
Aku tidak tahu menahu dan dibuat kebingungan saat aku mendapat pemberitahuan melalui pesan dari Dosen Pembimbing Akademikku untuk menghadap ke ruangannya segera.
Aku berjalan tergesa memasuki ruangan Dosen Pembimbing Akademikku yang bernama pak Aksara. "Permisi Pak." ucapku seraya mengetuk pintu, mendapat balasan dari Beliau yang memintaku untuk masuk aku berjalan menghampirinya yang sudah duduk di sofa, sepertinya memang sudah menungguku sejak tadi.
Beliau ini masih muda tapi jangan salah meskipun muda, Beliau sangat tegas dan tidak pandang bulu untuk menghukum siapapun yang salah.
"Duduk Alleta, saya sudah menunggumu sedari tadi." ucapnya memintaku untuk duduk tak jauh dari tempatnya duduk. Aku mendudukan diri di sofa yang ada di sebelahnya.
"Maaf pak sebelumnya, mengapa saya diminta untuk bertemu bapak? apa saya melakukan kesalahan?" tanyaku to the point, jujur saja sejak tadi mulutku sudah gatal karena penasaran dengan alasan mengapa aku bisa sampai kemari.
Pak Aksara mengulurkan sebuah amplop di meja yang kebetulan ada di hadapanku. Tanganku tergerak untuk mengambil amplop tersebut dan membukanya aku mendapati selembar kertas HVS dengan kop surat dari fakultasku dan tertanda dari wakil dekan bagian kemahasiswaan. Aku membacanya sekilas lalu tertunduk lemas.
"Ini surat peringatan pertamamu. Kalau kamu dapat tiga kali surat peringatan kamu akan dikeluarkan dari kampus. Saya harap ini yang pertama dan terakhir. Saya tidak ingin lagi ada kekacauan di kampus karena ulah kamu termasuk dengan foto yang tersebar ini. Saya yakin kamu tidak seperti yang orang-orang katakan tapi biar bagaimanapun sanksi harus tetap berjalan Alana karena kamu membuat keributan di kampus. Kamu mengerti?"
"Mengerti pak." balasku pasrah.
"Kalau begitu silahkan kamu keluar."
Saat aku keluar dari ruangan pak Aksara, Ajun sudah menatapku dengan wajah khawatir akupun tidak tahu sejak kapan dia sudah berdiri di sana. "Ada apa Al?" tanyanya, aku tak kuasa menjawab dan hanya bisa mengulurkan surat peringatan itu kepadanya.
"Kenapa lo bisa sampai dapat ini sih Al?" tanya Ajun tak mengerti. Jika Aku bertanya kenapa bisa akupun tak tahu mengapa foto itu bisa sampai ke tangan Dekan Fakultasku dan siapa orang yang melakukannya.
"Gue nggak tahu Jun siapa yang melakukan ini yang jelas gue merasa nggak memiliki musuh."
"Lo tenang aja, nanti gue cari tahu jangan terlalu dipikirin ya?"
__ADS_1
Aku menghapus air mata disudut mataku kemudian tersenyum kepadanya, mengucap syukur setidaknya aku masih memiliki Ajun di hidupku saat ini dan berharap hubungan kami tidak akan berubah.
"Ke kantin yuk, gue lapar." ajakku menarik lengannya menjauh dari sana.
Kantin hari ini cukup ramai penuh dengan mahasiswa yang sedang menyantap makan siangnya, kantin ini memang sangat luas dengan kursi kayu berwarna cokelat tua yang berjajar rapi. Suasana kantin pun ramai dengan gurauan, canda tawa, obrolan singkat, dan ada pula yang mengeluh karena tugas mereka yang padat.
Aku menatap sedih ke arah Kiara yang sedang duduk termenung sendirian, ingin hati menghampirinya tapi aku tahu diri jika Ia masih marah denganku.
"Di makan jangan cuma dimainin." tegur Ajun karena sejak tadi aku hanya mengaduk makananku tidak berniat untuk memakannya padahal aku sendiri yang mengatakan jika aku lapar tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore ini aku menyelesaikan pekerjaan part timeku dengan cepat karena kebetulan jam 2 siang tadi aku sudah keluar dari kampus mengingat dosenku yang berhalangan hadir. Aku sampai di rumah pada pukul 5 sore dan sudah mendapati mas Tama yang duduk di ruang keluarga bersama bunda juga bu Lili. Aku menghampiri mereka dan menyalami bunda juga mas Tama.
"Mandi dulu sayang, lalu makan setelah itu ke kamar bunda ya? ada yang ingin bunda tanyakan." ucap bunda membuatku termenung aku takut baik mas Tama ataupun bunda mengetahui jika aku mendapatkan surat peringatan dari kampus. Aku berpikir untuk membuangnya nanti.
Setelah mandi aku meraih tas yang ku bawa hari ini dan mencari surat yang diberikan oleh Dosen Pembimbing akademikku namun aku tak menemukannya sama sekali. Panik itu yang kurasakan saat ini, bagaimana bisa surat itu tak ada dalam tasku karena aku sangat mengingatnya setelah Ajun membacanya aku segera melipatnya dan ku masukkan ke dalam tas dan aku tidak membukanya lagi setelah itu.
Sekali lagi aku merogoh isi tasku dan menjatuhkan semua isinya di atas kasur, mencari satu persatu kemungkinan bisa saja surat itu terselip dan tidak mungkin jatuh karena tasku yang masih tertutup rapat.
"Mencari ini?"
Aku menoleh saat mendengar suara mas Tama, mas Tama memasuki kamarku dan menutup pintu kamarku pelan. Dirinya berjalan ke arah meja dan melempar kasar surat yang aku cari sejak tadi.
Aku memejamkan mataku takut sedangkan mas Tama berjalan ke arahku dengan tarikan nafas yang dalam, aku tahu jika dirinya sedang menahan emosi.
__ADS_1
"Duduk, mas mau bicara sama kamu." ucapnya dingin. Apalagi ini aku belum berdamai dengannya mengapa ada lagi masalah baru.
Mas Tama mendudukan dirinya di bangku meja riasku sedangkan aku mendudukan diri di tepi ranjang, hanya menunduk tidak berani untuk menatap mas Tama.
"Mas nggak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi sikap kamu sekarang, Alleta adik yang mas kenal telah berubah."
"Sebagai kakak, apa mas masih kurang memberikan semua kebutuhanmu?"
"Kamu mengerti jika mas sebagai pengganti Ayah, mas berusaha untuk memberikan semua yang mas punya untuk kamu, untuk bunda meskipun mas tahu hanya ayah yang bisa memberikan itu tapi mas berusaha keras untuk memenuhi semua kebutuhan kamu." ucapnya lirih membuatku menahan tangisanku, rasanya sesak mendengar mas Tama sekecewa itu terhadapku.
"Kamu bisa minta pada mas kalau membutuhkan sesuatu, mas pasti akan berusaha untuk memenuhi itu tapi tolong jangan meminta kepada orang lain Al. Kamu tahu? mas merasa kecewa dan merasa kamu nggak menghargai usaha mas selama ini." bukan seperti itu mas, aku sama sekali tidak melakukan kesalahan itu.
"Mengapa hanya diam? merasa bersalah sekarang? sudah merasa menyesal dengan apa yang kamu lakukan?"
"Jawab." bentaknya. Aku beringsut mundur dan menggelengkan kepalaku pelan, air mataku sudah tak kuasa ku tahan dan mengalir begitu saja dari sudut mataku.
"Mas aku tahu mas mengenalku dengan baik, aku nggak akan melakukan hal yang menjerumuskan diriku sendiri."
"Jelaskan mengapa kamu bisa mendapat surat peringatan."
Aku menjelaskan semuanya kepada mas Tama tanpa ada yang aku tutupi kecuali kejadian saat aku dan mas Jefri membuat keributan di koridor fakultasku tempo hari karena menurutku mas Tama tidak perlu tahu tentang itu, fokusku sekarang adalah perihal fotoku yang tersebar dan siapa dalang dibalik semua itu hingga aku mendapatkan surat peringatan sedangkan Jessie yang jelas-jelas sudah tersebar desas desusnya tidak mendapatkan sanksi apapun, aku merasa tidak adil di sini.
"Terserah mas mau mempercayaiku atau nggak yang jelas aku nggak mungkin berbohong tentang masalah ini."
"Lalu dari mana mas mendapatkan surat itu?"
__ADS_1
"Jefri."
Dari mana mas Jefri mendapatkan surat itu? apa surat itu jatuh? tapi mengapa mas Jefri memberikannya kepada mas Tama? bukankah dia sudah berjanji tidak akan peduli kepadaku lagi.