DENDAM 100 KILOGRAM

DENDAM 100 KILOGRAM
Episode 30


__ADS_3

Miny menggenggam tangannya kuat.


"Raha, kamu tahu semakin besar rasa balas dendam ini. Aku mohon sekali lagi sama kamu, bantu aku.. Aku perlu banget bantuan kamu.." Tekad Miny semakin besar untuk menghancurkan Dika.


"Aku siap bantu, apa pun yang kamu minta aku siap ikuti. Anggap aja aku ini pesuruh kami Min." Raha senang ia bisa di andalkan oleh Miny.


***


"Haaaaaahhh ini dia. Krosa II, tempat pelarian Dika kalau pulang lambat." Miny hari ini sudah berada di depan kantor Krosa. Tempat kerja Dika.


"Ayo Miny.. Bantu Molly.." Miny mulai masuk dan ada Beberapa orang uang Miny masih ingat adalah Teman Dika.


"Selamat pagi, hari ini saya mau interveiw di sini, sudah ada janji sama manager." Miny menemui pekerja yang ada di sana.


"Oohh ya silahkan lewat sini Nona." Seorang wanita mengantar Miny ke salah satu ruangan.


"Ini ruangan Manager.. Biasanya menag gini, manager yang langsung interveiw pekerja baru." Jelas si pekerja.


"Oohh ya baguslah kalau begitu." Miny saat ini masih tenang dan tetap fokus pada pekerjaannya.


"Selamat pagi.." Miny masuk dan langsung memberi salam.


"Pagi.. Silahkan masuk.." seorang pria di depan meja dan sudah duduk manis serasa ini adalah dunianya sendiri.


"Dia..?" Miny terkejut.


"Silahkan Nona." Pria itu meunjuk kursi du depannya.


"Aahh Iya..." Miny tentunya masih malu malu apalagi ini sangat tak terduga.


"Jadi nama kamu Miny Anastasya...?" Mulai membaca data Miny.


"Iya pak.." Jawab Miny.


"Dari pendidikan kamu ini kamu lulusan marketing. Tapi ini sudah 5 tahun yang lalu.. Apa masih ingat jugakah menjadi seorang marketing..?" Pria itu menutup berkas Miny.


"Ya saya masih bisa mengingatnya. Saya mohon bantuannya" Hanya itu yang bisa Miny katakan.


"Ya dari rekomendasi tuan Raha, nona akan di tepatkan di bagian marketing. Jadi siap atau tidak anda harus siap Nona." Ucap Dika lagi.


Rupanya laki laki ini adalah Dika ia sudah naik pangkat lagi menjadi Manager sekarang. Miny sangat terkejut tapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk balas dendam.

__ADS_1


"Eeemm karna ada surat rekomendasi khusus dari tuan Raha, nona tinggal tanda tangan ini." Dika menyerahkan selembaran yang menyatakan Miny setuju dan siap berkerja di sini.


"Oke.." Miny melakukan saja apa yang Dika perintahkan.


"Eeemm maaf ya, kalau gak salah kita pernah ketemu..." Dika mengalihkan pembicaraannya dengan Miny.


"Ya kita ada ketemu di Mall.. Anda sama pacar anda" Miny pura pura tak tahu kalau Laura adalah pacar Dika.


"Ya hehehee.. Itu istri saya. Kami memang baru menikah, kalau gak salah baru satu bulan ini." Dika berusaha dekat dengan Miny yang ia pikir adalah pacar Bosnya.


Mana mungkin seorang Abi Nugraha mau memberikn rekomendasi khusus seperti ini jika bukan karna Miny adalah orang istimewa untuknya.


"Haha iya, aku sama Pak Raha teman dekat.." Jawab saja sebisanya.


"Oohhh ya.. Baiklah besok sudah bisa masuk kerja ya.." Dika sangat ramah di sini.


"Ya terimakasih atas bantuannya..." Miny keluar dari ruangn Dika.


"Huuuhh rasanya deg degan abis.. Oohh rupanya dia sudah naik pangkat lagi.. Ck ck ck.. Nikmat sekali hidup kamu ya.." Miny menoleh ke araha nama Pintu yang bertuliskan Manager.


Miny keluar dari kantor tersebut. Hatinya terus mengguman sendiri.


Kikk...


"Eeehh..?" Miny melihat perlahan kaca Mobil yang mulai terbuka.


"Ooohh Raha.." Miny menghampirinya.


"Gimana.. Berhasil masukkan...?" Padahal Raha sudah mengetahui hasilnya.


"Iyalah berhasil, di bantu sama tuan Raha.." Miny meledek Raha.


"Ya.. Sudah masuk yukk.. Anggi ajak kumpul di Gymnya dia. Sudah ada Mira juga tungguin kamu..." Raha menepuk nepuk kursi di sampingnya.


"Eeh kamu gak kerja..?" Miny kira Raha kemari untuk bekerja.


"Aku ke sini untuk jemput kamu aja kok.." Raha sangat manis.


"Lalu gak kerja gitu.. Gak di potongkah gaji kamu..?" Miny berpikira layaknya orang pada umumnya.


"Ya gak lah.." Jawab singkat.

__ADS_1


"Aku kan pemiliknya, siapa yang berani potong gaji aku..?" Isi hati


Raha.


"Ooohhh oke deh yukkk.." Miny naik mobil Raha dan keduanya menuju tempat Gym Anggi.


***


"Iiiihhh ini apaan sih Bu.. Kok Wika di suruh yang ginian..?!" Protes Wika dengan apa yang ia lakukan sekarang.


"Udah buat aja orang tinggal gosok gini aja.. Tuhhh.. Bersih.." Tika menunjukan Wika cara mencuci piring.


"Ini piring sebanyak ini abis ngapain si Bu..?" Masih terus protes.


"Tadi ada teman temannya Laura datang. Ya Ibu jamulah sedikit, Laura juga suka dengan tindakan ibu, dia kasih ibu duit nihh nanti Kita berdua bagi bagi ya.." Tika memperlihatkan uang yang di berikan Laura padanya karna sudah melayani Teman temannya dengan baik.


"Iiihh jadi Ibu jadi pembantu di rumah ibu sendiri...? Ooohhh ya ampun Bu.. Sadar bu Sadar... Duit bisa di cari bu, tapi harga diri ibu di mana jualnya. Masa ibu kan mertuanya Laura. Kok malah jadi babunya.. Iiisssss..." Wika melempar gosokan sembarangan.


"Eeehhh kan tinggal sajiin aja yang mau kita jamuin.. Gak susah kok.. Dn gak akan hilang harga diri kamu Wika..." Tika sangat senang belakangan ini, mungkin karna iming iming uang yang di tawarkan Laura dan Dika membuatnya lupa akan segalanya dan hanya terus memikirkan uang uang uang, dan uang.. Memang ya uang selalu buat bahagia.


"Iiss dah lah Wika mau masuk kamar aja, besok ada ulangan. Wika mau belajar aja.." Wika berlalu meninggalkan sang ibu sendiri beres beres di dapur.


"Alaaaahh.. Belajar apanya, ibu tuh hafal kamu Wika, mana bisa belajar. Baca buku aja jarang.." Sewot Tika.


Wika masuk dalam kamarnya membanting pintu dengan keras. "Ciiihhhh orang orang di rumah ini bikin aku gila.


Wika memainkan ponselnya, masuk ke jejaring internet mencari orang orang baru.


"Hihihi.. Seru juga nihh.." Wika terbawa bawa memainkan media sosialnya.


"Eeehh ajak kenalan lagi.." Wika semakin antusias.


"Haaaahh.. Dia suka aku.." Wika sangat Suka percakapan singkatnya ini.


"Eeehh tapi dia sudah tua banget.. Udah 3 kali umur aku.. Iiuuuhh..." Keluh Wika setelah menyadarinya.


"Eeehh dia mau ketemu... Tapi.. Eehh di restoran mewah lagi.. Eeemmm boleh di coba juga ini.." Jiwa liar Wika mulai bersuara. Ia mengatur jabwal pertemuan mereka.


"Oke... kalau Ibu sama kak Dika gak mau kasih apa yang aku mau, aki bisa cari sendiri kok.."


Entah apa yang di pikirkn anak labil ini. Tapi tentu dengan pikiran yang masih kecilnya, ia tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

__ADS_1


Sementara itu...


off dulu guys..


__ADS_2