
"Eeemm oke deh.. Nanti aku transfer ya.." Miny pun setuju.
***
"Ya kah.. Wah.. Hebat juga kamu.. Jadi udah masuk kah uangnya..?" Raha dan Miny sedang makan siang bersama.
"Eeemm udah tadu ada sms Mbanking." Miny sangat senang.
"Eemm ya lalu apa selanjutnya?" Miny mengangkat bahunya.
"Kita tunggu aja Ra.." Raha mengerti.
"Haaahh tadi pak Dika, sekarang Pak Abi juga kamu dekati..?" Seorang wanita datang sepertinya ingin menganggu Miny.
"Hah.. Iya kah..?" Seorang perempuan lagi mengikuti.
"Kamu mau apa Elda.. Cari masalah kah?" sepertinya Raha mengenalnya.
"Hahh.. Kak Abi.. Kenapa kakak mau dekat sama cewek gini. Kak Anisa kan lebih cantik.." Elda duduk di samping Raha
"Lalu..?" Raha tampak tak peduli
"Ya.. Kenapa mau temanan sama cewek kayak gini.." Semakin menjadi.
"Aku juga gak mau kok berteman sama cewek kayak kakak kamu yang cuma bisa sombong, iri, dengki, tapi gak tahu apa apa. Sama kayak kamu juga.." Raha langsung menggandeng tangan Miny dan membawa pergi dari kantin itu.
"Hah..? Elda? Anisa? Siapa Ra..?" Miny dan Raha keluar dari kantin.
"Mereka kakak Adek. Dulu aku berteman dengan kakaknya, kakaknya itu ngaku punya rasa sama aku tapi aku tolak mentah mentah terus yang tadi itu juga, dia ngaku suka sama aku, terus aku tolak juga. Makanya jadi dendam gitu, kalau ada yang dekat aku langsung di serang sama mereka gitu.. Aku harap kamu gak masalah sama Mereka ya.." Rah Tak malu untuk menceritakannya.
"Ooohhh jadi Fans gitu ya..?" Miny malah meledek Raha.
"Hussshh mana ada Fans kayak gitu.." Raha tak terima jika memiliki Fans aneh seperti itu.
"Oowww owww oowww.."
***
Dika pulang ke rumah lebih awal. Amarahnya sudah di ujung lidah rasanya ingin ia mengatakan semua pada Tika.
"Ibu..." Panggil Dika saat baru masuk rumah.
"Ya Dika, ibu gak tuli kok, kenapa teriak teriak juga..?" Tika dan Laura sedang menonton Televisi.
__ADS_1
Dika langsung membanting surat tanah yang ia dapatkan dari Miny tadi.
"Dika... Dari mana kamu..."
"Dari mana apanya.. Harusnya Dika yang tanya kenapa ibu, kenapa surat tanah ini di gadai dan di jual ke mana mana..?" Dika membentak bentak Tika.
Wika yang mendengar ribut ribut pun keluar dari kamarnya.
"Kenapa kak..?" Wika bergabung dengan mereka.
"Ini.. Ibu dia jual surat tanah warisan bapak ke orang orang di luar sana.." jelas Dika.
"Apa.. Kan itu cuma satu satunya kak..?" Wika juga baru tahu.
"Makanya kakak marahin ibu.." Tegas Dika lagi.
"Ck ck ck.. Ibu ibu, ibu beli apa coba..?" Wika juga ikut ikutan marah pada Tika.
"Eeee... Itu ibu beli.. Eeemm" Tika tak berani mangatakan yang sebenarnya pada Dika.
"Apa..!!!?" Dika makin mengeraskan suaranya.
"Buat ibu bayar utang..." Tika mengakui.
"Ya utang ibu aja.. Bukan utang kita..." Jawab Tika dengan malu malu.
"Kalau itu utang ibu aja kenapa bayarmya pake harta bersama gini..?" Dika mengipas ngipaskan surat tanah itu di hadapan Tika.
"Ya.. Maaf nak.. Tapi Ibu perlu.." Alasan Tika lagi.
"Kenapa harus ngutang Bu.." Dika terus memojokan sang ibu.
"Ya.. Abis uang dari kamu gak cukup Dika.. Jadi ibu berinisiatif untuk gadai dulu surat tanah itu dan nanti kalau ibu dapat uang ibu beli lagi kok Dika.." Tika berusaha menyelamatikan dirinya.
"Halah.. Ini aja bu, Dik dapat dari teman kerja Dika di kantor di beli dengan harga 10 juta. Mau gak mau Dika ganti uang dia buat beli tanah ini." Dika menceritakan bagaimana surat tanah ini ada padanya.
"Hah..? 10 Juta.. Ibu jual ini dengan harga 3 juta aja kok.. Dia beli sama siapa..?" Dika makin marah mengetahui harga yang Tika tawarkan untuk surat tanahnya hanya 3 juta.
"Ibu...!!!!" Dika. Membentak Tika dengan Keras.
"Kalau ibu macam macam lagi. Ibu keluar dari rumah ini. Apa ibu gak sayang sama barang barang peninggalan bapak. Ini kan satu satunya Bu.." Dika mengeluarkan semua amarahnya.
Tika yang tak terima terus di marahi Dika pun ikut melawan Dika.
__ADS_1
"Kamu juga sama aja, Molly punya surat tanah dan harta yang lainnya, itu peninggalan orang tuany tapi kamu tega jual abis semua punya Molly gak kasian Molly gak punya apa apa sekarang..?" Ucapan Tika yang satu ini ada benarnya.
"Kamu aja bisa nikah megah dan mewah hanya karna uangnya Molly. Bukan uang kamu toohhh.." ledek Tika lagi.
Kali ini Laura pun bangkit dari duduknya setelah ia hanya menjadi penonton.
"Loohh kenapa kamu yang sewot.. Mau Dika pake kah uangnya mau Dika apa kan gak usah repot, kan Dika juga dapat bagian dari hartanya Molly." Luara juga memiliki lidah tajam.
"Ya tapi gak semuanya itu punya Dika, kalau aku lapor kalian ke polisi tentang masalah Molly baru kalian tahu rasa.." Ancam Tika lagi.
"Ibu...! " Dika menunjuk wajah ibunya.
"Apa? Ibu punya semua buktinya.. Mau hah..?" Ancamnya lagi.
Dika ketar ketir mendengar masalah yang berhubungan dengan Molly.
"Hahahhaa.." Tiba tiba Dika tertawa.
"Ibu ibu.. Molly sekarang itu sudah bahagia. Dia nikah lagi sama orang y g lebih kaya dan bahkan Molly sekarang tinggal di luar negeri." Dika mengatakan yang ia ketahui.
"Kamu.. Kamu tahu dari mana Sayang..?" Laura cukup terkejut Dika mengetahui banyak hal tentang Molly.
"Aku tahu lah.." Dika tak mengatakan dari mana ia tahu masalah itu.
"Baguslah kalau gitu.. Dia bisa dapat harta yang lebih banyak dari suaminya bukannya kayak kamu yang bisanya dapatin uang dari istri aja. Laura kamu juga hati hati ya.. Takut nanti kamu yang di buat Dika kayak Molly.." Tika malah mengompor ngompori Laura.
"Dika, kamu tahu dari mana kalau Molly sudah nikah lagi dan tinggal di luar negeri...? Apa kamu ada hubungi dia kah..?" Laura yang tadinya mendukung Dika kini menatap tak percaya pada Dika.
"Aku..."
"Kamu hubungi dia kan.. Kamu cari tahu tentang Molly kan..!!" Laura yang kini membentak Dika.
"Laura kok kamu ikut ikutan..?!" Dika tak terima di perlakukan seperti ini.
Laura pergi dari tempat itu dengan amarahnya juga yang tak suka jika Dika mencari tahu tentang Molly lagi. Itu terkesan Dika masih mencintai Molly. Karna Laura adalah tipe wanita pencemburu maka ini adalah salah satu melemahannya.
Tika melihat senang Dika dan Laura yang malah bertengkar. Dan mulai melupakan masalah surat tanah yang ada di tangannya ini.
Tika mengambilnya tadi saat Dika dan Laura berdebat. Sedangkan Wika masa bodoh dan masuk ke dalam kamarnya lagi.
Mungkin ini yang Miny maksud dengan menunggu saja. Semuanya terjadi begitu saja tanpa banyak hal yang harus di lakukan Miny atau Molly kita.
Off dulu..
__ADS_1