Dear Mas J

Dear Mas J
Kehadiran Mereka


__ADS_3

Pagi ini aku menjemput bunda di rumah sakit karena dokter sudah mengijinkan bunda untuk pulang ke rumah, lalu mengapa bukan mas Tama? aku yang meminta dan memaksanya, tentu saja dengan sedikit pertengkaran semalam.


Kebetulan mas Tama sedang ada urusan di kantor pagi ini, meskipun pemilik perusahaan tempat mas Tama bekerja adalah ayah mas Jefri bukan berarti mas Tama bisa seenaknya.


Mas Tama menyebutku sebagai adik pembangkang semalam, terserah padanya aku sudah tidak peduli lagi dengan ucapannya itu yang terpenting untukku sekarang adalah bunda. Aku ingin bunda selalu bahagia, "Bunda, apa mas Tama udah memberitahu kalau di rumah nanti ada yang akan membantu bunda membersihkan rumah?" jelasku, aku melirik bunda yang sedang duduk di sofa dekat ruang makan.


"Mengapa harus mempekerjakan orang lain? apa nggak sayang dengan uangnya? lagi pula bunda juga sudah sehat, biasanya bunda yang mengurusi masalah rumah."


"Iya bunda, kami tahu itu tapi kami melakukan itu juga bukan tanpa alasan, mas Tama sedang sibuk akhir-akhir ini begitu juga denganku. Tugas dan kuliahku sedang padat-padatnya bun, bunda tahu kan aku ingin lulus tahun depan jadi aku harus banyak memenuhi SKS tahun ini? kami hanya takut bunda kesepian saat aku dan mas Tama sedang sibuk." jelasku meminta pengertian pada bunda, aku hanya takut jika bunda menyadari penyakit yang dideritanya lambat laun.


"Iya bunda ingat meskipun kamu nggak lulus sesuai targetmu bunda nggak masalah Al, jangan kamu jadikan itu beban hum?"


"Nggak bunda, bunda harus percaya denganku aku pasti bisa melewatinya. Aku juga nggak mau membebani uang kuliah terus menerus pada mas Tama." aku berjalan ke arah beliau memberikan segelas susu kepadanya dan memeluknya dari samping.


"Putri bunda memang yang terbaik." ucapnya kemudian mencium pipi kiriku.


Selalu seperti ini ya bunda, jangan pernah berubah sedetikpun. Aku belum siap jika suatu saat bunda pergi atau melupakanku.


"Oh iya, bunda perkiraan mbak Lili baru tiba di rumah besok jadi nggak apakah aku tinggal bunda hari ini kebetulan aku ada jadwal jam 10 sampai sore hari karena aku juga harus mengerjakan tugas, deadline besok."


"Nggak apa, bunda bisa sendiri lebih baik kamu siap-siap sekarang."


Bunda maafkan aku jika akhir-akhir ini aku akan terus membohongi kalian, aku juga tidak ingin membohongimu dan juga mas Tama tapi aku tidak ada pilihan lain sampai aku lulus kuliah nanti.


Aku melirik ke arah ponselku yang sedang ku charge di nakas kamar, terdapat panggilan tak terjawab sebanyak 5x dari notif pop-up di layar dan semua itu ulah mas Tama. Belum sempat aku ingin menghubunginya dering ponsel kembali terdengar.


"Ya?" balasku saat menerima panggilan telepon darinya.

__ADS_1


"Kalian sudah di rumah?"


"Ya."


"Yaudah tolong jaga bunda, mas mampir ke rumah siang ini nggak perlu memasak." jelasnya.


"Nggak bisa, aku kuliah jam 10 nanti." ucapku menolak.


"Bukannya jadwal kuliahmu hari ini jam 2?" aku melupakannya, mas Tama sangat mengingat jadwal kuliahku setiap hari.


"Ada jadwal tambahan, aku tutup."


Entah semenjak kejadian itu hubunganku dengan mas Tama kian merenggang, begitu pun juga dengan mas Jefri. Lebih tepatnya aku yang menghindarinya, mas Jefri dengan santainya memberitahu kepada mas Tama jika kami berpacaran dan memilih untuk putus.


Ingat kejadian di mana mas Tama memergokiku dan mas Jefri berbicara di depan kamar inap bunda semalam? ya, mas Tama sempat memarahi mas Jefri yang menyembunyikan fakta itu padahal mas Tama tidak akan melarang kami memiliki hubungan lain.


Aku menghela nafas berat, "Kenapa bisa jadi begini sih?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Namanya Alleta, kalian bisa berkenalan nanti setelah jam kerja usai. Saya harap kalian mau bekerja sama dengannya. Ale bekerja part time di sini 5 hari dalam seminggu dan 5 jam setiap harinya dengan jam kerja yang fleksibel. Saya tidak suka jika ada yang melimpahkan pekerjaan kepadanya, kalian sudah memiliki tanggung jawab masing-masing jika saya mendengar atau melihat ada yang merundungnya kalian bisa berurusan dengan saya." tegas kak Sean, terlihat berlebihan memang aku jadi merasa tidak enak hati dengan teman yang lain.


"Alleta silahkan berganti pakaian, Joana tolong temani Ale dan yang lain kalian bisa lanjutkan bekerja."


Aku mengekori Kak Joana yang berjalan ke arah ruang ganti khusus wanita, cafe ini memang terlihat kecil dari luar tapi ketika kita masuk kedalamnya terlihat sangat luas apalagi jika melihat ruangan staff atau karyawannya yang terlihat tidak seperti cafe pada umumnya, ku rasa kak Sean memperlakukan karyawannya dengan baik, sangat terlihat jelas dengan kenyamanan yang diberikan kepada karyawannya.


"Ini loker kamu, kamu bisa berganti pakaian di ruangan ini karena ruangan ini memang di design khusus oleh kak boss." ucapnya. Aku mengeryit heran mengapa Kak Jiana memanggil kak Sean dengan panggilan kak Bos, sangat terdengar lucu, bukan aku bermaksud kurang ajar.

__ADS_1


"Kak Seab itu sepupu aku, usia kami nggak terlampau jauh hanya berbeda 3 tahun di atasku." jelasnya yang membuatku mengangguk mengerti.


"Jangan panggil aku kak, panggil aku Joana sepertinya kamu seumuran denganku. Aku juga pekerja part time di sini hanya mengisi waktu luang ketika aku bosan di rumah." Jelasnya.


Apakah orang seperti Joana yang kulihat dari kalangan berada mengisi waktu luang dengan cara seperti ini? sungguh mengesankan.


"Jo, kamu kuliah di mana?"


"Sama denganmu." balasnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Alleta, kak Sean itu nggak seperti yang kamu kira mana mungkin dia nggak cerita ketika dia bertemu dengan gadis seperti dirimu."


Joana terkekeh melihat raut wajahku saat mendengar penjelasan darinya. "Ku beritahu padamu dia itu sedikit gila soal percintaan tapi kamu tidak perlu khawatir kak Sean orang yang bai, sangat baik, kau akan aman jika berada didekatnya."


Sebenarnya aku tidak mengerti dengan semua kalimat yang di ucapkan Joana mengenai kak Seab barusan. Lalu apa hubungannya denganku? mengapa Joana menceritakan semuanya kepadaku?


"Hey, kembali bekerja dan jangan banyak mengobrol." tegur kak Sean, aku terkesiap dan menutup kancing bajuku kilat dengan wajah yang merona menahan malu karena bajuku belum terkancing sepenuhnya.


"Kak boss! mengapa kemari? pergi sana Ale belum selesai berganti pakaian."


"Sorry-sorry." ucapnya terkejut lalu meninggalkan kami dengan tergesa-gesa.


"Seperti itulah dia, oh ya Al apa benar kau kekasih kak Jefri? aku nggak mengerti kamu yang beruntung mendapatkannya atau dia yang beruntung mendapatkan gadis sepertimu." katanya random.


Sungguh keluarga kak Karin mengapa bisa serandom, selucu dan sebaik ini. Aku tidak mengerti lagi kenapa aku bisa bertemu bahkan dekat dengan mereka.

__ADS_1


__ADS_2