Dear Mas J

Dear Mas J
Memilih


__ADS_3

Rasa kecewa membuat hati menjadi sedih dan memiliki suasana hati yang buruk yang nantinya akan membuat sikapku berubah daripada biasanya.


Jika dikatakan apakah aku marah dengan mas Tama jawabannya adalah tidak, aku tidak marah dengannya, aku hanya kecewa karena dirinya yang tidak mempercayaiku sebagai adiknya.


Terkadang orang yang dianggap paling menyayangi kita akan menjadi orang yang paling mengecewakan dalam hidup kita dan aku mengalaminya sekarang, aku tahu memendam rasa kecewa bukan hal yang baik untuk dilakukan tapi, aku juga tidak bisa menahannya.


Aku menghubungi Ajun semalam dan memintanya untuk datang ke rumah setelah mas Tama pergi yang aku yakini mas Tama kembali ke rumah sakit untuk menemui bunda.


Ajun sendiri terlihat terkejut saat aku menceritakan masalahku yang bertengkar dengan mas Tama. "Siapa yang berani fitnah lo? gue juga nggak tahu menahu soal ini, bang Jefri memang menghubungi gue tadi siang mencari keberadaan lo kalaupun ke kampus dia pasti ketemu sama Kiara. Lo ingat hari ini gue jalan sama Dery kan Al? Al gue peringatin lo sekali lagi ya? Lo harus hati-hati dengan Kiara, dari dulu perasaan gue ke dia nggak pernah bagus, gue bisa tahu mana yang tulus dan mana yang main-main." Jelas Dejun panjang lebar semalam. Aku tidak mungkin mempunyai pikiran negatif kepada Kiara karena aku mengenal Kiara sejak SMA, dia tidak mungkin berniat jahat kepadaku.


Telingaku mendengar suara ketukan pintu dari arah luar sepertinya ada yang berkunjung. Ku langkahkan kaki menuju ruang tamu dan berniat menyambut tamu tersebut.


Mas Jefri menghentikan ketukannya saat aku sudah menampakkan diri di hadapannya. "Kalau hanya ikut memfitnahku. lebih baik mas pergi dari sini." ucapku datar kemudian mencoba kembali menutup pintu namun mas Jefri menahannya dengan salah satu kakinya.


"Mas mau bicara denganmu."


"Untuk apa? mas sama aja dengan mas Tama yang nggak peduli dengan perasaanku. Aku sedang tidak ingin bicara dengan kalian untuk saat ini, lebih baik mas pulang karena aku harus ke kampus sekarang."


"Mas antar ya? sekaligus kita jemput Kiara." ucapnya terkesan santai, hatiku berdenyut nyeri saat dirinya berniat untuk menjemput sahabatku. Ada hubungan apa mereka?


"Sejak kapan mas dekat dengan sahabat aku?"


"Mas rasa, mas menyukai Kiara Al. dia..."


"Ok, aku merestui kalian. Kiara anak yang baik, kalau mas mencintainya silahkan, aku nggak akan melarang, setauku dia memang masih sendiri. Mas bisa jemput Kia sekarang, aku sedang menunggu Ajun. Maaf aku butuh waktu sendiri." jelasku tanpa melihat matanya.

__ADS_1


Rasa kecewaku semakin berkali lipat sehingga membuatku membenci diriku sendiri. Air mataku mulai mengalir saat mas Jefri meninggalkanku tanpa pamit dan tanpa sepatah katapun.


"Jun, kenapa rasanya sakit? lo benar. Gue menyesal sekarang."


"Heh, Ale lo ngapain ada di depan teras meraung-raung?" tanya Ajun panik saat dirinya turun dari motornya, aku menatapnya lemah dan dia menghampiriku yang sedang terkulai di teras.


"Lo kenapa Al? nggak biasanya kalau ada masalah sampai begini. Alleta yang gue kenal itu kuat." kamu nggak akan mengerti Jun rasanya dikecewakan dua orang sekaligus, kedua orang yang benar-benar paling aku sayangi dan juga tempatku untuk bersandar.


"Mas Jefri Jun. Gue menye-sal."


"Bang Jefri kenapa?"


"Dia menyukai Kiara, gue menyesal Jun harusnya gue nggak biarin ini hiks... ke.napa rasanya sa-kit?"


"Dengar Al dia bukan jodoh lo. Lupain bang Jefri. Gue nggak mau sahabat gue terlihat rapuh hanya karena seorang laki-laki, masih banyak hal yang harus lo pikiran dan jadi prioritas lo, bunda. Lo harus kuat demi bunda." katanya menenangkan dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Ajun sahabat terbaikku terima kasih kamu selalu ada untukku.


"Jun, kenapa gue ditatap seperti itu ya sama mereka? memangnya ada yang aneh dari penampilan gue ya?" tanyaku kepada Ajun karena aku merasa risih diperhatikan sepanjang koridor kampus, bahkan saat aku turun dari motor Ajun.


Aku kembali meneliti pakaianku satu persatu, tidak ada yang salah, masih terlihat sopan dan juga riasanku masih tertata rapi lalu ada apa dengan mereka yang menatapku terkesan tak suka?


"Oh ini kan wanita yang wajahnya ada di papan pengumuman?" ucap mereka berbisik. Namun, masih bisa kami dengar. Aku hanya menoleh ke arah Ajun singkat yang dihadiahi tatapan tidak tahu darnya.


"Itu di papan pengumuman rame banget ada apaan?" tanyanya.


Mataku kembali teralih ke kerumunan mahasiswa yang mulai ramai dan bersorak itu. Ada pengumuman apa sebenarnya?

__ADS_1


"Ale, kapan-kapan lo ikut gue ya? gue kenalin ke om-om tajir melintir." ucap Jessie melewatiku bersama dengan teman-temannya, selanjutnya aku hanya mendengar tawa Jessie yang meledak menertawakanku.


"Jun, ini maksudnya apa? gue nggak paham." Ajun berlari ke arah papan pengumuman dan merobek salah satu foto yang aku sendiri tidak tahu itu foto apa. Aku tersentak kala suara Ajun meninggi membuat mereka menjauh dari sana "BUBAR! BUBAR GUE BILANG! BUBAR KALIAN!"


"Jun kenapa marah-marah? isinya apa?" tanyaku mencoba meraih kertas yang sudah tersobek karena ulahnya.


"Bukan apa-apa, gue antar lo ke kelas."


"Ajun! Ale!" aku dan Ajun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil kami. Kiara? baru sampaikah dia?


"Kemana aja lo baru sampai jam segini? habis jalan sama cowok baru lo hum?!" sarkas Ajun. Aku melirik Kiara yang hanya diam tak melawan kalimat Wjun.


"Jun." tegurku, bukan salah Kiara juga kalau mas Jefri menyukainya. Aku yang salah di sini karena memaksakan hatiku untuk tetap mencintai mas Jefri.


"Itu yang lo pegang apaan?" tanya Kiara menarik kertas yang ada di tangan Ajun dan membukanya, mataku terbelalak saat melihat fotoku yang sama dengan mas Tama tunjukkan semalam terpasang di papan pengumuman, inikah yang dimaksud Jessie tadi? ini sungguh berlebihan. Siapa yang melakukannya? aku merasa tak punya musuh satu pun.


"Apa-apaan ini? siapa yang berani melakukan ini. Tenang Al gue pasti cari tahu tentang ini." kata Kiara dengan suara meninggi.


"I'am okay guys, lebih baik kita segera ke kelas."


"Siapa sih yang tega berbuat ini ke lo Al? setahu gue lo kan nggak punya musuh." Kiara kembali bersuara saat kami menaiki anak tangga satu persatu.


"Gue juga nggak tahu yang jelas foto ini cuma salah paham karena gue jatuh saat itu, kalau bukan karena bapak itu yang bantu gue mungkin gue udah ada di rumah sakit sekarang." Kiara mengangguk paham.


"Oh iya gue mau cerita sama lo, salah nggak kalau gue suka sama kak Jefri?" tanyanya to the point.

__ADS_1


Kalau kamu tanya aku? nggak ada yang salah Kia karena mencintai seseorang bukanlah suatu kesalahan. Jika kamu tahu aku juga mencintainya apakah kamu akan mundur? tidak apa Ki, cintailah dia sebisamu biarkan aku yang mundur karena sedari awal aku yang memilih untuk memendamnya sendirian.


Mungkin aku melakukan hal yang bodoh masih mencintai seseorang yang jelas-jelas mencintai sahabatku sendiri tapi tenang saja aku tidak akan menganggu kalian. Jika aku dihadapkan pada suatu pilihan, memilihmu atau memilih mas Jefri aku akan memilihmu Kiara karena kamu adalah sahabatku.


__ADS_2