
"Dek kamu ijin ngampus hari ini ya? mas tunggu di rumah sakit, bunda di opname." kalimat mas Tama disambungan telepon beberapa menit yang lalu selalu terngiang di kepalaku. Mas Tama baru saja menghubungiku tepat saat kelas pertamaku usai.
"Jangan panik, mas minta tolong Dirga buat jemput dan antar kamu ke mari. Jangan menolak, mas cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa di jalan."
Sesuai arahan dari mas Tama aku menunggu kak Dirga datang menjemputku, rasanya kepalaku sakit dan telingaku berdengung mendengar kabar bahwa bunda di rawat di rumah sakit.
"Ki, gue titip absen ya?"
"Lo mau ke mana Al?" tanya Ajun yang kebetulan ada di samping Kiara.
Memejamkan mata sesaat dan menahan tangis, aku memberitahu mereka bahwa bunda sakit. "Bunda sakit, opname di Tjipto." ungkapku. Kiara beralih menatapku dan menarikku ke dalam rengkuhannya.
Kiara mencoba menenangkanku dan berbisik, "Gue absenin nanti, yang sabar ya Al, gue yakin bunda baik-baik aja." Aku mengangguk paham seraya merapakalkan do'a untuk kesembuhan bunda. Hanya bunda dan mas Tama yang aku punya jangan ambil bunda sekarang Tuhan.
"Gue antar ya?" tawar Ajun. Aku menoleh ke arah Ajun dan melepaskan rengkuhan Kiara.
"Nggak usah Jun, gue diantar kak Dirga." tolakku.
Mengerti akan maksud dari tatapan Kiara kepadaku saat dirinya meminta penjelasan mengapa bisa kak Dirga yang menjemput dan mengantarkanku ke rumah sakit. Nanti ya Kia aku pasti jelaskan kepadamu.
Aku merogoh ponselku saat notif pesan dari kak Dirga yang memberitahu bahwa dirinya sudah di parkiran Fakultasku.
"Kak Dirga udah di parkiran, gue duluan ya. Nanti gue cerita Ki, makasih ya guys." pamitku kepada mereka.
"Iya, salam buat bunda sama mas Tama. Semoga bunda lekas sembuh!" seru Ajun sedikit berteriak karena dirasa aku sudah menjauh dari tempat mereka berdiri.
Aku membalas lambaian tangan kak Dirga yang sedang duduk bersandar di kap mobilnya. "Kak sorry buat kakak repot." ucapku sungkan.
"It's okay, saya juga lagi nggak ada kerjaan."
"Hari ini, kakak libur?"
"Kamu lupa saya lagi menyusun skripsi ya?" ucapnya. Aku tak membalas ucapannya dan lebih memilih untuk diam. Sedang memikirkan alasan bunda bisa masuk rumah sakit karena setahuku bunda hanya mengeluh bahwa perutnya sakit tadi pagi.
"Bunda kamu baik-baik aja, tadi kakak kamu mengabari saya kondisi bunda kamu sudah membaik." jelas kak Dirga membuatku yang tadinya sedang menatap jalanan beralih menoleh ke arahnya. Syukurlah, setidaknya aku merasa lebih lega dibanding tadi.
"Saya beliin kamu ini, diminum supaya lebih rileks." ujarnya memberikanku se cup hot thai green tea kesukaanku.
__ADS_1
"Thank you. Kak kenapa kamu baik sama aku? jangan terlalu baik, aku cuma takut nggak bisa balas kebaikan kakak nanti." jelasku.
"Selama ini saya bantu kamu nggak pernah pamrih dan saya rasa kamu pasti tahu jawabannya alasan saya bisa bersikap seperti ini ke kamu."
"Alleta, saya nggak pernah meminta kamu buat balas perasaan saya, cukup biarkan saya selalu ada buat kamu, itu sudah bisa membuat saya bahagia. Jangan sungkan untuk minta bantuan ke saya, jangan merasa terbebani dengan semua yang saya lakuin buat kamu. Okay?" dia menatapku tulus tepat saat lampu merah menyala.
"Sorry kak, aku nggak bisa. Aku nggak mau menyakiti siapapun kak, termasuk kak Dirga."
"Siapa bilang? saya juga nggak bisa memaksa kamu buat jatuh cinta sama saya kan? maka dari itu cukup jalanin seperti biasa, anggap kamu nggak pernah tahu kalau saya memiliki perasaan lebih sama kamu."
"Kak?" rasanya aku sudah tak sanggup untuk berkata-kata lagi.
Mengapa harus seperti ini? mengapa kak Dirga harus sejujur, setulus, dan sebaik itu kepadaku? kami kembali dilanda keheningan sampai akhirnya rumah sakit di mana tempat bunda di rawat terlihat olehku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku memasuki kamar inap bunda dan melihat mas Tama yang sedang berbicara dengan bunda. Syukurlah keadaan bunda tidak terlalu parah, tanpa memberi salam lagi aku berjalan tergesa ke arah mereka dan memeluk bunda sebisaku.
"Bunda, jangan seperti ini lagi. Ale nggak mau kehilangan lagi." lirihku dengan air mata yang sudah terjun bebas sejak tadi.
Aku menatap mata bunda dan melihat wajahnya yang pucat, tangan bunda yang menganggur menghapus bulir air mataku yang berjatuhan. "Putri bunda jangan nangis, malu dilihat 3 jagoan di sana."
Aku melirik mas Tama yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kami sampai aku melupakan kak Dirga yang masih berada di sini dan sialnya sejak kapan mas Jefri ada di samping mas Tama? aku sama sekali tak melihatnya saat aku masuk ke ruangan ini.
"Al, mas mau bicara sama kamu." ucapan mas Tama membuatku melepaskan pelukanku dan menghapus sisa air mataku, aku yakin wajahku sudah pasti kacau saat ini. Mas Tama menghampiriku dan menarik lenganku pelan, mengajakku entah ke mana.
"Bunda ditinggal sebentar ya? Dirga, saya titip bunda sebentar. Ayo Jef." ucapnya sebelum menggiringku keluar.
Memperhatikan keduanya bergantian, aku sama sekali belum mengerti apa yang ingin mereka bicarakan.
Di sini kami bertiga berada sekarang, tepatnya di tengah-tengah kantin rumah sakit.
Mas Tama hanya terdiam menatapku sedangkan mas Jefri terdiam menatap secangkir coffee yang Ia pegang sejak tadi, apa coffee itu terlihat lebih menarik dari pada aku?
"Mas? mau sampai kapan kalian hanya diam? cepat bilang ada apa? ada apa dengan bunda?" tanyaku menggebu.
Bukan jawaban yang kudapat, keduanya saling menatap satu sama lain membuatku menatap jengah ke arah mereka. "Kalau nggak ada yang perlu dibicarain, lebih baik aku menemani bunda." bersiap untuk berdiri dan meninggalkan mereka. Niatku terhenti kala mas Tama memintaku untuk kembali duduk.
__ADS_1
"Duduk." tegasnya.
"Bunda sakit." jelasnya.
"Aku juga tahu mas, untuk apa bunda dirawat kalau bukan karena sakit." protesku kesal saat mendengar jawabannya.
"Dengar dulu penjelasan dari masmu Al." saran mas Jefri menatapku. Aku kembali terdiam membiarkan mereka berbicara.
"Dek, kamu masih memiliki mas dan Jefri. Apapun yang terjadi nanti, kita lewati bersama." ucap mas Tama serius membuat jantungku berdegup tak karuan. Ada apa ini sebenarnya?
"Dokter mendiagnosa bunda mengidap Demensia."
Aku terdiam mencerna kalimat mas Tama, mencari kebenaran melalui matanya. Mas Tama tidak mungkin berbohong tentang penyakit bunda, aku tahu dia sedang tidak bercanda dan tidak main-main saat ini.
Air mataku kembali luruh. Mengapa harus bunda?
Bagaiaman bisa bunda mengidap Demensia?
Jelas sekali, aku sangat mengetahui apa saja akibat dari penyakit itu.
"Berapa lama harapan bunda untuk hidup?" ucapku lirih, lebih tepatnya seperti bergumam pelan.
"4-5 tahun. Al, semuanya ada di tangan Tuhan. Kita harus banyak berdo'a untuk kesembuhan bunda."
"Mas, penyakit itu mengakibatkan kematian dan belum ada yang bisa sembuh dari penyakit itu. A- aku takut bun-da." rasanya aku tak bisa melanjutkan ucapanku, mas Tama menghampiriku dan merengkuh tubuhku membuatku semakin menangis tersedu dipelukannya.
Duniaku hancur seketika.
"Kita rahasiakan ini dari bunda, malam ini biar mas yang jaga bunda. Ajak Kiara dan Ajun ke rumah untuk menginap di rumah, nanti Jefri yang akan menemani kalian."
Jika kesembuhan itu ada untuk bunda biarkan bunda sembuh Tuhan. Aku ingin bersama bunda lebih lama. Aku ingin bunda berada di sampingku saat aku menikah dengan orang yang aku cintai, Aku ingin bunda melihat tumbuh kembang anakku nanti.
Aku belum bisa membalas jasa ayah dan bunda, tapi aku akan berusaha untuk membuat mereka bahagia. Biarkan kami bahagia lebih lama lagi. Aku mohon.
..........
Demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari penderitanya. Hal ini sering mengakibatkan penderita harus bergantung pada orang lain.
__ADS_1