Dear Mas J

Dear Mas J
Stereomantic


__ADS_3

Hubunganku dengan Kiara mulai merenggang, aku tidak paham mengapa dia memintaku untuk menjauhi mas Jefri? apakah mas Jefri memberitahu kepadanya masalah kemarin?


Hatiku semakin sakit ketika aku menyadari Kiara menganggapku sebagai saingannya. Hahaha terdengar lucu bukan? sahabatku menganggapku sebagai saingan. Andai saja dia tahu aku hanya ingin membuat mereka bahagia.


"Al sorry kalau gue kekanak-kanakan tapi gue minta untuk lo tahu batasan. Gue terlalu cemburu saat kak Jefri selalu perhatian ke lo, bahkan dari kemarin dia sama sekali nggak ngabarin gue cuma karena lo."


Kalimat demi kalimatnya selalu terngiang diingatanku. Mengapa dirinya menggunakan kata cuma karena lo? apa tidak ada kata lain, kata yang tidak menyakiti hatiku. Aku mengedarkan pandangan kala mendengar suara dari seseorang yang meneriakkan namaku.


Joana? kamukah itu?


Setelah sampai di hadapanku, Jo mendudukan dirinya tepat di bangku yang ada di depanku. "Aku perhatiin dari tadi wajah kamu suram? ada apa?"


"I'm okay, aku nggak percaya bertemu kamu di sini? Kamu satu Fakultas denganku?"


"Nggak, Kak Bos yang memintaku kemari dia menanyakan kabarmu apakah sudah lebih membaik." aku mengerutkan keningku, untuk apa kak Sean melakukan itu?


"Hahaha, wajahmu terlihat menggemaskan. Nggak perlu dipikirkan kak Bos memang seperti itu."


"Kamu nggak ke cafe hari ini?"


"Nanti siang mungkin Al. Benarkah kamu baik-baik aja ? kamu terlihat seperti orang yang sedang patah hati. Hubunganmu dengan kak Jefri baik-baik aja kan?"


Rasanya jika mendengar namanya disebut aku menjadi semenyedihkan ini, ingin menangis detik itu juga.


"Jo, aku harus ke kelas." ucapku menghindarinya kemudian beranjak menjauh dari sana.


"Al, Ale? Hey?!"


Maaf Joana mungkin aku butuh waktu untuk sendiri. Berbicara soal kak Sean mendadak aku semakin dibuat heran dengan sikapnya yang terlalu peduli denganku, saat di cafe tadi memang aku belum bertemu dengannya, salah satu temanku mengatakan jika kak Sean sedang pergi ke luar kota entah urusan bisnis atau apapun itu bukan menjadi urusanku.


"Kia?" panggilku saat melihatnya memasuki kelas pak Arka, raut wajahku seketika berubah menjadi pias saat dirinya tidak menganggapku ada. Hanya sampai di sinikah persahabatanku dengannya?


"Bukannya masuk malah melamun di sini, anak muda jaman sekarang mengapa sering melamun? kamu pikir kamu akan menjadi kaya raya jika hanya dengan melamun?" ucap pedas pak Arka saat melihatku masih di depan pintu kelasnya.

__ADS_1


"Alleta? masih ingin di sini atau masuk ke kelas saya?"


"Oh iya pak. Maaf." aku merutuki kebodohanku sendiri saat melihat anak-anak yang lain sedang memperhatikanku dan juga pak Arka. Ajun melambaikan tangannya agar aku duduk di sebelahnya, kemudian aku mencari keberadaan Kiara yang ternyata sedang duduk di pojok sendirian. Ki tolong jangan membuatku semakin merasa bersalah seperti ini.


"Kenapa? Kiara?" bisik Ajun di telingaku. Aku hanya menghela nafas kasar.


"Nggak apa, kasih dia waktu, dengan begitu lo bisa tahu dia teman lo atau bukan."


"Ajun dan Alleta bisa kita mulai kelasnya?" tegur pak Arka, aku hanya menunduk malu. Ada apa dengan pak Arka hari ini? agak sedikit berbeda karena beliau tidak seperti biasanya yang terkenal humoris.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku menarik lenganku yang ada digenggaman mas Jefri dengan kasar pasalnya saat ini aku sedang menjadi tontonan banyak orang karena ulahnya yang memaksaku untuk ikut dengannya.


"Mas tolong lepasin, jangan seperti ini." lirihku. Kedua pasang mataku mencari sosok Ajun untuk meminta bantuan namun yang aku lihat justru Kiara yang menghampiriku dengan wajah masam.


"Kak Jef..."


"Mas, kamu sengaja ingin mempermalukan aku di depan teman-temanku dan juga Kiara. Iya?" saat ini kami sedang di parkiran fakultasku, aku menepis tangannya dan beringsut mundur menjauhi dirinya.


"Apalagi yang harus dipertegas? aku udah memaafkanmu, ini juga bukan sepenuhnya salahmu mas. Tolong, aku nggak ingin hubunganku dengan Kiara semakin merenggang. Kiara kekasih kamu mas, jangan perlakukan dia seperti tadi."


"Siapa yang bilang dia kekasihku?" tanyanya melangkah mendekatiku.


"Kamu sendiri yang menyimpulkan, kami memang dalam masa penjajakan. Mas memang menyukainya tapi belum ada pernyataan cinta dari mas."


Wah, laki-laki ini sungguh luar biasa. Aku tersenyum tipis ke arahnya. "Ternyata semua laki-laki sama saja." kelakarku.


"Dengar, mas cuma nggak mau kamu menghindari mas seperti ini, nggak ada yang salah denganmu di sini. Aku yang salah harusnya mas lebih peka dan nggak memberikan perhatian lebih kepadamu."


Ya memang benar, harusnya sejak dulu kamu tidak memberikan perhatian kepadaku mas karena hatiku terlalu lemah jika bersangkutan denganmu.


"Ok, anggap nggak pernah terjadi apa-apa. Itu kan yang mas mau? aku turuti, tapi tolong jangan peduli denganku lagi dan jangan memintaku untuk menjauhi kak Sean lagi."

__ADS_1


"Ok." balasnya singkat, hanya itu? Ok mas sekarang aku tahu bagaimana caraku untuk melupakanmu.


"Selesaikan masalahmu dengan Kiara, dia menganggapku sebagai saingannya. Aku nggak ingin dia salah paham terhadapku mas."


"Ok, kita pulang."


"Nggak, memang kita sudah berdamai tapi bukan berarti aku bisa semudah itu berada didekatmu. Beri aku waktu untuk itu, tenang aja aku nggak membencimu." ucapku terang-terangan karena aku sudah muak untuk menutupinya lagi.


Mas Jefri mendekat ke arahku tangannya terulur untuk menepuk kepalaku pelan sama seperti yang sering dilakukan mas Tama kepadaku.


Aku memejamkan kedua mataku, mengapa dia tidak peduli dengan perasaanku? harusnya sudah tidak ada skinship di antara kami setidaknya dia paham dengan akibat yang dia lakukan.


"Dirga." aku menoleh saat mas Jefri memanggil kak Dirga yang kebetulan berada tak jauh dari kami berdiri.


"Tolong antar Ale pulang ya?"


"Kenapa nggak lo aja bang?"


"Gue ada keperluan lain." ya keperluan dengan Kiara tentunya.


"Tolong ya, antar sampai depan rumah tanpa lecet." kata mas Jefri terkekeh. Aku hanya diam memandangi percakapan mereka, mengapa juga aku harus berdiri di antara mereka sih?


"Tanpa lo minta gue pasti jagain Ale dengan baik bang."


"Mas pergi ya. Kamu hati-hati."


Iya mas. Sampai kapanpun aku akan selalu menjadi adikmu kan? karena hatimu yang nggak pernah mau mencobanya. Alleta bodoh! mengapa sekarang kamu terkesan memaksa? aku melirik ke arah kak Dirga dengan wajah merengut.


"Jangan Al." ucapnya tiba-tiba membuatku menoleh ke arahnya. Jangan apa maksudnya?


"Jangan seperti itu, ekspresimu tadi jangan pernah tunjukkan kepada orang lain."


Kak Dirga menggiringku untuk masuk ke dalam mobilnya, aku memperhatikannya yang sedang tersenyum tipis, lebih tepatnya menahan senyum. Memang ada apa dengan ekspresiku tadi?

__ADS_1


__ADS_2