Dear Mas J

Dear Mas J
Mencari Cinta Yang Lain


__ADS_3

Sejak tadi aku hanya mengaduk-aduk secangkir kopi yang sedang aku buat, sama sekali tidak menyadari kak Sean yang memanggilku berkali-kali hingga Joana yang ada di sampingku menyadarkanku dari lamunan. Aku terkesiap saat menyadari empat pasang mata yang sedang menatapku cemas.


"Maaf, aku...." ucapku tertahan merasa ragu ingin menjelaskan kepada mereka karena aku yang tertangkap basah sedang melamun, ucapan bunda semalam selalu terngiang di kepalaku. Ada rasa bersalah saat bunda mengetahui aku dan mas Jefri menjalin kasih, kurasa bunda mengetahui berita itu dari mas Tama.


"Apa benar kamu memiliki hubungan dengan sahabat masmu dek? dan mengapa kalian memutuskan untuk berpisah? sejujurnya bunda bahagia ketika mengetahui kabar bahwa kamu menjalin kasih dengannya, bunda merestui tapi ternyata takdir berkata lain. Apapun yang menjadi keputusanmu bunda akan mendukung. Putri bunda sudah dewasa bunda percaya dengan kamu dan yakin kamu tahu mana yang terbaik untukmu dan mana yang bukan."


"Tujuan bunda memintamu untuk kemari karena sudah lama kita tidak berbincang seperti ini, kamu dan masmu terlalu sibuk dengan kegiatan kalian. Bunda nggak merasa kesepian dengan adanya bu Lili sekarang tapi bunda minta satu hal jangan pernah ada kesalahpahaman di antara kamu dan mas mu. Bunda tahu jika hubungan kalian lagi nggak baik-baik aja. Bunda nggak akan ikut campur karena bunda percaya putra dan putri bunda bisa menyelesaikan kesalahpahaman itu dengan kepala dingin."


"Tapi ingat jika kalian membutuhkan bunda, bunda selalu ada untuk kalian sayang. Hanya seorang ibu yang bisa memahami keadaan anak-anaknya. Jika kamu merasa nggak kuat datanglah ke bunda jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan kepada bunda ataupun masmu. Lalu bagaimana dengan kuliahmu? semuanya berjalan dengan lancar kan sayang?"


Pada Awalnya aku takut jika bunda akan menanyakan masalah surat peringatan yang aku dapat tapi nyatanya tidak, mungkin aku yang terlalu khawatir berlebihan hingga membuat aku merasa tertekan dan gelisah setiap harinya.


"Apa kamu sakit Al? aku perhatikan sejak tadi kamu hanya mengaduk-aduk gelas itu sampai airnya tumpah dan bercecer kemana-mana." secara kilat mataku mengarah pada segelas kopi yang aku buat, aku meringis dalam hati. Apa yang baru saja kamu lakukan Alleta? bagaimana bisa kamu melamun di tempat kerja?


"Maaf kak lain kali nggak akan seperti ini lagi." cicitku pelan.


"Yaudah kembali bekerja, Joana tolong bantu Alleta hari ini." titah kak Sean. Aku hanya tertunduk merasa bersalah. Joana menepuk punggungku pelan, aku menatap manik matanya yang cantik itu, Joana sangat cantik dengan rambut sebahu lebih terlihat segar di wajahnya.


"Kalau lagi banyak pikiran jangan dipendam kamu bisa membaginya denganku." ujarnya hatiku kembali menghangat.


"Thanks Jo aku bersihkan ini dulu." belum sempat aku berjalan ke arah gudang yang berisi kain pel dan peralatan lainnya pergerakanku dihadang oleh Joana.


"Oh iya Al, kemarin aku nggak sengaja bertemu dengan kak Jefri dengan seorang wanita di cafe, awalnya aku pikir itu kamu tapi setelah aku mendekatinya ternyata bukan dirimu. Hubunganmu dengannya sedang baik-baik saja kan?" tanyanya.

__ADS_1


Apakah aku belum mengatakannya jika aku sudah tidak ada hubungan dengan mas Jefri? "Kami memutuskan untuk berpisah." tuturku lembut terkesan santai seperti tidak terjadi apapun pada diriku, nyatanya memang tidak ada hubungan apapun antara aku dengan mas Jefri.


"Benarkah? kamu serius Al?" Wah aku nggak percaya ini aku pikir kalian bisa sampai ke jenjang yang lebih serius." celotehnya, aku hanya tersenyum menanggapi.


"Sudah nggak ada kecocokan di antara kami Jo untuk apa diteruskan lagi, dari pada kita saling menyakiti nantinya." sahutku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kiara? Ki?!" seruku memanggilnya. Aku mengekori Kiara sejak tadi, memintanya untuk berbicara kepadaku untuk meluruskan kesalahpahaman kemarin.


"Kia, please jangan gini. Gue minta maaf kalau misalnya gue menyakiti hati lo atau membuat hubungan lo dengan mas Jefri merenggang tapi lo harus tahu Ki gue nggak ada niat sekalipun untuk itu. Gue dan mas Jefri memang nggak ada hubungan apapun, gue kenal dia karena dia sahabat mas Tama. Gue mohon, gue mau kita seperti dulu lagi jalan bertiga dengan Ajin. Maafin gue Kiara. Ya?" kataku memohon. Aku menatap punggung Kiara yang menjauh tak menanggapiku sama sekali. Apa kesalahanku terlalu fatal hingga membuatnya bersikap demikian terhadapku?


Kakiku melangkah cepat belari ke arah Kiara berjalan mundur di depannya. "Kasih tahu gue kesalahan apa lagi yang gue lakukan ke lo biar gue bisa memperbaikinya Ki, lo masih anggap gue sahabat lo kan gue.... aduh..."


"Kak Dirga, sorry harusnya aku nggak jalan seperti tadi." ucapku kemudian membersihkan celanaku yang sedikit kotor.


"Lutut kamu berdarah, kamu yakin baik-baik aja?" tanyanya khawatir.


Aku memperhatikan bajuku yang kusut dan celanaku yang robek tepat di bagian lutut, terdapat darah segar keluar dari sana. "I'm okay kak, luka kecil." balasku terkekeh.


"Ale?" Aku menoleh ke arah mas Jefri karena aku sangat mengenali suaranya. "Kamu lihat Kiara? sejak tadi mas tunggu di parkiran tapi belum juga terlihat."


"Dia...." ucapanku terhenti kala mas Jefri berjongkok di depanku memperhatikan lukaku.

__ADS_1


"Kamu kenapa bisa berdarah?" tanyanya panik. Tolong aku sudah meminta sejak kemarin untuk jangan memperdulikanku tapi nyatanya permintaanku seperti angin lalu untuknya.


"Karena Kiara." bukan aku yang bersuara melainkan kak Dirga. Aku beralih menatap matanya memberikannya kode agar kak Dirga tidak mengeluarkan sepatah katapun kepada mas Jefri. Sungguh aku takut jika nanti menimbulkan keributan lagi, cukup bagiku mendapatkan surat peringatan.


"Lo mau tahu bang mengapa Alleta bisa sampai seperti ini? semua itu karena sahabatnya, Kiara. Gue nggak tahu ada permasalahan apa dengan mereka berdua sampai gue melihat Alleta yang mengemis meminta maaf pada Kiara bahkan sahabatnya ini dengan santainya pergi meninggalkan Ale yang terjatuh karena mengejarnya. Gue nggak habis pikir ada seorang wanita yang seegois dirinya."


"Jangan asal men judge Dirga. Kita nggak pernah tahu permasalahan mereka yang sesungguhnya." sanggah mas Jefri.


Ya, tentu. Aku tersenyum miris saat menyadari mas Jefri yang membela Kiara. Benar, tidak sepenuhnya salah Kiara karena aku yang bodoh di sini. Bisa-bisanya aku berjalan mundur di tempat yang ramai seperti ini.


"Lo bisa bilang seperti itu karena lo nggak melihatnya, gue yang melihatnya sedari awal dan gue dengar semua yang di ucapkan Alleta. Mending lo cari Kiara aja bang nggak ada kepentingan lagi kan di sini? gue juga heran kenapa bisa lo leluasa berkeliaran di sini." ujar kak Dirga acuh.


Aku Menatap kak Dirga dengan kagum, aku tak menyangka jika dia yang akan membelaku di hadapan mas Jefri saat ini.


"Al soal surat itu aku mohon kamu jangan salah paham."


Bagaimana kamu memintaku untuk tidak salah paham mas, dengan kamu memberikan itu kepada mas Tama sama saja kamu menyudutkanku dan membuatku kembali salah paham dengan dirinya.


"Iya. udah kan? harus berapa kali lagi aku bilang untuk jangan peduli lagi kepadaku mas? rasanya ucapanku tempo hari hanya menjadi angin lalu. Tolong bujuk Kiara agar mau berbicara denganku." aku tak peduli siapa yang ada di antara kami sekarang karena aku sudah sampai di titik terlelahku.


Aku merasa dipojokkan padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun.


Jika mencintai mas Jefri adalah suatu kesalahan, aku akan mundur dan mencari cinta yang lain.

__ADS_1


__ADS_2