
Disepanjang perjalanan kami, maksudku, aku dan mas Jefri berbincang mengenai hal random. Apapun bisa kami ceritakan dan bisa kami jadikan lelucon.
Sejujurnya, aku sama sekali tidak mengerti bagaimana bisa aku dan mas Jefri memiliki banyak kesamaan, termasuk dengan hobi kami yang sama.
"Apa mas Tama menyukai wanita itu?" tanyaku antusias karena sejak tadi kami membicarakan rekan kerja mas Jefri yang menyukai mas Tama.
"Aku nggak tahu, mas kamu itu pasti menghindar dengan beribu alasan kalau aku membahasnya. Kamu tahu kan sedingin apa masmu?"
Aku mengangguk paham, kepribadian mas Tama memang seperti itu. Apalagi setelah kami ditinggal oleh ayah untuk selama-lamanya, hanya mas Tama yang menjadi tumpuan hidup di keluarga kami.
Meski terkesan dingin, mas Tama memiliki hati yang lembut, dirinya akan mudah terenyuh dan ikut menitikkan air mata ketika mendapati orang lain dilanda kesedihan. Misal di awal Ia akan terlihat dingin, tapi lambat laun mas Tama akan menunjukkan rasa empatinya.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanyanya menoleh ke arahku sesaat, kemudian kembali fokus menyetir. Aku terdiam sejenak memperhatikan anak kecil yang sedang duduk di pinggir jalan saat lampu lalu lintas berwarna merah.
"Hmm? bagaimana apanya mas?" tanyaku memastikan lagi, sejujurnya aku sama sekali tak paham dengan maksud mas Jefri.
Mengerti bahwa diri ini tidak paham dengan maksud pertanyaan sebelumnya, mas Jefri kembali memberikan pertanyaan yang lebih spesifik. "Kamu sama Dirga?"
Memangnya ada apa aku dengan kak Dirga?
"Ya nggak gimana-gimana."
"Kamu yakin? kayaknya dia naksir kamu." lalu apa masalahnya jika kak Dirga mempunyai perasaan lebih terhadapku? mas Jefri cemburu? jangan berkhayal kamu Alleta, mana mungkin mas Jefri mencintaimu.
"Ya terus, kenapa mas?" tanyaku tak peduli, memangnya apa pedulinya? jika aku berpacaran dengan kak Dirga pun apa peduli mas Jefri? tak ada bukan?
Mas Jefri terlihat ragu untuk menjawabnya, terbaca dari gerakan tangannya yang sedang menggaruk rambutnya yang aku yakini tidak gatal. "Ya, ya nggak apa sih? aku kira kamu ada hubungan dengan dia."
"Ada, kakak tingkat dan adik tingkat." balasku santai.
"Sebetulnya kamu mau bawa aku ke mana mas? aku rasa ini udah terlalu jauh dari area rumah."
Mas Jefri kembali menatapku sekilas, tidak apa jika semakin jauh dari rumah itu berarti semakin lama pula aku bisa bersamanya, tapi sayang sekali moodku sedikit berantakan semenjak mas Jefri membawa kak Dirga masuk ke dalam obrolan kami.
Perlu ditekankan aku tidak membenci kak Dirga. Tidak sama sekali, aku hanya tidak memiliki perasaan apapun kepadanya dan sedikit merasa canggung bila berada di dekatnya. Aku pun tahu jika dia menyukaiku, terlihat jelas dari semua tingkah laku dan sikapnya kepadaku.
Namun, aku tak mungkin bisa melarangnya untuk menyukaiku. Maka dari itu, aku tidak pernah memberinya harapan apapun karena aku akan merasa bersalah jika dia semakin terluka.
"Kamu tahu cafe Montana?" tanya mas Jefri tiba-tiba. Bagaimana aku tidak tahu jika yang memiliki cafe tersebut adalah teman masku?
"Ya, kenapa mas?"
"Aku mau ajak kamu bertemu dengan seseorang di sana tapi sebelum itu aku butuh bantuan kamu. Nanti aku jelasin di sana ya."
Okay! terserah padamu saja lah mas karena ketika seseorang mencintai orang lain, dirinya akan mengiyakan apapun demi seseorang yang dicintainya itu. Terkesan bodoh tapi sayangnya orang itu adalah aku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku tersentak kala mas Jefri meraih pinggangku untuk lebih mendekat pada tubuhnya. "Sorry, harusnya tadi mas jelasin ke kamu sebelum kita turun dari mobil." tuturnya yang membuatku mengernyit heran.
Rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutku, entahlah aku merasa gugup dan bahagia di waktu yang bersamaan. Otakku menolak untuk diperlakukan demikian dengan mas Jefri, tetapi tubuhku menerimanya.
Masih membaca situasi dan membiarkan mas Jefri menggiring tubuhku ke arah meja yang sepertinya sudah dipesan sebelumnya, aku kembali dibuat terkejut ketika kami sampai di hadapan seorang wanita cantik yang sedang duduk sendirian. Sepertinya wanita tersebut sedang menunggu seseorang atau mungkin wanita itu yang ingin ditemui mas Jefri.
"Jefri?" panggil wanita itu.
"Hai, Rin. Sorry gue telat." wanita cantik itu mengangguk paham, lalu tersenyum manis ke arahku dan juga mas Jefri.
__ADS_1
Cantik, satu kata yang bisa aku gambarkan untuk wanita yang ada di hadapan kami saat ini.
"Duduk." titahnya.
Tanpa diminta mas Jefri menarik kursi untuk aku duduki. Aku kembali dibuat terpesona akan sikapnya hari ini.
"Kamu, adiknya Tama kan?" tanya wanita cantik itu ke arahku.
Wanita ini siapa? apakah wanita yang dikatakan mas Jefri menyukai mas Tama atau wanita ini adalah kekasih mas Jefri?
Mas Jefri sudah memiliki kekasih?
Berbagai pertanyaan mulai berputar di kepalaku karena mas Jefri tidak pernah menceritakan apapun perihal wanita yang sedang didekatinya saat ini.
"Iya. Alleta, adiknya Tama." bukan aku yang memperkenalkan diriku, melainkan mas Jefri yang memperkenalkan diriku pada kakak cantik itu. "She is my girlfriend. Sorry, gue baru sempat mengajaknya bertemu sama lo, Rin." tambahnya lagi.
Ada sedikit raut terkejut dari paras cantiknya ketika dirinya mendengar penjelasan mas Jefri tadi, bukan hanya dia yang terkejut akupun juga sama dengannya. Secara tiba-tiba mendengar mas Jefri yang memperkenalkan aku sebagai kekasihnya.
Menyatakan cintanya padaku pun tidak. Aku menoleh ke arah mas Jefri untuk meminta penjelasan, tapi yang aku dapat hanya senyuman manis miliknya yang semakin membuatku terpaku di manik matanya.
"Oh, sejak kapan Jef? kenapa nggak pernah cerita sama sahabat lo ini?" protesnya, ada rasa sedikit kecewa pada nada bicaranya.
"Sorry, gue pikir lo udah tahu kalau dia pacar gue, lo tahu sendiri seberapa seringnya gue ke rumah Tama kan?" jelas mas Jefri.
Appa ini hanya sebuah mimpi? jika iya jangan biarkan aku untuk bangun dari mimpi ini.
"Hai Al, aku Karin, sahabat Jefri. Nice to meet you ternyata kamu cantik dan manis ya. Pantas saja Jefri sering menyebut kamu, aku pikir kalian adik-kakakzone." kekehnya diakhir kalimat, jangankan kamu kak aku juga berpikir demikian.
"Iya, hai juga kak. Mas Jefri juga sering cerita tentang sahabatnya, tapi aku nggak tahu kalau itu kakak." ucapku sedikit malu.
"Do you want some drink, babe?" katanya menyela obrolanku dengan kak Karin, babe? sayang maksudnya? ku rasa wajahku sudah memerah saat ini.
Bolehkah aku mendengar panggilan itu setiap hari?
Mencoba kembali fokus agar tidak terlihat semakin gugup, aku menoleh ke arah mas Jefri. "Seperti biasa aja mas." jawabku.
Tidak perlu aku sebutkan, mas Jefri sudah hapal betul makanan dan minuman kesukaanku. Seharusnya dia tidak perlu bertanya kepadaku lagi.
Kembali dibuat semakin gugup, aku merasakan tangan mas Jefri yang mengelus suraiku lembut. Mas Jefri sering melakukannya kepadaku, hanya saja dia akan mengusak rambutku ketika dirinya merasa gemas denganku. Tidak untuk mengelusnya seperti ini, ditambah ada kak Karin di hadapan kami semakin membuatku merasa tak enak hati dan malu.
Aku menyadarinya, menyadari jika kak Karin juga memiliki rasa lain terhadap mas Jefri.
"Ok, tunggu di sini. Aku pesan minuman buat kamu dulu. Rin, gue titip kesayangan gue sebentar." ucapnya.
Aku hanya menganggukkan kepala pelan untuk membalas ucapan mas Jefri sedangkan kak Karin merasa jengah dengan kelakuan mas Jefri yang berlebihan.
"Udah sana." usirnya.
"Kamu udah berapa lama pacaran dengan Jefri?" tanya kak Karin setelah mas Jefri menjauh dari tempat kami. Aku kembali terdiam, merasa ragu untuk menjawab pertanyaannya karena takut salah bicara dan menimbulkan masalah untuk mas Jefri nantinya.
"Hehe, lumayan sih kak." balasku berusaha santai.
"Ah, pantas kalau dia tahu semua tentang kamu bahkan kamu hanya memberitahu kalimat 'seperti biasa' dia udah pasti hapal kesukaanmu."
Tidak kak kamu salah, tidak semua tentangku mas Jefri tahu, buktinya dia tidak menyadari aku memiliki perasaan lebih terhadapnya.
"Kakak udah berapa lama kenal sama mas Jefri?" tanyaku berbasa-basi, padahal aku tahu jika mereka bersahabat sejak Sekolah Menengah Pertama. Tapi, aku baru mengetahui fakta bahwa kak Karin juga menyukai mas Jefri.
__ADS_1
Ternyata benar ya dalam persahabatan antara pria dan wanita pasti salah satunya ada yang memiliki perasaan lebih, aku berharap jika Ajun, sahabatku itu tidak termasuk.
"Sejak kami duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama." ucapnya.
Wah sungguh selama itu? ternyata ada yang lebih lama memendam rasa dalam diam lebih dari pada aku.
"Jefri orang yang baik." katanya tiba-tiba.
Aku mengangguk menyetujui ucapannya karena memang itu faktanya.
"Hingga terkadang, dia tidak bisa membedakan sikap dan perilaku orang lain yang memiliki perasaan lebih terhadapnya karena dia berpikir semua orang baik. Dia itu nggak peka, iyakan?" ucapnya kemudian terkekeh.
Aku hanya bisa tersenyum, lebih tepatnya tidak tahu bagaimana untuk merespon.
"Baiklah sepertinya aku harus pergi, titip salam untuk Jefri kalau aku duluan ya? Alleta, aku menyukaimu, semoga kamu dan Jefri bisa terus bersama-sama. Aku akan meminta nomormu ke Jefri nanti. Bye Al." ucapnya tergesa. Amu menatap mata kak Karin yang sudah berkaca-kaca, menyadari dirinya sudah menahannya sejak tadi.
Belum sempat aku membalas ucapannya. kak Karin sudah menjauh dari tempatku duduk.
Astaga mas Jefri, kamu sudah melukai hatinya mas. Dia gadis yang baik.
"Kenapa kamu sendiri? di mana Karin?" tanya mas Jefri, tak lupa dengan nampan berisi camilan dan minuman yang ada di tangannya.
"Sepertinya ada keperluan lain. Tadi sempat titip pesan, katanya pamit duluan." jelasku.
"Mas, apa maksud semua ini?" tanyaku to the point, meminta penjelasan tentang yang terjadi barusan. Dia yang mengenalkanku ke sahabatnya dan mengakuiku sebagai kekasihnya.
Mendengar helaan nafas pelan dari mas Jefri, tangannya terulur untuk menarik tanganku pelan lalu menggenggamnya. "Dengar penjelasan mas dulu ya? kamu jangan salah paham, mas mau minta maaf sebelumnya. Sorry untuk yang tadi, sorry mas jadi maksa kamu untuk terlibat dalam drama ini. Sebetulnya mas tahu Karin memiliki perasaan lebih kepada mas tapi mas nggak mau melukai perasaannya dan membuat persahabatan mas dengannya hancur, kamu paham kan?" jelasnya.
Aku tak habis pikir, bisa-bisanya dia melukai hati kak Karin dan juga melukai hatiku dalam waktu yang bersamaan.
"Kamu melukai hatinya mas, dengan kamu seperti ini kamu melukainya." ucapku lirih, "dan kamu juga melukai hatiku." lanjutku dalam hati.
"Kenapa harus begini? menurutku, kalian bisa membicarakan perasaan kalian masing-masing secara terbuka."
"Dan membiarkannya berpikir bahwa aku jahat? aku nggak akan tega Alleta. Dengan memainkan drama ini, setidaknya dia bisa paham dan tahu posisinya dan dia juga nggak perlu malu terhadapku. Lambat laun, dia akan melupakan perasaannya."
"Mas, cinta itu datang dengan sendirinya dan dia juga nggak bisa memilih kapan cinta itu datang dan kepada siapa cinta itu akan berlabuh, sama seperti denganku."
"Apa maksud kamu dengan sama seperti denganmu?" tanyanya menatapku lekat.
Oh Tuhan, aku baru sadar sepertinya aku salah berbicara.
"Ma-maksudku sama seperti aku sebagai contoh, aku pun nggak pernah tahu ke mana hati ini akan berlabuh, sama seperti kak Karin."
"Mungkin ini kali terakhir aku membantumu mas, aku nggak bisa membohongi orang baik seperti kak Karin." jelasku.
"Alleta, aku minta maaf. Aku antar kamu pulang ya?"
"Aku pulang bersama Ajun, kebetulan dia ada di sekitar sini, aku lupa kalau ada janji sama dia."
"Tapi..." mas Jefri menahan lenganku.
"Aku udah ijin mas Tama, mas nggak perlu khawatirkan itu."
Mas Jefri hanya terdiam, mungkin merasa bersalah kepadaku. Aku bersikap seperti itu padanya agar dia bisa berpikir bahwa yang dia lakukan barusan itu salah dan melukai hati sahabatnya.
"Ajun udah nunggu di depan, aku pamit ya. Makasih dan maaf, Mas hati-hati pulangnya." pamitku merapihkan pakaian dan juga tasku, minuman yang dipesan mas Jefri bahkan belum sempat aku minum.
__ADS_1
Mas Jefri kembali menahan lenganku membuat pergerakanku terhenti. "Aku antar ke depan."
Tolong mas, jangan terlalu baik kepadaku.