Dear Mas J

Dear Mas J
Semakin Rumit


__ADS_3

Hujan baru saja reda setelah aku berada di apartemen kak Sean selama 6 jam berlalu, saat ini jam menunjukan pukul 5 sore karena tak ada waktu lagi untuk kami bersiap, Kak Sean memintaku untuk mandi di sana dan menunggunya bersiap agar ketika sampai di rumahku aku tidak terlalu lama bersolek.


"Apa kakak nggak dibutuhkan di sana? aku tahu tempatnya jadi kita bisa bertemu di sana aja ya?" kataku beberapa waktu lalu tapi kak Sean tidak menyetujuinya dengan alasan Ia takut dengan kak Karin.


"Kamu ingin aku di habisi Karin karena membiarkanmu berangkat sendiri? asal kamu tahu, Karin nggak sebaik itu kepadaku."


Kami baru saja memasuki area perumahanku, sepertinya kak Seab tidak pernah melewati jalan yang ku tunjukkan tadi. "Setelah pos itu kakak belok ke kiri."


"Jalan buntu? lalu di mana rumahmu?" tanyanya kebingungan. Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya.


"Pagar hitam yang tinggi itu rumahku."


"Masuk kak aku perkenalkan dengan bunda." ajakku kemudian menarik lengan kiri kak Sean pelan tanpa sengaja.


Ruang keluarga sedikit ramai karena kehadiran Chandra dan juga Juna mereka itu adik sepupuku. Mas Tama melirik ke arahku yang baru saja tiba, tepatnya matanya menatap tanganku yang sedang melingkar manis di lengan kak Sean membuatku segera melepaskan tanganku menjauh dari lengannya.


"Bunda, maaf aku pulang terlambat." aku menghampiri bunda mencium ke dua pipinya lalu memeluknya kilat.


"Nggak apa Al selama kamu memberitahu bunda." Bunda kembali tersenyum menatapku kemudian matanya teralih kepada kak Sean yang sedang berdiri tak jauh dari kami. "Siapa pria tampan yang sedang berdiri disana Al? apa dia kekasihmu?" tanya bunda berbisik.


"Bukan bunda, kak Sean itu sepupu kak Karin kebetulan tadi kami pergi bersama dan kak Sean meminta ijin untuk membawaku pergi ke pesta orang tuanya." jelasku.


"Kak ini bundaku."


"Halo tante, saya Sean maaf terlambat membawa Alleta pulang." ucapnya sangat sopan, bunda tersenyum membalasnya tapi tidak dengan mas Tama yang sedari tadi hanya diam dan menatap tak suka ke arah kak Sean.


"Nggak apa nak Seab, silahkan duduk. Alana tolong buatkan minum untuk temanmu."


"Mengenal Alleta di mana?" tanya bunda, aku meninggalkan mereka yang sedang berbincang dan beranjak menjauh dari sana menuju dapur guna membuatkan minum untuk kak Sean seperti yang diperintahkan bunda tadi.


"Astaga mas Tama, mengapa mengejutkanku hampir aja air panas ini mengenai lenganku." protesku kepada mas Tama yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.


"Sejak kapan kamu dekat dengan Sean? Lalu mengapa pulang dengan rambut basah dan pakaian orang lain?"


"Lalu apa masalahnya aku dekat dengannya? ingin melarangku juga? mas aku tahu mana teman yang baik dan mana teman yang hanya menjerumuskanku ke dalam hal yang negatif, berhenti bersikap posesif kepadaku. Bukankah mas Tama sendiri yang mengijinkanku untuk memiliki kekasih? dan mengapa mas Tama selalu berpikiran negatif terhadapku? apa aku terlihat seperti gadis nakal di matamu?"

__ADS_1


"Tapi bukan dengan Sean."


"Apa alasannya?"


"Dia bukan lelaki baik-baik, aku dan Jefri sangat mengenalnya Ale." Aku tidak habis pikir dengan ucapan mas Tama, mengapa bisa dia memiliki pikiran sempit seperti itu?


"Sudah berapa lama kalian saling mengenal? mas mungkin itu dulu, semua orang bisa berubah ke arah yang lebih baik begitupun dengan kak Sean. Kalian sudah lama nggak saling bertemu kan?"


"Kak Sean baik kepadaku mas dan aku percaya kepadanya."


"Kamu jangan terkecoh dengan kebaikannya, mas cuma takut tujuan dia mendekatimu karena motif balas dendam kepada mas." Balas dendam bagaimana maksudnya? aku yang mendekatinya di awal, kak Sean baik terhadapku karena dia yang membantuku mas.


"Mas minta tolong jauhi Sean." finalnya kemudian pergi meninggalkanku seorang diri di dapur, mendadak kepalaku menjadi pening. Apalagi ini ya Tuhan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah perdebatan panjang antara aku dan mas Tama yang tidak memberikanku ijin untuk pergi bersama kak Sean, bunda segera menengahi kami dan mengijinkanku untuk segera pergi menjauh dari rumah dan tentunya dengan syarat memulangkanku sebelum jam 10 malam.


Aku sangat penasaran dengan maksud mas Tama untuk menjauhi kak Seab, maka dari itu aku menanyakannya kepada kak Sean tadi ketika kami dalam perjalanan kemari.


"Hanya kesalahpahaman biasa Al kami menyukai wanita yang sama dan Aku rasa kejadian itu sudah terlalu lama, aku sudah melupakannya lagi pula itu hal yang sangat wajar bukan?"


"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan? aku tahu Tama masih menyimpan rasa pada wanita itu makanya sampai detik ini dia belum mau memiliki kekasih."


Aku membenarkan ucapan kak Sean karena sampai detik ini mas Tama belum membawa wanita lain untuk dikenalkan denganku atau dengan bunda, mas Tama memintaku untuk menjauhi kak Sean hanya karena seorang wanita? apakah secinta itu mas Tama dengan wanita yang di katakan kak Sean tadi. Aku merasakan tepukan pelan di bahuku dan menyadari kak Sean dan kedua orang tuanya berdiri di hadapanku saat ini.


"Ma, Pa kenalkan ini Alleta." ucapnya mengenalkanku kepada ke dua orang tuanya, aku hanya bisa tersenyum kikuk karena merasa tidak pantas berada di sini.


"Selamat atas anniversary pernikahannya ya om dan tante."


"Terima kasih Alleta sudah datang ke acara kami, kau tahu aku sangat senang akhirnya Sean mau mengenalkan wanita lagi kepada kami setelah sekian lamanya dia patah hati." ujar mama kak Sean. Aku menoleh ke arah kak Sean yang sedang tertunduk malu karena ucapan mamanya barusan. Setelah sekian lama patah hati? sejak kapan?


"Yasudah nikmati pestanya, om dan tante harus menemui tamu yang lain. Bersenang-senang ya."


"Jangan didengar ucapan mama tadi." katanya setelah melihat punggung orang tuanya menjauh. Aku menoleh ke arahnya dan mengerutkan keningku. Kak Sean menarikku ke arah kumpulan yang kurasa kumpulan itu berisi teman-temannya, ku dapati kak Karin yang sedang melambaikan tangannya ke arahku.

__ADS_1


"Hai Ale nggak menyangka bisa bertemu kamu di sini, bagaimana dengan Sean? dia baik terhadapmu kan?" tanya kak Johnny.


"Jangan menggodanya mas." tegur kak Karin yang dihadiahi kekehan dari sang kekasih.


"Iya sayang, sorry. Bukankah itu Jefri?"


"Jefri! Come here!"


Kak Karin melambaikan tangannya ke arah mas Jefri memintanya untuk datang kemari, mendadak aku semakin resah, sepertinya kak Sean tahu kegundahan hatiku dan mengajakku menjauh dari sana.


"Gue tinggal ya, gue ada perlu dengan Ale." pamit kak Sean kepada yang lain.


"Don't stupid Sean, she's different, you can marry her first." balas kak Johnny yang membuatku menatap matanya, apa maksud dari ucapan kak Johnny barusan?


"Ajarin cowok lo Karin, jangan bicara sembarangan di depan Ale."


Dengan kilatan amarah di matanya, kak Sean menarik lenganku kasar menjauh dari sana membuat kak Karin hanya terdiam menatapku dan menahan lengan mas Jefri yang ingin mengejarku dan juga kak Sean.


"Gue tahu, tapi biarin dulu." ucap kak Karin saat menahan lengan mas Jefri yang masih sempat aku dengar.


"Kamu diam di sini aku ke toilet sebentar." kak Sean mendudukkanku di depan mini bar dan menghilang dari pandanganku. Di sini aku seperti orang bodoh yang tidak mengerti apapun.


"Hai cantik, kamu sendirian? mau aku temani?" tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba sudah duduk tepat di sebelahku. Postur tubuhnya tinggi dan tegap dia tampan dengan telinga yang sedikit lebar.


Aku hanya tersenyum ke arahnya dan semakin gelisah, kedua pasang mataku mencari sosok keberadaan kak Sean, tidak mungkin aku ditinggal sendiri di sini kan?


"Menjauh darinya bang, jangan dekati dia." tegas kak Sean saat aku melihat siluetnya sudah tampak di hadapan lelaki di sebelahku. Bang? itu berarti kak Sean mengenalnya.


"Oh milik lo, gue pikir dia sendiri di sini."


"You can find another girl but not her, Alleta is different."


Cowok tinggi di sebelahku hanya mengangguk paham dan tertawa renyah. "Okay Sean nggak biasanya lo begini, I think you're in love with her."


Aku memang tidak pintar tapi aku juga tidak bodoh untuk bisa memahami apa artinya, entahlah aku merasa hidupku semakin rumit.

__ADS_1


__ADS_2