
"Kamu mau pulang sekarang?" tanya kak Sean menatap manik mataku, sepertinya dirinya paham jika aku tak nyaman berada di sini tapi aku sendiri tidak enak hati memintanya mengantarku pulang mengingat baru satu jam kami berada di sini dan acara puncak pun belum juga dimulai, apa kata keluarganya nanti jika tak melihat kak Sean yang tidak ada di acara inti kedua orang tuanya.
"Aku masih mau di sini kak."
Kak Sean tersenyum kemudian membenarkan letak rambutku yang mungkin sedikit berantakan, ada yang berbeda dari tatapannya saat ini. Semoga bukan hal buruk yang akan menimpaku nantinya karena aku sangat mempercayai lelaki yang ada di hadapanku saat ini.
"Mau berdansa denganku?"
"Aku nggak mau mempermalukanmu nantinya."
"Kemarikan tanganmu, akan aku beri tahu kiat jitunya." ucapnya terkekeh.
Dengan takut-takut aku mengulurkan jemariku kepada kak Sean, kemudian Ia mengajak ku untuk berdiri dan membawaku berjalan ke lantai dansa. "Katakan kalau kamu sudah lelah nanti."
Sejujurnya ini kali pertamaku berdansa karena aku yang tidak pernah pergi ke pesta mengingat mas Tama yang melarangku ini dan itu, bahkan hingga usiaku 21 tahun pun aku belum memiliki kekasih, sudah ku katakan bukan bahwa mas Jefri adalah cinta pertamaku.
Tanpa sengaja kedua pasang mataku menangkap sosok mas Jefri yang sudah berada di lantai dansa dengan kak Karin, entahlah sejak kapan mereka memulainya karena aku tak memperhatikannya. Mas Jefri menatap tak suka ke arah kak Sean, terlihat jelas ketika aku yang kerap kali memergokinya saat mata kami bertemu pandang meskipun dirinya sedang berbicara dengan kak Karin seraya mengikuti alunan musik.
"Letakkan tangan kirimu di bahuku lalu pegang tanganku seperti ini. Sorry Al." ucapnya lalu meletakkan tangan kanannya di pinggangku dan tangan kirinya meraih tangan kananku.
"Gerakkan sedikit kakimu mengayun ke kanan dan ke kiri bergantian denganku seperti ini. Bagaimana? Nggak terlihat sulit kan?" aku mengangguk mengerti kemudian tersenyum kepadanya.
Saat lampu semakin diredupkan dan alunan musik digantikan dengan lagu yang semakin romantis, kak Sean menarik tubuhku lebih mendekat kepadanya. Kedua tangannya membawa tanganku untuk melingkar ditengkuknya sedang kedua tangan kak Sean menarik ke dua sisi pinggangku pelan.
"Injak kakiku kalau kamu merasa lelah." katanya berbisik. Ya aku memang merasa sangat lelah karena dirinya yang terlampau tinggi hingga membuat tanganku dan kakiku sedikit sakit untuk menahannya.
Aku terjengit saat kak Sean mengangkat tubuhku dan memintaku untuk menginjak kakinya. "Kak? aku nggak mau, tubuhku berat kakimu akan kebas nanti."
"Nggak akan, turunkan ke dua kakimu diatas kedua kakiku satu persatu." aku mengikuti perintahnya dan menginjak ke dua kakinya sehingga tinggi tubuhku dengan tubuhnya menjadi sejajar, kak Sean menggerakkan kakinya ke kanan dan ke kiri membuatku semakin mengeratkan pelukanku pada tengkuknya karena takut terjatuh.
Nafas kak Sean semakin memburu saat tubuh kami semakin terhimpit hingga dia menurunkan ke dua kakiku untuk menginjak pada lantai. "Sudah ku katakan aku ini berat." gerutuku kesal membuat kak Sean tertawa padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
"Tunggu di sini sepertinya papa memanggilku." titahnya tiba-tiba setelah merogoh ponselnya dari saku jas, aku melihat punggung kak Seab semakin menjauh dan berencana untuk menjauh dari keramaian ini.
"Kak.... mas Jefri? apa yang ingin kamu lakukan?"
"Dengarkan aku." ucapnya tegas lalu menarik tanganku untuk kembali ke lantai dansa, mas Jefri memperlakukanku seperti apa yang dilakukan kak Sean semasa kami berdansa tadi. Jangan dikira aku tidak berusaha untuk lepas dari dirinya.
__ADS_1
Kini tangan mas Jefri melingkar erat di pinggangku, semakin sulit bagiku untuk bergerak dan melepaskan diri, kedua tanganku berada di dada bidangnya agar tubuh kami tidak terhimpit. Aku tidak ingin jika mas Jefri merasakan detak jantungku yang tidak karuan.
"Jauhi dia." pintanya. Tanpaku tanya lagi aku sudah tau siapa dia yang mas Jefri maksud.
"Kenapa? karena dia juga menyukai wanita yang disukai mas Tama hingga kalian membencinya?" kataku dengan mata memicing, aku tak menyukainya yang mengintimidasiku dengan matanya yang menatapku tajam seperti ingin menerkamku saat itu juga.
"Kamu nggak akan mengerti Al, hubungan Sean dengan Tama itu sangat rumit."
"Bagian mana yang rumit? bagian mana yang nggak aku mengerti, mas itu sudah masa lalu sama halnya dengan yang kak Sean katakan kepadaku kejadian itu sudah terlalu lama bahkan dia juga sudah melupakannya."
"Kenapa kamu terlalu percaya?"
"Lalu mengapa mas Jefri terlalu peduli denganku?" kami hanya terdiam dengan posisi seperti diawal dan saling menatap.
"Karena aku udah mas anggap sebagai adik sendiri, benar begitu kan? mas, apa mas pernah berpikir dengan sikap mas yang baik kepada orang lain bisa menimbulkan kesalahpahaman yang berarti? apa mas pernah memikirkan bagaimana perasaanku?"
Aku melihat mas Jefri yang tak bergeming masih sama dengan sebelumnya, kini tatapan matanya kembali melunak tidak seperti tadi yang siap untuk menerkamku hanya lewat tatapan matanya saja.
"Apa mas pernah melihatku selama 5 tahun ini sebagai wanita biasa bukan sebagai adik dari sahabatmu?"
Sepertinya aku sudah tidak bisa memendam perasaanku lagi di depannya. Maafkan aku Kiara, tak ada respon dari mas Jefri membuatku semakin muak terhadapnya. Aku melepaskan tangannya yang masih setia memelukku.
"Ale, ak..." laki-laki yang sialnya selalu aku cintai ini meraih tanganku, namun aku segera menepisnya karena aku benar-benar merasakan kekecewaan yang begitu dalam, aku tertunduk tidak bisa menahan isakanku lagi dan segera menjauh dari hadapannya.
"Jun bisa jemput gue?" kataku di sambungan telepon dengan Ajun seraya berjalan terseok menuju lobby hotel.
"Share location gue jemput sekarang."
"Hurry i'm scared."
Aku menunggu Ajun di lobby hotel, mencari tempat yang tidak bisa di lihat oleh siapapun. Sebelum itu aku mengirim pesan kepada kak Sean meminta maaf jika aku harus pulang dan tidak berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan alasan bunda yang memintaku untuk pulang.
...1 Message from Kak Sean...
...Kamu yakin? aku bisa meminta supir papa un.......
Mematikan layar ponselku tanpa membalas pesan singkat dari kak Sean,, aku kembali bersembunyi ketika melihat kedatangan kak Karin dan mas Jefri yang sepertinya sedang mencari keberadaanku.
__ADS_1
"Lo apain Ale, Jef sampai dia pergi dari sini? bukannya tadi dia berbicara dengan lo di lantai dansa?"
"Rin, please cukup bantu gue mencari Ale. Jangan banyak bertanya dulu, gue sungguh mengkhawatirkannya saat ini."
"Hubungi Tama, katakan padanya kalau Ale pulang segera hubungi gue atau lo."
"Dasar Jefri bodoh." umpat kak Karin kesal kemudian berjalan mengekori mas Jefri menjauh dari tempatku bersembunyi. Sepertinya lebih baik aku tidak pulang ke rumah dulu untuk malam ini.
...Mas Tama...
^^^Jangan mencariku mas, aku menginap di rumah Ningning malam ini bukan dengan kak Sean, kalau nggak percaya kamu bisa menghubungi temanku nanti. Sampaikan salamku pada bunda |^^^
^^^(Sent)^^^
...2 Message from Ojun...
...Di mana? gue udh di depan....
...Cepat Al keburu gue di usir....
Mengedarkan pandanganku ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi apakah sudah aman untukku keluar dari persembunyian. Aku berjalan tergesa menghampiri Ajun saat dirasa situasi sudah aman.
"Jun gue menginap di rumah lo ya? ada Ningning kan?"
"Please Al lo memang sahabat paling ajaib di muka bumi ini. Gue masih mau hidup, bagaimana kalau mas Tama tahu lo menginap di rumah gue?"
"Ya jangan kasih tahu. Please bantuin gue ya. Gue butuh lo." Ajun terlihat menimang permintaanku. Jun bantu aku yang tidak ingin bertemu dengan mas Jefri untuk malam ini mengingat aku baru saja jujur tentang perasaanku kepadanya meskipun aku tidak menyatakannya secara jelas, aku tahu betul jika mas Jefri akan paham dengan kalimatku tadi.
"Lo ijin apa sama mas Tama?"
"Menginap di rumah Ningning tolong beritahu Ningning buat ke rumah lo."
Ningning merupakan tetangga dari Ajun, aku memang terbiasa untuk menjadikannya korban agar mas Tama percaya padaku dan mengijinkanku untuk menginap di rumah Ajun.
"Lo gue titipin sama Ningning aja deh ya? gue takut macam-macamin lo nanti, siapa tahu kan setan lagi lewat rumah gue apalagi di rumah cuma ada gue aja Al."
"Mana ada Ojun, lo yang selalu bilang kalau lo nggak akan pernah khilaf ke gue karena gue tepos. Berdusta ya lo? Jun gue butuh lo~ gue udah jujur dengan mas Jefri perihal perasaan gue kepadanya, gue takut Jun, gue nggak tau mesti bagaimana bersikap setelah ini, lo paham kan? hiks — rasanya gue terlalu bodoh karena dengan mudahnya memberitahu dia tanpa berpikir lebih dahulu. Lo tahu gue nggak sekuat itu kan Jun? gue hiks. gue takut mas Jefri semakin menjauh...."
__ADS_1
"Jangan menangis sebelum sampai di rumah gue." titah Ajun, sahabat kurang ajar mana sempat menangis bisa ditahan.