DENDAM Karena Buta Cinta

DENDAM Karena Buta Cinta
39.Ingin memilikinya


__ADS_3

"Berhenti!!, kita berdua perlu berbicara" ucap James yang tidak habis pikir melihat Mario lebih khawatir dari pada dirinya.


"Apa kamu menyukai Risha?" tanya James.


"Maksud kamu?. Aku tidak mengerti" jawab Mario yang pura tidak tahu dengan maksud James.


"Jawab pertanyaan aku, tidak usah berpura-pura!. Jawab!!!".


Mario memaksa melepaskan genggaman tangan James di bajunya. Mario ingin jujur, tapi ia tidak mau menyakiti perasaan Risha. Kalau seandainya Nathan tahu, aku memiliki perasaan terhadap Risha pasti Nathan akan marah.


"Iya, aku menyukai dia. Lantas apa yang kamu inginkan?. Memisahkan kami berdua".


"Ingat!!! Akulah yang menjaga dia selama ini, bukan kamu James" kata Mario dengan nada tegas.


"Tidak ada perasaan yang bisa di paksa, kita lihat saja nanti. Apakah Risha mencintai aku atau kamu Mario" jawab James dengan mata melotot.


"Kita lihat saja, aku tidak akan takut".


Tidak mood lagi untuk datang ke tempat polisi, saat berdebat tentang masalah Risha. Nathan menelpon Mario mengatakan kalau Risha sudah kembali. Mereka berdua pulang ke rumah, melihat keadaan Risha yang sudah kembali.


Di sebrang sana Ella sedang rawat di rumah sakit yang di temanin oleh ibunya. Dia mengalami sakit lambung semenjak ia masuk ke dalam penjara, Erlina terus merawat Ella sampai sembuh. Ada rasa kasihan melihat keadaan anaknya seperti itu, apa itu karma bagi mereka yang sudah menyakiti hati Risha saat dulu.


Ella meminta pada ibunya untuk membebaskan dia dari penjara, Mario memberikan biaya untuk membebaskan Ella dari penjara dengan syarat pulang ke tempat asal yaitu pergi sejauhnya dari Paris.


Erlina menyetujui dengan syarat yang di berikan oleh Mario. Ia tidak ragu untuk lebih pergi dari sini dari pada melihat anaknya di dalam penjara. Awalnya Ella keberatan, karena ini jalan satunya untuk keluar dari penjara.


...----------------...


Orang Mario sudah sampai di depan rumah, Risha melihat Mario langsung memeluknya. Perasaan James sangat sakit, kenapa Mario yang di peluk bukan dia.


"Aku sangat takut Rio. Aku ingin tinggal disini tidak mau disana" katanya dengan rasa ketakutan.


"Tenang diri dulu Risha. Kamu tidak apa kan sayang" ucap Mario menenangkan hati Risha yang sedang ketakutan dengan keadaan sekarang.


"Sayang?. Maksud mereka berdua apa?".


Risha melihat ke arah James yang sedang panas melihat kemesraan mereka berdua. Sengaja melakukan seperti ini di depan James, Risha ingin bagaimana sakitnya melihat orang yang di cintai bermesraan dengan wanita lain.

__ADS_1


"Sha, apa yang kamu lakukan. Kita salah paham, tolong percaya sama aku. Ini tidak seperti yang kamu lihat Sha".


James terus berusaha untuk meyakinkan Risha percaya dengan penjelasan dia. Suara pintu terbuka, Ratih yang tiba datang melihat James memegang tangan Risha. Air mata mengalir, rasa yang dulu di tolak adalah alasan mencintai Risha bukan karena hal lain.


"Hai Sha." ucap Ratih sembari memeluk Risha.


"Kamu baik sajakan?. Aku khawatir sekali sama kamu Sha".


"Aku selamat. Berkat kakak, aku bisa kabur dari tempat itu".


Nathan orang yang sangat baik, dia peduli dengan adiknya. Aku tidak bisa memiliki James tapi bagaimana dengan kakaknya?. Apakah aku bisa dekat dengan dia?. Pikirnya


"Aku buatkan minum dulu".


"Jangan Sha, biar aku saja. Kamu 'kan baru saja


kembali, lebih baik istirahat dan ganti pakaian kamu Sha" menyuruh Risha untuk segera menukar baju yang sudah basah, ia tidak maubegois kedua kalinya. Saat dulu, dia kehilangan Risha dan tidak mau kehilangan kedua kalinya.


Pertemanan lebih penting di bandingkan seorang pria, Ratih menuju ke dapur menyiapkan air minum untuk semua orang. Tiba saja Nathan tidak sengaja datang ke dapur mencari es batu untuk keperluan Risha.


Nathan memasukkan es baru ke dalam sebuah mangkok berukuran sedang, salah satu es batu jatuh ke lantai. Ratih melewati jalan di depan kulkas akhirnya terpeleset dan hup.....


Matanya?. Apa baru saja dia sedang menangis. Mata panda, sangat lucu sekali. Oh tidak, aku tidak bisa melakukan ini. Aku harus tahan, astaga.... Bagaimana ini, tahan....


Ratih melihat Nathan aneh sekali, wajahnya sangat maju depan wajah Ratih. Dia berpikir apa yang di lakukan, apa Nathan akan mencium dia?.


"Aaaa,,, apa yang kamu lakukan?." mendorong Nathan.


Dukkk...


"Aww,,, ash" sembari memegang kepala karena terbentur dengan dinding.


"Maaf, aku tidak sengaja. Maaf maaf...." ucap Ratih perasaan bersalah pada Nathan


Lagi, mereka saling memandang satu sama lain. Hati Ratih berdetak dengan kencang, berusaha mengarah pandangan lain agar tidak terpesona dengan ketampanan Nathan.


"Maaf, saya permisi dulu".

__ADS_1


Nathan pergi meninggalkan Ratih sendiri di dapur. Tidak mau berlamaan karena Risha sudah menunggunya di kamar. Es batu di gunakan untuk mengobati memar merah yang ada di leher Risha, ia tidak mau membuat adiknya malu karena kelakuan Maxel.


"Sha, buka 'kan pintunya".


"Masuk saja, pintu tidak terkunci" ucap Risha.


Masuk ke dalam kamar mengantar es batu untuknya. Gleekk,,, Risha memakai handuk belum memakai pakaian. Nathan terkejut langsung menutup mata melihat adiknya yang sedang tidak memakai baju.


"Kakak ngapain kesini, tadi bukannya Ratih?" merasa bahwa yang mengetuk pintu adalah Ratih ternyata Nathan.


"Keluar kak, aku sangat malu" mengusir Nathan karena malu melihatnya yang tidak ada pakaian tapi hanya ada handuk yang menempel di tubuhnya.


"Iya, kakak keluar". ucap Nathan menutupi pintu kamar Risha.


Nathan melihat ke bawah, ia merasa bahwa senjatanya berharga sudah naik ke atas. Dengan rasa malu ia ke dapur lagi, Ratih masih di dapur membawa gelas berisi air minuman.


"Ratih". memanggilnya.


"Hmm,,,, tidak ada".


Ratih kebingungan melihat Nathan seperti itu. Setelah mengantar air minum di depan, ia mendatangi lagi dimana Nathan sedang duduk sendirian.


"Hai, sedang apa disini?" tanya Ratih agar di berikan tempat duduk untuknya.


Keberadaan Ratih tidak di pedulikan oleh Nathan, hingga berdiri sangat lama.


"Silahkan duduk, jangan berdiri di sana." Ucapnya.


"Terima kasih. Oh ya kamu sedang berbuat apa disini?" tanyanya lagi yang merasa penasaran dengan tingkah Nathan.


"Kenapa kamu ingin sekali tahu saya sedang apa disini?. Apa saya menganggu kamu Ratih?. Nama kamu Ratih kan, teman adik saya" jawab Nathan menoleh ke arah Ratih.


"Maaf, aku hanya ingin tahu saja. Ini sudah malam, cuaca sedang dingin." Ratih mencoba mengajak Nathan masuk ke dalam rumah.


"Lalu, apa urusan kamu dengan keadaan saya. Jangan pernah mencoba mencari perhatian terhadap saya".


Mulut Ratih terdiam setelah mendengar perkataan Nathan. Tidak ada maksud lain dengan ucapannya, ia tidak mau Nathan masuk angin makanya Ratih berkata seperti itu. Ingin sekali menangis, kenapa tidak ada yang perhatian padanya?. Kenapa Risha selalu?.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2