I hope so, aku berharap kesehatan bunda semakin membaik meskipun aku tahu akan sulit ke depannya." balasku jujur.


"Jangan berkecil hati dan bersedih, semua sudah ada yang mengatur kita hanya perlu berusaha. Apapun yang terjadi nanti kamu harus kuat dan terlihat bahagia di depan bundamu. Kakak akan selalu ada untukmu Al. Kamu percaya nggak jika aku menyanyangimu? dari awal aku melihatmu aku sudah katakan padamu bahwa aku menyukaimu jadi jangan pernah merahasiakan apapun dariku. Apapapun itu kau bisa bersandar kepadaku sebagai kakak perempuanmu, akan ada hal yang berbeda ketika kamu bersandar pada kakak perempuan dibanding kakak laki-laki, kau paham maksudku kan?" ucapnya kemudian menarikku agar cepat sampai di ruangan bunda.


Aku membuka pintu pelan dan memasuki ruang inap bunda, bunda sedang duduk bersandar pada bantal yang dijadikan tumpuan di kepalanya. "Bunda, aku datang bersama kak Karin dia temanku sekaligus sahabat mas Jefri." kataku memperkenalkan kak Katin kepada bunda.


Bunda menatap kak Karin kemudian tersenyum. "Halo bunda, aku Karin teman Alana dan juga Jefri, aku juga mengenal anak laki-laki bunda hehe."

__ADS_1


"Kau sahabat Jefri? kalau begitu panggil aku bunda sama seperti teman dekat Alleta dan Tama."


"Terima kasih bunda, aku nggak pernah merasa sedekat ini dengan ibu dari temanku."


Aku tersenyum kala melihat kedekatan mereka, aku berpamitan kepada mereka sebentar berniat untuk membelikan minuman untuk kak Karin karena aku juga merasakan dahaga.


Saat di perjalanan aku berpapasan dengan mas Tama dan juga mas Jefri yang berjalan di koridor rumah sakit.


Berjalan pelan tanpa menoleh seperti aku tidak melihat apapun, aku tersentak kala tangan mas Tama meraih lenganku, "Al, mas perlu bicara denganmu." pintanya lirih terdengar seperti ada penyesalan di sana, sudah menyesal kah sekarang? Aku melepas lengan mas Tama pelan dengan wajah yang terus menunduk. Aku belum bisa, hatiku masih terlalu sakit.


"Aku haus, kita bicarakan itu nanti."


"Aku antar." tawar mas Jefri, aku menggelengkan kepala pelan pertanda tidak setuju.


"Nggak perlu, aku bisa sendiri." tanpa menunggu lama lagi aku kembali melangkahkan kakiku ke tempat tujuan awalku.


"Lo kenapa bisa di sini Rin?" Aku mendengar suara mas Jefri yang bertanya kepada kak Karin, lalu apa salahnya jika kak Karin ada di rumah sakit dan menjenguk bunda.


"Loh memangnya kenapa? Ale nggak ada masalah gue ke sini. Lo kenapa? kenapa melarang gue untuk ke sini? ada masalah? sikap lo berlebihan Jef, gue tahu kita ini sahabat tapi lo juga nggak berhak buat melarang gue. For your information Ale udah jadi adik gue juga jadi kalau lo menyakitinya lo juga berurusan dengan gue." tantang kak Kaein meninggalkan mas Jefri yang mematung, aku berjalan pelan mendekati pintu ruangan bunda setelah bersembunyi tak jauh dari sana.


Saat melihatku Mas Jefri menatapku dingin, tatapan yang tidak pernah dia berikan kepadaku sebelumnya. "Kenapa kamu ajak Karin kemari?" tanyanya, sungguh aku ingin tertawa mendengarnya yang terkesan berlebihan.


"Dia temanku, temanku ingin menjenguk bundaku, apa itu salah?" ucapku santai.


"Ale, bagaimana bisa kamu nggak berpikir jauh. Bagaimana kalau Kaein memberitahu bunda atau Tama mengenai hubungan kita? akan semakin rumit nanti kalau makin banyak yang mengetahui kita adalah sepasang kekasih."


"Kalian berdua?"

__ADS_1


Aku dan mas Jefri menoleh ke arah Mas Tama yang sedang berdiri menatap kami diambang pintu. Ya Tuhan bagaimana ini, salahkan mas Jefri karena dia yang memulainya.


__ADS_2