Dear Mas J

Dear Mas J
Menghindar


__ADS_3

Perihal mengungkapkan cinta kepada orang yang di cintai memang perkara sulit termasuk denganku, tidak semua orang punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya dan entah bisa di katakan suatu kemajuan atau justru suatu kebodohan ketika aku menyatakan perasaanku kemarin kepada mas Jefri.


Ada beberapa alasan yang mendasari orang takut atau malu untuk menyatakan cinta salah satu yang aku takutkan adalah bukan penolakan melainkan dia yang akan menjauh dari hidupku karena sejujurnya aku belum siap, 5 tahun lamanya mas Jefri selalu mengganggu hidupku tidak mudah untuk ku melupakan saat kami bersama meskipun dia hanya menganggapku sebagai adiknya saja.


Memang jika cinta yang ditolak sangat menyakitkan, sakitnya seperti ada pisau yang menancap dijantung mengakibatkan luka yang menganga namun tak berdarah.


"Udah bangun?" tanya Aju memasuki kamarnya. Ajun tidur di sofa dan aku meminjam kamarnya untukku tiduri namun aku sama sekali belum bisa tidur dari semalam.


Ponselku sengaja aku matikan setelah menghubungi mas Tama karena mas Jefri, kak Sean dan kak Karin yang menghubungi terus menerus sejak semalam.


"Hidupin ponsel lo Al, gue lelah di teror terus sama bang Jefri."


"Dari mana dia tahu?" dari mana mas Jefri tahu ke mana dia harus mencariku.


"Mereka nggak bodoh Alleta, mereka tahu rumah Ningning ada di sebelah rumah gue secara otomatis gue pasti tahu kalau lo menginap di sana. Gue rasa lo harus dengar penjelasannya lebih dulu."


"Untuk apa Jun? untuk menyakiti gue lagi? gue udah meyakinkan diri untuk nggak peduli kepadanya lagi, nggak mau bertemu dengannya bahkan nggak mau mengenalnya."


"Jangan bercanda Ale." ucap Ajun dengan tatapan serius tatapan yang selalu Ia berikan kepadaku jika aku susah diatur atau susah di beri nasihat.


"Gue lagi nggak mencoba menghibur lo Ojun... harusnya gue yang di hibur sama lo di sini. Lakuin apapun yang bikin gue senang atau ketawa terserah lo, lo mau kayang depan gue atau pakai daster depan gue pun nggak masalah. Lo sahabat gue kan? gue lagi nggak butuh nasihat."


"Lo lagi sedih atau lagi mengidam? permintaan lo cukup mengejutkan gue."


"Gue cukup stress Jun rasanya ingin dipinang laki-laki kaya raya." ucapku asal.


"Yakin? gue kabarin bang Tama ya? minta dijodohin sama kak Dirga aja kalau gitu, jelas-jelas dia orang berada, pintar, tampan, cinta mati sama lo. Kurang apa lagi sih Al? dibanding lo terus mengejar cintanya bang Jefri."


Menatap jengah ke arah Ajun, aku melirik jam yang menempel pada dinding di sudut kamar ini. "Jam lo rusak ya? gue cuma melamun tapi kenapa udah jam 9 pagi." kataku terheran.


"Bukan jamnya yang rusak, otak lo yang rusak karena patah hati semalaman menangisi bang Jefri seorang. Benar ya jatuh cinta sama patah hati membuat orang menjadi bodoh."


"Hah? astaga Ajun gue harus ke cafe kak Sean ada jadwal kuliah nanti jam 11, gue nggak mau pulang larut lagi kasihan sama bunda bahkan gue belum bertemu dengan bu Lili."


"Cepat sarapan setelah itu mandi gue antar lo pulang sekalian ke kampus. Gue temani lo ke cafe ya? yang namanya Sean itu harus gue temui."


"Nggak usah macam-macam." kelakarku.


"Apa sih? gue cuma memastikan dia itu tulus baik sama lo atau ada maunya."


"Terserah, gue pinjam baju lo."


"Pakai sepuasmu sayang." ucapnya menjahiliku.


"Nggak waras."

__ADS_1


Ajun hanya tertawa mendengar ucapanku kemudian berjalan menjauh dari kamarnya setelah diambang pintu dia berbalik. "Ingat jangan buka lemari tengah, benda keramat gue itu." ancamnya, terkadang aku merasa penasaran dengan isi lemari tengah miliknya itu tapi aku takut jika nanti aku dibuat pingsan saat membukanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Melihat depan rumah dan garasi sepi itu berarti tak ada mas Tama juga sahabatnya, setidaknya aku aman tak melihat mereka siang ini. Aku mengajak Ajun memasuki rumah dan menyalimi bunda.


"Bunda memintamu untuk pulang jam 10 malam bukan pulang jam 10 siang Al." aku tahu bunda menyindirku, merasa bersalah aku terdiam sesaat dan meminta maaf kepada bunda.


"Maaf bunda semalam aku memang harus menemani Ningning yang sendirian di rumah."jawabku berdusta. Ajun hanya terdiam tidak ingin berniat ikut campur dengan percakapan aku dan bunda.


"Kalian sudah sarapan?"


"Udah bunda." balas Ajun.


"Bunda di mana ibu Lili? aku belum berkenalan dengannya." tanyaku mencari sosok seorang ibu yang akan membantu mengurus keperluan rumah dan juga menemani bunda.


"Ke pasar tadi di antar nak Jefri tapi belum juga pulang sampai saat ini." mendengar ucapan bunda bahwa mas Jefri baru dari sini aku bergegas menuju kamar dan bersiap.


"Bun aku ke kamar, Jun ambil minum sendiri di dapur ya."


Bunda hanya menggelengkan kepala pelan saat melihat tingkahku. Aku pikir mas Jefri tidak akan kemari hari ini tapi ternyata aku salah sepertinya dia tidak akan mudah menyerah untuk menemuiku.


Entah harus seperti apa nanti jika aku tanpa sengaja bertemu dengannya, mencoba seperti tidak terjadi apapun apakah itu mungkin? aku hanya merasa tidak enak dengan persahabatan mas Tama dengannya nanti.


Aku menghidupkan ponselku yang semalaman ini yang sengaja aku matikan. Banyak notif baru masuk.


...Mas Jefri...


...Kamu di mana?...


...Kamu bersama dengan Ajun?...


...Ale, kita perlu bicara....


...Aku minta maaf seharusnya aku.......


^^^Alleta jangan membuatku khawatir, setidaknya baca pesanku.^^^


...Al kamu udah di rumah? aku antar ke kampus ya?...


...Bisakah kita bertemu? jangan menghindariku terus...


...Al aku jemput ya? kamu masih di rumah Ningning?...


...Aku jemput sore nanti jangan menghindariku lagi atau aku akan memberitahu Tama soal ini....

__ADS_1


Mengapa dia terlalu berlebihan dan mengancamku untuk memberitahu mas Tama. Masa bodoh terserah padanya.


...Mas Tama...


...Kapan pulang?...


...Jefri mencari kamu, mas nggak tahu ada masalah apa dengan kalian tapi dia terlihat frustasi. Jangan menghindari masalah, mas dan bunda nggak pernah mengajarimu untuk menjadi pengecut. Cepat pulang dan bertemu dengan Jefri....


•••••••


...Kak Rossie...


...Ale are you okay?...


...it's okay darl. Ada yang aku ingin tanyakan kepadamu....


•••••••


...Mas Jefri...


Pesanku bukan koran.


So sorry.


^^^Ya^^^


bisa kita ketemu?


^^^Maaf, aku sibuk^^^


Sibuk untuk menghindariku?


^^^Mungkin^^^


^^^Aku sudah memafkanmu mas jadi jangan menggangguku lagi^^^


Aku sungguh minta maaf jangan menghindariku atau membenciku Al.


...You blocked Mas Jefri...


••••••


...Mas Tama...


...Unblocked Jefri Al, kalian yang ribut mengapa harus mas yang di repoti? Pertengkaran kalian seperti pertengkaran rumah tangga pada umumnya. ...

__ADS_1


Mengapa keduanya membuatku stress.


__ADS_2