
Aku Merapatkan jaketku saat merasakan udara semakin dingin, aku berjalan masuk ke arah cafe Montana di mana tempatku bertemu dengan kak Karin tempo hari.
"Permisi, kak Johnny nya ada?" tanyaku kepada salah satu pelayan cafe saat aku memasuki cafe tersebut.
"Oh, ada perlu apa ya kak? itu pak Johnny ada di sana." tunjuknya.
Mataku beralih ke arah tempat yang ditunjuk wanita tadi. "Makasih ya mbak." ucapku lalu berjalan menghampiri kak Johnny yang sedang berbincang dengan salah satu wanita di meja paling pojok.
Sedikit terkejut saat mengetahui wanita yang sedang bersama kak Johnny adalah kak Karin, aku semakin berjalan cepat ke arah mereka.
"Alleta, kamu?" ucap kak Karin terkejut saat aku mendekati mereka.
"Lho kamu kenal Ale sayang?" sayang? apa kak Karin sudah move on dari mas Jefri? secepat itu kah? Ku lambaikan tanganku untuk menyapa mereka.
"Hai kak Karin, kak Johnny."
Kak Johnny memintaku untuk duduk dan memanggil salah satu pegawainya yang ada di dekatnya untuk menyediakan minum dan camilan untukku. "Kamu sendiri malam-malam begini? di mana Jefri?" tanya kak Karin.
Mana mungkin aku mengajaknya kemari karena aku tidak memberitahu siapapun akan kemari, begitu juga dengan mas Tama maupun mas Jefri.
"Kalian saling mengenal?" tanya kak Johnny menyela obrolan kami. Baik aku dan juga kak Karin kami sama-sama menganggukkan kepala singkat.
"Dia ini kekasih Jefri loh mas." ucap kak Karin memberitahu, aku melirik ke arah kak Johnny yang terlihat terkejut karena aku yakin dia tidak akan tahu menahu soal ini mengingat mas Tama dan mas Jefri kenal dekat dengan kak Johnny, jika aku dan mas Jefri memiliki hubungan lebih sudah dipastikan kak Johnny akan mengetahuinya.
"Kak, aku kemari ingin meminta bantuan. Aku butuh pekerjaan, apa kak Johnny punya pekerjaan untukku? aku butuh kerja part time dan sedang butuh uang." jelasku mantap karena tujuan awalku kemari karena ini.
Tidak mungkin aku selalu meminta uang kepada mas Tama, terlebih mas Tama butuh biaya banyak untuk mengobati bunda jadi aku memutuskan untuk membiayai kuliahku sendiri dengan bekerja paruh waktu.
"Kamu yakin Al?" tanya kak Karin memastikan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Tama dan Jefri kalau mereka tahu kamu bekerja Al?" aku memejamkan mataku mencoba untuk berpikir sesaat, memberikan jawaban sekaligus meminta pengertian kepada mereka.
"Kak... aku butuh pekerjaan ini, aku nggak bisa terus-terusan bergantung dengan mas Tama, mas Tama juga butuh keperluan lain dan juga biaya berobat bunda, bunda kami sedang sakit dan butuh biaya yang cukup banyak. Aku nggak masalah pekerjaan apapun itu pasti aku terima untuk membiayai kuliahku, hum?" ucapku bersungguh-sungguh dan memohon kepada mereka, keduanya saling menatap dan kembali menatapku bergantian.
"Lalu bagaimana dengan mereka Al? masmu dan Jefri, mereka pasti akan memarahiku karena mengijinkanmu bekerja di sini." sedikit merasa kecewa dengan jawaban kak Johnny tapi aku membenarkan ucapannya.
Saat mas Tama mengetahui aku bekerja di sini dia pasti akan memarahiku dan juga kak Johnny, aku mengerti akan hal itu. "Yasudah kalau begitu kak, Ale pamit ya."
"Ale, tunggu. Bagaimana jika kamu bekerja di cafe sepupuku? letaknya tidak jauh dari kampusmu jadi aku rasa Jefri dan juga Tama tidak akan mengetahuinya... kami akan merahasiakan ini dari Tama dan juga Jefri."
Ya Tuhan, aku tahu wanita yang ada di hadapanku ini orang yang sangat baik.
Dengan mata yang berbinar aku mengangguk setuju dan tersenyum sumringah. Merasa lega akhirnya aku bisa membantu mas Tama, yang jadi masalah saat ini adalah bagaimana caranya aku meminta ijin kepada mas Tama untuk pulang telat setiap hari.
"Kak, terima kasih. Aku tidak tahu lagi harus.."
"Oke, berikan nomormu." pinta kak Karin mengulurkan ponselnya kepadaku. Aku mengetikkan nomorku di ponselnya dan mengembalikan ponsel kak Karin ke arahnya kembali.
"Besok aku akan menghubungimu dan menjemputmu di kampusmu, kita ke tempat Sean bersama." ucapnya. Sean? apa sepupu kak Karin bernama Sean?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam menunjukan pukul 10 malam, aku berjalan gontai memasuki rumah. Rumah terlihat sepi dan gelap gulita, sangat jelas karena mas Tama sedang menjaga bunda di rumah sakit sedangkan aku baru kembali ke rumah sejak berangkat dari kampus jam 1 siang.
Aku terkejut kala lampu menyala tiba-tiba, "Dari mana saja kamu Alleta Anjani?"
Suara itu suara mas Tama, mengapa dia ada di rumah? lalu siapa yang menjaga bunda di rumah sakit?
"Mas? kenapa mas bisa di rumah? siapa yang menemani bunda di rumah sakit?" tanyaku.
__ADS_1
Mas Tama menatap mataku nyalang, aku tahu dia sedang marah padaku karena aku sengaja mematikan ponselku seharian. "Kamu? kamu dari mana? apa kegunaan ponsel kalau kamu nggak mengabari mas seharian? kamu tahu bunda nyariin kamu terus dan khawatir karena kamu nggak ada kabar seharian ini. Kalaupun kamu sibuk kamu bisa mengabari aku, meninggalkan pesan singkat apa susahnya." tegurnya.
Maaf mas aku sedang banyak berpikir hari ini. Berpikir bagaimana caranya aku bisa membantumu untuk meringankan bebanmu?
"Jefri mencarimu di kampus tapi dia sama sekali nggak menemukan kamu, bahkan kamu mulai berani untuk membolos. Bisa-bisanya kamu? mas nggak menyangka kamu bisa bertindak seperti ini Al. Kamu benar-benar menghilang hari ini, sahabat-sahabat kamupun nggak tau keberadaan kamu. Apa yang ada di pikiran kamu sampai kamu berani seperti ini? jauhi mereka karena mereka membawa pengaruh negatif untukmu."
Aku terkesiap saat mas Tama memintaku untuk menjauhi mereka? mereka yang di maksud mas Tama itu siapa? Sahabat-sahabatku kah? bukankah mas Tama tahu jika aku kesulitan bersosialisasi bahkan temanku bisa di hitung dengan jari.
Sebenarnya ada apa dengan ini semua? mas Tama tidak akan memarahiku sampai seperti ini, ku rasa dia sedang salah paham saat ini.
"Mas, aku memang membolos hari ini karena aku ke perpustakaan kota seharian dengan kak Dirga. Aku memang nggak memberitahu Ajun dan Kiara, maaf aku lupa mengabari kalian karena ponselku mati." ucapku berdusta tapi untuk ke perpustakaan kota aku tidak berbohong dan juga memang aku bertemu dengan kak Dirga di sana.
Mas Tama menghampiriku dengan mata yang semakin menatapku tajam. "Lalu apa gunanya Dirga ada di sana? kamu bisa meminjam ponselnya untuk menghubungiku bukan? tujuan mas menyekolahkanmu ke tingkat yang lebih tinggi agar kamu tidak bertindak bodoh seperti ini Alana. Dan juga mas peringatkan kamu, jauhi teman-teman kamu itu karena mereka bisa mencuci otakmu dan mas nggak mau punya adik yang nakal."
"Maksud mas apa? Ale sama sekali nggak mengerti dengan teman ataupun mereka. Teman-teman yang mana mas? bahkan mas mengenal semua temanku." ucapku tak terima.
Ku lihat mas Tama merogoh ponselnya di sakunya entah apa yang sedang dia lakukan, beberapa detik kemudian mas Tama memperlihatkan sebuah foto kepadaku, foto seorang laki-laki tua yang sedang memelukku mesra.
Aku mengingatnya, kejadian itu saat di mana aku terjatuh di taman beberapa hari yang lalu dan aku dibantu oleh Beliau, tapi mengapa bisa ada foto itu dan siapa yang mengabadikannya?
"Ini? sejak kapan kamu memulainya? kamu butuh uang, mengapa tidak memintaku Alleta?! mengapa harus melakukan itu. Mas dan bunda tidak pernah mengajarimu untuk melakukan hal yang tidak pantas seperti ini. Sudah sampai sejauh mana kamu?" aku mengerjapkan mata berkali-kali berpikir se tega itukah mas Tama menganggapku sebagai wanita yang tidak memiliki moral.
"Jauhi Jessie dan teman-temannya, mas melarang kamu untuk bergaul dengan mereka."
Jessie dan teman-temannya memang terkenal di kampusku karena kabar yang beredar mereka yang memang melakukan tindakan yang tidak bermoral, tidak ada yang masalah dengan itu termasuk rektor dan jajarannya yang tidak peduli dengan kabar yang beredar mengenai mereka.
"Mas, kamu salah paham. Aku tidak pernah berteman dengan Jessie, sama sekali tidak. Foto itu memang benar adanya tapi bukan berarti aku menjadi wanita yang mas tuduhkan tadi. Harusnya mas bertanya dahulu kepadaku bukan langsung menuduhku. Mas bisa tanya dengan kak Dirga, dengan siapa dia siang ini? perihal foto itu aku rasa nggak ada yang perlu aku luruskan karena aku membantahpun nggak akan berarti bagimu kan? maaf kalau Ale belum bisa menjadi adik yang berbakti dan membanggakan buat mas." ucapku menatap mas Tama kecewa, aku membalikkan tubuhku menuju kamar untuk menjauhi mas Tama, rasanya sakit ketika dituduh melakukan hal yang tidak pernah kita lakukan sama sekali.
Siapa yang tega memfitnahku?
__ADS_1