
Hari berganti hari. Miny sudah satu minggu penuh bekerja di tempat yang sama dengan Dika, tak banyak yang bisa Miny lakukan karna ia malah di sibukkan dengan pekerjaan sebenarnya.
Berhubung ini hari libur, Miny berjalan jalan keluar. Dia pergi ke pusat belanja. Mungkin ada yang bisa ia dapatkan di sana.
Miny hanya pergi sendiri tak bersama Mira atau pun Raha. Miny hanya ingin sendiri kali ini, belajar untuk jadi menjadi Miny yant sebenarnya.
Mulai dari toko baju, sepatu, tas dan toko lainnya juga Miny singgahi. Tapi tak ada yang menarik matanya.
Setelah melewati tempat stand makanan dan kuliner Miny tergoda untuk singgah.
"Eeemm lamanya aku gak makan makanan junk food..." Selama ini Miny keras kerasan menjaga pola makannya agar selalu bertubuh seperti ini.
"Sekali kali gak apa kan.." Miny pun melimpur ke salah satu stand.
"Pesan yang ini dan yang ini ya mbak.." Miny menunjuk beberapa menu kesuakaannya.
"Eeehhh mana ini..." Seorang ibu ibu sibuk sendiri dengan tasnya.
"Haduh Mama.. Apa lagi sih..?" ada anak kecil juga yang bersama ibu ibu itu.
"Iihhh sabar kenapa sih...?" Ibu itu membentak anak kecil itu.
"Eeem kenapa ya bu..?" Miny mencoba bertanya pada Ibu yang belum bisa Miny liat wajahnya karna menunduk membuka tas.
"Eehh ya ini uang saya sama dompet gak ada padahal ini anak saya mau beli makanan di sini.." Miny melihat wajah ibu itu.
Ibu yang pernah mengejek Molly naik ojek di persimpangan jalan. Salah satu teman arisan Tika.
"Ooohh sini kita makan bersama.. Eeemm adik manis mau apa.. Sini pesan sama kakak.." Ajak Miny.
"Boleh kah kak..?" anak itu kegirangan.
"Ya boleh donk.. Kakak aja pesan banyak banget ini makanan.. Kamu pesan juga ya apa yang kamu mau.." Miny mengakrabkan diri.
"Ookeeee..."
"Eeehh kok main pesan aja.." Si ibu panik.
"Haduh ibu.. Tenang aja nanti saya yang bayarin. Ibu juga pesan ya.." Miny sepertinya akan mencari celah dari ibu dan anak ini.
"Aaahh nikmatnya Es krim di siang yang panas ini..." Miny dan anak perempuan itu sangat menyukai makan siang ini. Si ibu pun ikut makan bersama mereka.
"Eeemm ibu dari mana ya..?" Miny memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Ibu dari komplek H.3, kamu..?" Ibu juga balik bertanya.
"Aku dari sekitar sini bu.. Kerja.." Jawabnya.
"Oohh di mana nak..?" Ibu ibu itu suka pembicaraan ini.
"Di Krosa II.." Miny berharap ibu ini tahu sesuatu.
"Ooohhh.. Krosa II... Apa kamu kenal yang namanya Dika..? Eeemm Dika Herlambang.." Ucap Ibu itu lagi.
"Ooohhh... Kenal bu.. Kenapa..?" Miny penasaran.
"Kalau boleh tahu apa posisinya...?" Sepertinya Ibu ibu itu juga mencari sesuatu.
"Eeemm dia maneger bu.." Miny menjawab seadanya.
"Eeemmm.. Padahal ibunya bilang.. Dia gak punya uang padahal anaknya seorang maneger.. Cih.." Ibu itu sewot.
"Emangnya ibunya Dika kenapa..?" Miny berusaha seperti ibu ibu yang kepo gosip jaman sekarang.
"Itu ibunya banyak utang sama aku.. Ini aku baru aja lelang surat tanah, tapi aku lupa kalau hari ini pegadaian tutup." Ibu ibu itu transparan.
"Ooohhh memangnya mau ibu jual langsung atau di gadai aja..?" Miny mulai penasaran.
"Mau di jual sih kalau bisa biar jeng Tika jera.. Maka ini katanya peninggalan satu satunya dari suaminya tapi kok tega di gadai ke aku, katanya karna gak ada uang buat bayar SPP Wika, pas aku tanya ke tetangga yang lain, Wika itu sekolaj di SMA Negeri kok jadi gak bayar SPP. Ternyata di pakai Tika untuk belanja baju baju baru jaman nou.." Miny menaikkan satu alis matanya.
"Pahal aku sekarang yang lagi perlu uang.. Cih tahu tahunya bohong bilang anaknya gak ada pangkat apa apa di kantor.. Heeemmhh" Ibu itu sangat kesal.
"Bu.. Kalau boleh saya liat surat tanahnya.." Pinta Miny.
Dengan senang hati Ibu itu memperlihatkan surat tanah yang Tika gadaikan padanya.
"Ini nak.." Miny melihat data data yang tertera di sana.
"Iya ini surat tanah rumah tempat tinggal Dika dan keluarga.. Di gadai gitu aja..? Eeemm peluang aku kayaknya.." Hati Miny bersorak.
"Bu kalau ibu perlu banget uang.. Aku bisa kasih bu tapi sekarang aku cuma punya 5 juta di dalam ATM kalau ibu mau saya aja yang beli..." pinta Miny.
"Kamu mau beli tanah kecil ini 5 juta..? Eeemm boleh deh.." Mendengar jumbal nominal yang di sebutkan ibu ibu itu tergoda.
Miny melakukan penarikan di Mall itu juga. Ia menarik semua uang yang ia simpan di dalama ATM. Bahkan uang daru hasil kerjanya juga ia masukkan ke dalam ATM itu.
"Oke ya bu.. Makasih banget.." Miny senang sekali.
__ADS_1
"Sama sama dek.. Ya udah kami pamit dulu ya.. Makasih banyak tadi atas traktirannya.." Ibu ibu itu dan anaknya pergi dari hadapan Miny.
"Aku gak maslah harus keluarkan uang aku sendiri untuk balaskan dendam ini.. Aku sudah dapat batu tanjakan besar untuk perpecahan rumah Dika." Miny menatap Surat tanah yang baru ia beli dengan harga murah.
***
"Selamat pagi.." Miny hari ini turun kerja dengan hati yang gembira dan menyapa setiap orang yang ia temui.
"Selamat pagi" Sapa Dika juga pada Miny.
"Aahh pak Maneger.." Miny tersenyum.
"Senang sekali kamu hari ini.. Ada apa ya..?" Dika mencoba dekat dengan Miny.
"Ya pak.. Saya senang banget, soalnya kemarin saya beli tanah baru.." Miny sengaja pamer pada Dika.
"Oohhh ya..?" Dika pura pura penasaran.
"Ya anda mau liat...?" Miny membuka tasnya dan mengeluarkan surat tanah kemarin.
Dika membacanya perlahan. "Eeehh..?" Dika terkejut.
"Kenapa pak..?" Miny lebih menghayati perannya dengan
"Ini surat tanah kamu dapat dari mana...?" Dika sepertinya sangat terkejut.
"Oohhh dari ibu ibu, dia lagi perlu uang, jadi aku beli deh surat tanahnya. Katanya lumayan bagus tanahnya, ukuranya juga lumayan tuuhh pak.." Miny masih terus berpura pura tak tahu apa apa.
"Ya tapi ini tanah keluarga aku.. Siapa yang gadai.. Oohh ini kah..?" Dika mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan Foto Tika.
"Ini ibu aku, apa dia yang jual surat tanah ini..?" Dika bertanya dengan tak sabar.
"Bukan pak.. Ada ibu ibu lain.. Dia bilang dia dapat dari teman arisannya. Teman arisannya mau beli baju baru, jadi jual ini surat tanahnya..." Jelas Miny lagi.
"Jadi surat tanah ini pernah di gadai sebelumnya sama pemilik pertamanya, jadi pemilik keduanya jual ke kamu..?" Miny mengangguk.
"Iissshhh ibu.." Dika sangat marah. Ini adalah warisan ayahnya. Kenapa sang ibu tega menjualnya begitu saja. Dan yang akan menjadi pemilik surat tanah ini adalah Dika sendiri.
"Aku bawa dulu ya.." Dika membawa surat tanah itu.
"Eeehh tapi pak saya bayar tunai itu sirat tanah.. Nanti malah.." Miny pura pura malu mengatakannya padahal ada niat lain.
"Aah iya berapa kamu beli ini surat tanah..? Biar aku ganti uang kamu.. Tapi tanah ini untuk aku.." tawar yang di tunggu tunggu Miny.
__ADS_1
"Aku beli 10 juta pak. Katanya tanah sekarang mahal. Dan susah di dapat.." Miny menaikkan harganya sama seperti ibu yang menjualnya pada Miny kemarin. Di gadai dengan harga 3 juta, di jual lagi dengan harga 5 juta pada Miny dan Miny menjualnya lagi pada Dika 10 juta. Pintar pintar.
Off dulu say.. Like ya... Hihi.. Siasat ya.. Kita main siasat.