DENDAM 100 KILOGRAM

DENDAM 100 KILOGRAM
Episode 23


__ADS_3

"Kamu menyimpan tabungan di bawah ini...?" Raha yabg terkejut pun menngok ke bawah lemari itu tempat Molly menyimpan tabungannnya.


"Iya... Aku hanya iseng karna tiap hitung uang aku hitungnya di dapur sambil catat bahan bahan dapur aku yang kurang gitu. Jadi aku langsung aja simpan tabungan aku di bawah ini.." Molly menghapus air matanya tak percaya keanehannya dalam menyimpan tabungan sangat berguna.


"Makanya Tika dan yang lainnya gak liat karna kamu gak simpan di dalam lemari kayak orang orang lainnya. Kalau kau simpan di lemari pasti mereka ketemu dan pasti di embat juga..." Duga Mira sangat yakin dengan apa yang ia pikirkan.


"Pastilah..." Ucap Raha juga setuju dengan Mira.


"Eeemm ya terserahlah... Yang penting kedua tabungan aku ini aman sama aku. Dan barang barang peninggalan ibuku..." Molly menatap ke depan dengan tatapan kosong.


***


Waktu berjalan cukup cepat. Setelah selesai makan siang bersama, ketiganya melanjutkan untuk bersih bersih rumah Molly yang berantakan di buat Tika dan anak anak sialannya itu.


Hari mulai malam, Molly kini tengah sendiri di kamarnya. Molly berhadapan dengan cemin tak henti hentinya Molly mantapi wajahnya yang berbeda ini.


"Apa Ibu masih bisa ingat aku kalau wajah aku begini... Ibu pasti tidak mengenali aku." Ucap Molly sendiri dengan bayangannya.


Wajahnya, tubuhnya, semuanya berbeda. Mungkin hanya Raha dan Mira yang bisa mengenali Molly dan begitu juga dengan orang orang di sekitar tempat kontrakannya ini. Mereka tahu dirinya hanya karna Raha yang membawanya ke sini.


Kalau saja Molly datang sendiri mungkin semua orang tidak akan mengenali Molly. Karna kini molly berubah 380 derajat. Tubuh gempal molly kini sudah kurus,


"Mungkin karna berbulan bulan aku tidak makan di rumah sakit dan hanya terbaring tak berdaya..." Ucap Molly memperhatijan tubuhnya.


Molly beralih ke wajahnya. Bibir, pipi, dagu, mata, kening. Seperti bukan dirinya. Benar benar hebat teknologi rumah sakit sekarang.


TOK TOK TOK...


Pintu kontrakan Molly di ketuk. Molly pun keluar dari kamarnya hendak membuka pintu, tapi ia tiba tiba teringat akan Tika yang datang ke tempatnya ini, Mungkin saja kan Tika datang dan ingin mengganggu Molly lagi.


Molly membuka tirai di jendela di samping pintu, Molly mengintip dulu siapa yang datang malam malam seperti ini. Molly melihat seseorang di depan pintunya, seorang yang mengenakan jaket dan juga topi hitam di kepalanya. Orang itu juga melihat Molly membuka tirainya dan ia juga langsung membuka topi yang ia kenakan.


"Molly ini aku..." Laki laki itu langsung berdiri di depan jendela.

__ADS_1


"Eeehh.." Molly terkejut melihat siapa laki laki itu sebenarnya.


"Anggi..." Molly membuka pintunya dan melihat Anggi berdiri dengan tak sabarannya.


"Molly..." Anggi langsung saja memeluk Molly dengan sangat eratnya


"Anggi kamu tahu ini aku?" Tanya Molly tak menyangka.


"Iya aku tahulah.. Aku kan juga sering jenguk kamu sama Mira. Ya aku tahulah.." Anggi melepas peluknya dan matapi Molly sangat dalam.


"Anggi.." Kagum rasanya memiliki teman teman seperti mereka.


"Aku lambat mengetahui berita kepulangan kamu hari ini. Tadi aku sempat datang ke rumah sakit dan kamu sudah gak ada di sana, katanya udah pulang. Mau nyusul tapi aku harus urus gym seperti biasa. Akhirnya aku hubungi Mira udah malam ini tadi dan dengar semuanya Molly... Makanya aku cepat cepat ke sini malam ini..." Molly celingak celinguk kesebelah dan sebelah.


"Anggi kita masuk dulu ya... Kita ceritakan di dalam saja." Molly takut ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Ooohh ya ya.." Dengan Cepat Anggi masuk dan Molly menutup pintunya rapat rapat.


"Halllaaah... Buat apa...? Yang aku ke sini itu, kamu... Bukannya kamu melayani aku seperti tamu adalah raja..." Omel Anggi.


"Hehehe... Iya iya.. Kamu gak usah khawatir, aku baik baik aja kok.." Molly mendudukkan tubuhya du depan Anggi.


"Yakin...?"


"Iya Ngi. Aku baik baik aja.. Makasih ya udah setia temani aku di rumah sakit atau di rumah ini.." Molly benar benar tulus berterima kasih.


"Itu bukan apa apa.. Uuu sekarang sudah ada rumah... Selamat ya... Mira udah cerita semuanya kok." Tambah Anggi lagi.


"Ooohh ya.." Molly bingung harus bilang apalagi karna Anggi sudah tahu semuanya seperti ini.


"Lalu bagaimana dengan warisanmu itu Molly... Apa kamu tidak menginginkannya?" Tanya Anggi dan ia juga sudah tahu masalah itu.


"Aku gak tahu Anggi... Aku gak sekuat itu untuk minta lagi sma mereka" Ucap Molly lemah.

__ADS_1


"Ooohh Molly Come on.. Jangan biarkan mereka menang seperti itu saja." Anggi benar benar kesal pada Molly yang masih saja lemah di depan orang orang jahat itu.


"Bukannya aku ingin mereka menang tapi... Aku" Molly hanya bisa menatap lantai saja.


"Molly aku tahu kamu takut sama mereka mengingat apa yang terjadi sama kamu.. Tapi aku percaya itu gak akan menghambat kamu... Aku yakin kamu bisa dan yang aku lihat dari kamu sekarang...." Anggi memperhatikan Molly benar benar.


"Kenapa....?" Molly bingung Apa yang kira kira Anggi pikirkan sakarang.


"Kamu sekarang udah beda.. Kamu bukan lagi Molly yang lemah seperti dulu. Dan yang aku tahu juga mereka tidak tahu diri kamu yang sekarang. Kamu hanya perlu di poles lagi sedikit saja. Aku jamin kamu akan semakin cantik..." Ucap Anggi jujur dengan apa yang ia rasakan saat menatap Molly yang sekarang.


Molly yang kini lebih cantik, kulit wajahnya juga mulus matanya juga sangat indah. Bibir tipisnya tampak menggoda siapa pun. Rambut Molly memang tak berubah tapi rambut Molly sudah dari awalnya lurus indah memperkuat kacantikan baru Molly.


"Apa kamu yakin Anggi... Aku rasa aku gak secantik itu.." Molly ragu dengan ucapan Anggi.


"Aku tahu kamu belum terbiasa saja dengan kamu yang sekarang tapi aku jamin besok dan seterusnya kamj akan sadar kecantikan yang kamu punya.." Anggi sangat yakin karna matanya masih normal dan bisa melihat kecantikan Yang Molly miliki.


"Haha.. Ya Mungkin aja..." Molly sangat ragu.


***


Anggi sudah pulang dan Molly memilih untuk tidur agar esok hari ia merasa lebih baik lagi.


Matahari bersinar indah dan cerah secerah kulit Molly. Molly baru bangun dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah selesai di kamar mandi Molly berjalan ke depan cermin hendak merapikan rambutnya yang acak acakan. Baru saja Molly mangambil sisir dan memandang cermin di depannya


"Aaaahhhkkk..." Teriak Molly sekejap. Tapi beberapa menit kemudian Molly tenang lagi.


Baru ia sadar dengan wajahnya yang sekarang jauh berbeda ini. Molly mencoba untuk terbiasa dengan wajahnya itu.


"Ini bukan wajahku tapi... Aku harus menerimanya.." Molly terus menyisir rambutnya dan menatap wajah baru ini.


Off dulu kawan... Like ya.. Beri dukungan buat author...

__ADS_1


__ADS_2