DENDAM 100 KILOGRAM

DENDAM 100 KILOGRAM
Episode 39


__ADS_3

Dika mulai terjebak di dalam situasi ini. Ucapannya menjadi bencana untuknya.


"Aku dengar juga dari adik kamu, kalau pernikahan megah kamu sama istri kedua kamu ini pakai uangnya Molly. Aduhh kasiannya sih Molly.." Salah satu perempuan bergabung dengan Dika dan teman temannya.


"Hah..? Itu.. Eh mana ada.." Elak Dika.


"Adik kamu looo yang bilang. Bahkan sampai sekarang aja Istri kamu masih pakai uang Molly mantan istri kamu itu. Dan aku lurusin ya.. Molly mantan istrinya Dika gak meninggal, aku tahu.. Karena waktu itu kita satu rumah sakit, Papa aku juga masuk rumah sakit karena di serempet mobil. Beberapa kali aku liat Dika dan orang tuanya sama istrinya uang sekarang bolak balik.. Dan di hari terkakhir.. Mereka bayar semua perawatan Molly dan titipkan surat sama salah satu perrmpuan yang setia tungguin Molly sadar. Tapi dulu aku lambat.. Pasien yang namanya Molly itu sudah keluar dari rumah sakit. Aku mau tahu yang sebenarnya, tapi dengar Molly sudah keluar dari rumah sakit aja sudah buktiin kalau Molly masih hidup.." Wanitu membuka kedok Dika.


"Rose.. Kok kamu bilang gitu sih.. Ka.. Kalau cemburu sama jabatan aku bilang aja.." Dika tersulut emosi.


"Maaf ya.. Aku ke sini mau ambil barang barang aku karena tuan Abi naikkan panggkat aku.. Sekarang aku satu kantor sama Istrinya.. Aku jadi asisten istrinya itu.. Hmmm kalau baru kamu.. Cih.. Di sentil aja sama Tuan Abi juga terbang." Wanita itu sepertinya memang tidak menyukai Dika.


"Wahh kok bisa kamu naik secepat itu Rose..?" kedua teman Dika tadi beralih pada Wanita yang mereka panggil Rose itu.


"Iya karena Nyonya itu naik pangkat jadi aku di tarik sebagai asistennya.. Haaahh bosan juga kan bisanya cuma di perintah perintah sama Dika.. Udah itu marah marah gak jelas lagi.. Tuh liat aja.. Marah dia.. Hahahaha.." Ledek Rose lagi.


"Rose..!" Dika semakin emosi.


"Permisi.." salah satu suara mendiamkan mereka.


"Yang mana Asistenku..?" Miny datang di saat yang tepat.

__ADS_1


"Nyonya Bos..!" Rose langsung gugup.


"Haha.. Panggilan apa itu..?" Miny terkekeh mendengarnya.


"Iya kan nyonya menjadi bos saya.."


"Haaahh..? Gak usah gitu.. Ya udah ayo.. Ada kerjaan buat kita berdua.. Permisi.." Ucap Miny sopan pada semua orang yang ada di sana.


"Kenapa semua orang jadi panggil aku Nyonya.. Isssshh Raha..!" Gumam Miny setelah meninggalkan ruangan Dika dan yang lainnya.


Flashback on.


"Bukan.. Aku dan Raha, maksudnya Abi itu kami..."


"Miny.." Panggil Raha tiba tiba yang datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"A.. Apa..?" Miny masih dalam posisi menjelaskan pada teman temannya.


"Min.. Itu Bu manajemen kita cuti lahiran.. Jadi harus ada yang bisa gantiin.. Dan aku rasa kamu bisa.." Miny menyipitkan sebelah matanya.


"Kamu gila Ra.. Aku...." Sekali lagi mereka berdua terlihat tidak seperti bos dan pekerja.

__ADS_1


"Eeemmmm Tuan Abi.. Masih banyak kandidat yang bisa Tuan Abi pakai.. Saya.. Saya.."


"Gak ada saya saya.. Cepat..!" Titah Raha.


"Astaga.. Raha..!" Teriak Miny ketika Raha langsung meninggalkannya. Semua pekerja lainnya terkejut dan kini benar benar yakin kalau keduanya punya hubungan spesial.


"Aku bilang gak..!" Setelah mengatakan itu Miny berlari mengejar Raha.


Flashback Off.


Miny dan Rose memasukki ruangan mereka.


"Haaaahhhh Miny menghela nafasnya.


"Waahh senangnya.. Kita akan bekerja di sini bos.. Ruangan yang bahkan gak pernah aku masukki.." Cicit Rose.


"Iya.. Semoga aja sementara.." Gumam Miny tapi bisa di dengar Rose.


"Sementara apanya.. Aku di bilangi kok sama Tuan Abi untuk bantuin Bos di sini karena Bu Ranti, Manajemen yang kamarin itu resign. Jadi ya.. Selama lamanya kita di sini bos.." Jelas Rose yang membuat senyum di bibir Miny luntur perlahan.


"Aaaaaaaaaa... RAHA..!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2