Dear Mas J

Dear Mas J
Jika Sang Hati Terlanjur Dikecewakan


__ADS_3

Dengan langkah tergesa aku melangkah menuju rumah saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, jalanan hari ini sungguh sangat kacau bahkan aku membutuhkan waktu 2 jam lebih untuk sampai di rumah, ditambah aku belum sempat menghubungi bunda ataupun mas Tama karena ponselku yang habis daya baterai, aku yakin bunda pasti khawatir mencariku.


Letak perumahan kami memang tidak terlalu jauh dari halte, maka dari itu aku sudah terbiasa berjalan kaki karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumahku.


Namun, sialnya aku melupakan malam ini adalah hari Sabtu pantas saja jika jalanan sangat ramai dan membuat kemacetan ada di setiap jalan. Aku memperhatikan sekitar banyak anak muda yang berlalu-lalang di sekitar kompleks perumahanku.


Aku mendadak cemas kala melihat perkumpulan laki-laki muda yang sedang minum alkohol, baunya sudah tercium dari tempatku berdiri, berusaha berpikir apakah aku harus melewati mereka atau aku harus mencari jalan lain, jika aku mencari jalan lain kemungkinan untuk sampai di rumah semakin larut dan rute lain itu termasuk jalanan yang bisa dibilang lumayan sepi.


Hampir saja aku menjerit saat sebuah mobil menghalangi jalanku dan berhenti tepat saat aku menghentikan langkah. Aku menoleh ke arah mobil tersebut, ingin memaki orang yang ada di dalamnya bisa-bisanya dia berhenti seenaknya.


Namun, niatku terhenti kala aku sangat mengenali siapa pemilik mobil tersebut. Untuk apa mas Jefri ada disekitaran rumahku di jam segini?


"Ale kamu dari mana aja?" tanyanya setelah membuka kaca jendela di samping jok pengemudi. Aku tak bergeming sama sekali juga tak berniat untuk menjawabnya pun.


Tak mendapat jawaban apapun dariku mas Jefri menyuruhku untuk memasuki mobilnya dan tanpa pikir panjang aku segera memasuki mobilnya, dibanding aku harus melewati kerumunan anak muda tadi ataupun memilih mencari jalan lain yang lebih sepi.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku Al, dari mana saja kamu sampai pulang selarut ini? Tama sangat khawatir padamu." Aku mengalihkan wajahku terlalu malas untuk mencari jawaban dari pertanyaannya.


"Mas, semakin hari mengapa semakin bertindak seperti mas Tama?" tanyaku heran, pasalnya mas Jefri ini terlalu berlebihan, aku ini bukan siapa-siapanya dan dia hanya sahabat mas Tama meskipun aku kenal dekat dengannya bukan berarti dia aku ijinkan untuk mengetahui semua tentangku bukan?


Aku hanya ingin cepat sampai rumah, hari ini sungguh menjadi hari yang sangat melelahkan untukku. Mungkin karena ini hari pertamaku bekerja dan ku rasa aku belum terbiasa dengan itu, jadi tolong mas jangan mengajakku untuk berdebat dan membuat kepalaku sakit karena sulit untuk mencari alasan lain.

__ADS_1


"Mas, aku sungguh lelah bisa antarkan aku ke rumah sekarang." ucapku sedikit memohon kemudian bersandar pada jok mobil dan memejamkan mataku karena merasakan sakit di kepalaku hingga akhirnya aku tidak sadar jika aku tertidur.


Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku mengerjapkan mataku berkali-kali mencoba untuk mengumpulkan semua nyawaku dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling ternyata aku masih berada di dalam mobil mas Jefri, dengannya yang masih setia di sampingku.


Aku melirik ke arah kursi pengemudi dan melihat mas Jefri yang sedang bersandar menutup matanya dengan lengannya, tanpa sadar aku mengecek ponselku mencari tahu seberapa lama aku tertidur. Mengapa dirinya tidak membangunkanku?


"Sudah bangun?" tanyanya lembut.


"Mengapa tidak membangunkanku mas? hampir sejam kamu menungguku untuk ini? masih banyak hal lain yang bisa mas lakukan dibanding hanya menemaniku yang tertidur."


"Kamu terlihat lelah maka dari itu mas nggak tega membangunkanmu, apa tugas kuliahmu menumpuk? mas nggak pernah melihat kamu sampai seperti ini Al."


Mas tolong berhenti, berhenti memperlakukan aku seperti ini. Aku hanya takut semakin sulit untuk melepasmu karena ada hati yang harus aku jaga pula. "Lebih baik mas Jefri pulang atau mas bisa mengajak Kiara berkencan, bukan ide yang buruk menurutku mengingat ini malam minggu." saranku padanya, mas Jefri hanya tersenyum tipis.


"Mas?"


"Aku cuma memastikan kamu nggak dapat omelan dari Tama." ucapnya.


Aku mengacuhkannya dan kembali masuk ke dalam rumah, kemudian mendapati mas Tama yang sudah menungguku di ruang tamu sendirian. Aku rasa bunda sudah istirahat di kamarnya.


"Alleta dari mana aja kamu? bisa nggak sehari aja nggak buat mas ataupun bunda khawatir? alasan apa lagi kamu hari ini?"

__ADS_1


"Sesuai dengan yang mas pikirkan tempo hari tentangku, aku mencari uang dari mereka." ucapku terkesan santai. Mas Tama mengepalkan tangannya dan berjalan menghampiriku.


"Ulangi yang kamu katakan?"


"Dengarkan ini baik-baik mas, aku baru pulang dari melayani mereka. Bagaimana? itu kan yang ingin mas Tama dengar dariku? jadi mas Tama nggak perlu bertanya-tanya lagi atau mencari informasi dari orang lain, cukup aku yang beritahu." tegasku.


Aku tidak sepenuhnya berbohong karena aku memang mencari uang dari melayani mereka, mereka di sini yang ku maksud adalah pengunjung cafe kak Sean karena aku bekerja sebagai pelayan cafe di sana.


"Kamu..." ucapan mas Tama tercekat kala mas Jefri menarikku menjauh dari mas Tama dan membawaku untuk berdiri di belakangnya.


"Dia jalan sama gue Tam."


"Mas Jefri berbohong kami baru aja bertemu di depan komplek."


Mas Jefri menoleh ke arahku secepat kilat, menghunusku dengan tatapan tajamnya seakan berbicara dan memintaku untuk diam sesaat.


"Gue rasa lo salah paham. Ale nggak mungkin melakukan itu Tam, kita sama-sama tahu bagaimana sikap dan sifat Alleta."


"Mas, berhenti membantuku karena aku bukan anak kecil lagi. Terserah kalian mau berpendapat apapun tentangku, aku udah nggak peduli. Kalau kalian berpikir aku seperti itu aku bisa aja mengabulkan tuduhan kalian. Aku udah dewasa, aku nggak suka diatur dan juga untukmu Mas Jefri tolong jangan pedulikan aku lagi karena ada hati yang harus kamu jaga, aku hanya nggak mau menyakiti hati sahabatku."


"Aku dan mas Jefri nggak memiliki hubungan apapun semua yang mas Jefri katakan itu nggak benar, aku lelah jika harus berbohong terus menerus jadi berhenti memintaku untuk melakukan hal bodoh lagi."

__ADS_1


"Untukmu mas Tama, mungkin ke depannya aku akan sibuk karena aku sedang mengejar beberapa SKS demi menyelesaikan kuliahku lebih cepat karena aku nggak mau menyusahkanmu terus-menerus. Aku tahu bebanmu lebih berat nanti jadi nggak perlu khawatir aku pulang larut atau jarang ada di rumah, tapi tenang aja aku akan selalu membantu merawat bunda." tambahku lagi, aku bergantian menatap mas Tama dan mas Jefri yang sedang menatapku tak percaya, ada yang salahkah dengan ucapanku? sudah saatnya aku mengeluarkan semua isi hatiku. Sudah kukatakan diawal bahwa aku mulai lelah menghadapi ini semua.


Aku meninggalkan mereka berdua tanpa berpamitan terlebih dahulu. Saat menaiki anak tangga aku mendengar suara mas Tama yang meminta penjelasan kepada mas Jefri, biarkan saja mereka menyelesaikannya akupun tak peduli jika nantinya mereka harus bertengkar karenaku. Katakan aku jahat, ya mungkin memang aku jahat, tapi siapa peduli.


__ADS_2