
Aku berlari ke arah kampusku dengan tergesa pasalnya aku melupakan jadwal pak Layandra yang memajukan kelasnya lebih awal, salahku juga yang menolak tawaran kak Seab yang ingin mengantarku dengan mobilnya.
Aku menerima panggilan dari Ajun yang sedari tadi mencoba menghubungiku.
"Di mana?"
"Iyah, iyah, gue udah di area kampus. Pak Layandra udah di kelas?" ucapku sedikit terengah karena lumayan jauh aku berlari.
"Belum, cepat Al gue nggak bisa mastiin kapan pak Lay masuk. Kiara juga belum tiba."
"Apa Kiara nggak masuk? tapi dia nggak kabarin gue, lo nggak di kabarin dia Jun? eh itu Kiara baru aja sampai, di antar mas Jefri." ucapku memberitahu, ada rasa gusar di hati karena kedekatan mereka yang semakin hari semakin dekat, mungkin mereka sudah ada status baru sekarang.
"Al?"
"Ale, lo masih di sana?"
"Jangan melamun, nggak ada waktu lagi." katanya menyadarkanku.
"Jun gue minta tolong sama lo jangan biarin pak Layandrs menyadari gue yang belum ada di sana." titahku.
"Jangan aneh-aneh gue juga nggak berani sama pak La..." aku memutuskan sambungan telepon secara sepihak karena aku menyadari mas Jefri dan Kiara yang sedang menatapku.
"Alleta!" panggilan dari Kiara hanya ku balas dengan senyuman, kemudian aku berjalan cepat menghampiri mereka di parkiran mobil hanya sekedar basa-basi. Bagaimanapun aku dekat dan mengenal mereka.
Aku sudah berpikir ulang perihal ucapanku tempo hari yang memutuskan untuk mundur secara perlahan, meskipun aku tidak membohongi diriku sendiri bahwa aku sempat menyesal tapi aku juga sudah meyakinkan diri bahwa persahabatan adalah suatu hal yang sangat penting dan perlu dipertahankan bagiku.
Mencari cinta mungkin saja mudah tapi mencari sahabat untuk menemukannya tidak akan pernah semudah saat kita menemukan cinta dan di sini biarkan aku yang berkorban untuk kebahagiaan mereka— Mas Jefri yang aku cintai dan Kiara yang aku sayangi.
__ADS_1
Bagiku sudah tak ada gunanya mempertahankan perasaanku terhadap mas Jefri ketika sudah jelas mas Jefri mencintai dan memilih bersama dengan Kiara. Dan sangat bodoh jika aku memilih menjauhi Kiara, apa untungnya melakukan itu? aku percaya cinta akan datang dengan sendirinya sehingga lambat laun aku akan melupakan cintaku kepada mas Jefri.
"Hai, maaf ya aku terburu-buru." ucapku tergesa lalu berbalik badan menjauh dari mereka tanpa melihat mobil yang sedang melaju dengan kecepatan yang lumayan, hampir saja mobil tersebut menabrakku jika mas Jefri tidak menarik lenganku.
Dengan gerakan cepat mas Jefri menarik lenganku hingga aku menubruk dada bidangnya, dia memeluk tubuhku erat dengan satu tangannya. Aku terkejut bukan main hampir saja tubuhku terluka.
Aku mendongak menatap wajah mas Jefri yang masih setia memelukku, ada raut khawatir di sana,
"Kalau nyetir yang benar! ini kampus bukan area balap! dasar orang nggak beradab." teriak mas Jefri, memaki orang yang hampir menabrakku barusan, matanya menatap nyalang pada mobil yang hampir saja melukaiku.
Mas Jefri menundukkan wajahnya untuk melihatku. "Are you okay?" seakan tersihir aku hanya bisa menatapnya hingga aku tersadar sepersekian detik, menyadari keberadaan Kiara yang ada di dekatku dan juga Pak Layandra yang tentunya sudah berada di kelasku.
Melepaskan rengkuhan mas Jefri dengan tergesa, aku kembali menatapnya. "Sorry, aku udah terlambat." ucapku melirik jam tangan yang melingkar manis di tanganku, 5 menit telah berlalu. Astaga aku yakin hari ini adalah hari tersialku.
Sudah dipastikan aku tidak akan bisa mengikuti mata kuliah pak Layandra hari ini. Aku menjauh dari tempat mereka berdiri dan tidak menanggapi teriakan Kiara yang memintaku untuk menunggunya. "Sorry Ki gue nggak mau semakin sulit melepas mas Jefri nantinya."
"Sumpah gue nggak paham kenapa bisa hari ini pak Lay telat masuk 10 menit dan lo jadi orang yang paling beruntung hari ini." Aku menyetujui kalimat Ajun barusan bahwa aku beruntung bisa mengikuti mata kuliah pak Lay mengingat aku sudah ditandai olehnya karena 2 pertemuan tidak mengikuti mata kuliahnya.
Dosenku itu termasuk Dosen yang sangat disiplin jika dalam 3 pertemuan kita tidak mengikuti mata kuliahnya meskipun dengan atau tanpa surat keterangan, dapat dipastikan bahwa kita akan mengulang semester dan memungkinkan untuk mendapat nilai C jika tidak ingin mengulang.
"Bukannya tadi lo bilang lihat Kiara? lalu ke mana dia?"
"Mungkin bolos." jawabku asal. Aku menyandarkan tubuhku pada kursi kantin yang berada di paling pojok sebagai tempat favorite kami.
"Kenapa kelihatan nggak ada semangat? apa karena bertemu mas Jefri lo itu?" terlalu berlebihan jika Ajun menyebut mas Jefri diikuti dengan akhiran LO, mas Jefri bukan milikku Jun.
"Gue hampir kecelakaan." ungkapku jujur, Ajun terlihat khawatir dari caranya yang berdiri menatapku, lebih tepatnya seperti melakukan scanning pada tubuhku.
__ADS_1
"Lo yakin benar nggak ada yang terluka?"
"I'm Okay but Why does my heart still feel broken Jun? gue nggak pernah menyangka kalau gue bisa selemah ini karena dia."
"Patah hati itu hal yang wajar dan lo nggak perlu malu untuk mengakuinya meskipun nanti berat lo harus tetap yakin bisa melewatinya dan bisa hidup seperti biasanya, saat di mana lo belum mengenal dia. Jangan membohongi diri sendiri, melupakan dia memang bukanlah perkara mudah. Lo boleh menangis, jangan di tahan tapi tetap jangan lupa dengan kebahagiaan yang layak buat lo dapat. Obat paling manjur untuk mengobati patah hati adalah waktu yang terus berjalan, jadi biarkan waktu memberi kabar kapan hati lo bisa menerima cinta dari orang yang baru."
Aku mengerjapkan mata berkali-kali saat mendengar kalimat panjang yang Ajun ucapkan kepadaku terdengar sangat bijak. "Ojun, kenapa gue nggak jatuh cinta sama lo aja ya?"
"Kalau misalnya gue cinta sama lo bagaimana Al?" katanya yang aku sendiripun tidak tahu kalimat candaan atau benar dari hatinya.
"Nggak usah ngarang."
"Gue juga cuma bercanda Al, jangan ketus gitu dong."
"Kalau misalnya nanti gue yang jatuh cinta sama lo duluan bagaimana?" tanyaku lagi merasa penasaran akan jawaban yang dia berikan.
"Ya nggak gimana-gimana."
"Gue juga bercanda Jun, lo kan sahabat gue mana mau gue punya pacar atau suami seperti lo."
"Sialan lo ya." umpatnya kesal membuatku terkekeh geli karena berhasil menjahilinya.
Aku hanya bercanda Jun tapi bisa saja jika kamu memang takdir yang di gariskan Tuhan untukku karena Tuhan maha membolak-balikan hati manusia.
Jika dilihat sahabatku ini tidak terlalu buruk, Ajun termasuk ke dalam most wanted di kampus karena ketampanannya, hanya saja akhlaknya yang minus.
"Jun, kenapa lo senyum-senyum?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Nggak apa gue cuma heran aja kenapa bisa bang Jefri nggak jatuh cinta sama lo yang gemesin gini macam bayi." ucapnya balik menjahiliku.