Dear Mas J

Dear Mas J
The Fact


__ADS_3

"Dek, kamu kenapa? kenapa masih menangis? nanti cantiknya hilang. Kamu lihat sendiri kan bunda nggak apa, bunda cuma sakit perut aja. Masmu itu ya paniknya terlalu berlebihan, padahal bunda nggak perlu loh sampai harus di opname seperti ini." jelas bunda mengadu kepadaku.


Aku melirik ke arah mas Jefri yang sedang menatapku iba. "Nggak apa bunda, aku menangis karena mas Jefri" kataku, yang awalnya berniat bercanda untuk mengalihkan perhatian bunda.


Mendengar aku yang mengadu kepada bunda, mas Jefri hanya terkekeh pelan tidak berniat untuk membalas apapun.


"Jefri, bunda titip Alleta sama kamu ya? kalau suatu saat nanti bunda sudah nggak ada di tengah-tengah kalian, bunda mohon sama kamu untuk jaga putri bunda." ucap bunda lirih.


"Bunda bicara apa? jangan bicara sembarangan!" sentakku.


Baru pertama kali aku berbicara kasar kepada bunda karena belum pernah sekalipun aku meneriaki bunda. "Aku nggak suka bunda bicara sembarangan!"


"Alleta." tegur mas Jefri menghampiriku.


"Aku nggak suka. Aku nggak suka bunda bicara kayak tadi mas. Bunda bakal terus sama kita sampai aku dan mas Tama menikah, sampai kami memiliki anak dan bunda yang bermain dengan cucu-cucunya. Bunda..."


"Hey, hey, kamu dengar dulu, jangan kayak gini." ucap mas Jefri menyela kalimatku dan merengkuh ke dua pipiku dengan ke dua tangannya.


"Ale, maksud bunda nggak seperti itu sayang. Kita nggak pernah tahu kapan ajal akan menjemput, bunda cuma ingin setelah bunda pergi nanti, bunda bisa tenang karena kamu bunda titipkan dengan orang yang tepat." jelas bunda menatap mataku dalam.


Bukan ini yang aku mau bunda, aku tidak ingin dititipkan kepada siapapun, aku hanya ingin bersama bunda.


Tanpa menjawab apapun, aku melepaskan ke dua tangan mas Jefri yang masih setia menangkup wajahku dan berjalan pergi menjauh dari sana. Tak kuasa untuk menahan tangisanku lagi.


Mas Tama yang baru saja tiba terlihat heran melihatku dengan wajah yang menunduk berjalan keluar kamar inap bunda sehingga tanpa sengaja aku menabrak bahunya pelan.


"Alee..."


"Biar gue aja, lo jaga bunda." ucap mas Jefri yang masih terdengar di telingaku.


Aku berjalan ke arah taman belakang rumah sakit karena suasana yang lumayan sepi dan juga langit sudah semakin gelap. Ku rasakan mas Jefri duduk di bangku panjang, tepat di sebelahku.


"Aku tahu ini berat buat kamu dan juga masmu tapi dengan sikap kamu yang seperti tadi nggak akan bisa menyelesaikan apapun Al, kamu tahu betul kalau Tama butuh support dari kamu juga. Jadi, jangan menambah beban pikirannya. Kamu harus kuat baik di depan bunda maupun di depan Tama. Kamu bisa bergantung sama mas karena kamu sudah mas anggap sebagai adik mas sendiri. Pikirkan semua ini baik-baik, minta maaf sama bunda karena kamu sudah melukai hatinya tadi."


"Mas?" panggilku.


Aku menoleh ke arahnya dengan derai air mata yang sudah terjun bebas di kedua pipiku sejak tadi. Mas Jefri hanya bungkam menyaksikan derai air mataku yang semakin mengalir deras.

__ADS_1


"Aku belum siap, aku nggak sanggup kalau harus kehilangan bunda secepat ini." ucapku cepat dengan satu tarikan nafas.


"Nggak ada yang siap kalau menghadapi keadaaan ketika tiba waktunya orang tua telah tiada. Apalagi ketika kita dekat dengan keduanya termasuk kamu, tugasmu sekarang manfaatkan waktu yang berharga dengan membahagiakan bundamu. Aku tahu nggak mudah untuk melanjutkan hidup ketika ayah kalian tiada. Begitu pula dengan cobaan yang sedang kalian hadapi saat ini." dia merubah posisinya bertumpu pada satu kakinya di hadapanku, menggenggam tanganku yang ada di kedua pahaku.


"Alleta, hidup yang sesungguhnya bukan milik kita. Saat takdir berkata lain, mau tak mau kita harus menerimanya. Jadi, aku mohon sama kamu untuk lebih bisa bersabar dan kuat menghadapi semua ini. Mas mengenalmu Al, kamu pasti bisa melewati semuanya, nggak ada salahnya dengan berdo'a. Tuhan akan mengabulkannya jika kamu memintanya dengan bersungguh-sungguh." ucap mas Jefri seraya menghapus bulir air mataku menggunakan ibu jarinya.


"Mas, thank you for everything. Maaf kalau selama ini aku dan mas Tama menyusahkan mas Jefri."


"Kamu bicara apa sih, Tama itu sahabat aku dan kamu adiknya Tama jadi jangan pernah sungkan."


"Don't cry. Wajah kamu kacau banget kalau nangis begini." ejeknya, aku meninju lengannya pelan membuat mas Jefri tertawa. Tanpa aba-aba dirinya menarik tubuhku ke dalam dekapannya.


Mas, entah mengapa pelukanmu selalu menjadi tempat ternyamanku setelah pelukan mas Tama.


"Kita pulang ya? kamu udah mengabari sahabat-sahabat kamu kan?" tangan mas Jefri mengelus suraiku lembut, memintaku untuk terus dalam posisi ini karena aku merasa semakin dibuat nyaman.


"Hmm."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mas Jefri dan Kiara sedang memasak di dapur. Aku tidak diperbolehkan untuk membantu mereka, katanya lebih baik aku istirahat saja. Namun, waktu istirahatku terganggu karena Ajun yang sedang menjahiliku sejak tadi.


"Jangan sedih terus dong Al, gue pasti selalu ada buat lo." katanya lalu memiting leherku. Yang tadinya merasa tersentuh karena perhatiannya mendadak buyar karena perlakuannya. Dengan sigap aku mendorong tubuhnya menjauh dan berlari ke arah dapur.


"Kalau kamu suka apa?"


Aku berjalan perlahan menghampiri mas Jefri dan Kiara yang sedang berbincang. Terkadang mereka bersenda gurau membuat hatiku merasakan sesuatu yang berbeda.


Entahlah, mereka terlihat sangat dekat padahal mereka belum pernah berbicara sedekat ini sebelumnya.


"Music? semua jenis musik aku suka tapi aku lebih menyukai R&B, hip hop dan Jazz." balas Kiara seraya tersenyum.


Sejak kapan Kiara menyukai musik itu? bukankah dia lebih suka membaca dari pada mendengarkan musik? bahkan ketika aku mengajaknya untuk datang ke konser jazz, dia tidak akan mau ikut denganku.


"Oh ya? sama denganku. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu akan kutunjukkan tempat langgananku membelinya." aku mengerutkan keningku mencoba untuk memahami maksud dari mas Jefri.


"Ah, thank you kak."

__ADS_1


"Sedang apa di sini?" tanya Ajun berbisik di telingaku.


"Apa?" balasku sedikit meninggikan suaraku. "Apa sih Jun, kenapa narik gue ke sini?!"


"Duduk." titahnya.


Aku mendudukan diri tepat di sebelahnya, Ajun mengajakku ke taman belakang, tak tahu tujuannya mengajakku kemari.


"Kalau suka itu ya bilang jangan dipendam sendiri." ucap Ajun tiba-tiba membuatku tersedak salivaku sendiri, aku menoleh ke arahnya dengan takjub.


"Dari mana lo tahu?" tanyaku penasaran.


"Nenek-nenek juga tahu kalau lo ada perasaan lain ke dia, dia nya aja yang bodoh nggak sadar akan hal itu."


"Ajun bisa kecilin volume suara lo? nanti mas Jefri dengar. Gue juga nggak berharap lebih kok, gue cuma mau dia bahagia dengan wanita pilihannya."


"Klasik lo, mana ada Ale. Lo mesti berjuang kalau memang lo suka, apa lo lupa sekarang jamannya sudah berbeda? nggak ada yang salah dengan wanita yang menyatakan cintanya terlebih dahulu, gue cuma nggak mau lo menyesal Al dan lo berhak mendapatkan yang terbaik."


"Jun, dia nggak cinta sama gue karena dia hanya menganggap gue sebagai adiknya. Gue juga tahu diri nggak mungkin memaksanya untuk mencintai gue. Cuma lo yang tahu masalah ini, gue berharap lo nggak cerita ke siapapun termasuk Kiara." ucapku memberinya peringatan.


"Lo beneran nggak takut kalau misalnya dia punya hubungan lebih dengan Kiara?"


"Lantas?"


"Apa gue punya alasan buat melarang mereka untuk saling jatuh cinta?" Ajun terlihat frustasi mendengar jawaban dariku.


"Jun, mas Jefri dan Kiara... Mereka adalah orang-orang yang gue sayangi. Kalaupun mereka saling mencintai, gue bisa apa?"


"Susah memang kalau bicara sama lo, rasanya bosan juga gue kalau harus kasih peringatan sama lo untuk jangan terlalu baik sama orang lain. Ingat lo punya gue, kalau ada apapun cerita sama gue, jangan dipendam sendirian."


Aku menghambur ke pelukan Ajun, sahabat dari jaman Sekolah Dasarku ini memang yang terbaik.


"Thank you Ajunku sayang." ucapku mendramatisir, membenamkan kepalaku di dada bidangnya.


"Kalian sedang apa?"


Aku dan Ajun menoleh ke sumber suara tersebut dan menatap mas Jefri yang sedang menatap kami penuh arti, tolong jangan salah paham mas.

__ADS_1


__ADS_2