DENDAM Karena Buta Cinta

DENDAM Karena Buta Cinta
51. Kenangan masa kecil


__ADS_3

"Tolong usahakan adik saya hidup, tolong dok. Dia adik aku satu-satunya, jangan biarkan mati dok" ucap Mario meremas baju dokter.


"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk adik anda, maaf sekali lagi" ujar dokter.


"Sial, sepertinya aku harus beri pelajaran untuk kamu Noel" ucap Mario pergi meninggalkan rumah sakit.


Leo sedang duduk menunggu Bosnya datang, saat ingin masuk ke dalam Mario lewat begitu saja dari hadapanya tanpa melihat kedatangan Leo.


"Mau kemana bos, apa yang terjadi dengannya?".


Karena penasaran, akhirnya Leo mengikuti Mario sampai ke tempat kantor polisi. Benar saja, Mario ingin berjumpa dengan Noel. Pastinya Mario akan membuat ulah disana karena kematian James adiknya, Leo mengikuti Mario sampai masuk ke dalam.


"Saya ingin bertemu dengan Noel, segera!!" ucap Mario melotot emosi pada polisi.


"Baik, tuan tunggu disana saja" menunjuki ruangan obrolan.


Noel pun datang lalu mengambil sebuah telepon alat untuk komunikasi dengan orang luar, begitu juga dengan Mario mengambil telepon.


"Kenapa kamu membunuh adikku?. Aku yang berurusan dengan kamu Noel bukan adikku!!".


"Lalu, apa hubungan dengan saya. Kamu yang mengatur ini semua, jadi jangan salah saya berbuat seperti itu pada adik kamu Mario".


"Dari mana kamu tahu namaku, bukannya kamu hanya tahu nama aku James?. Apa kamu...".


"Saya sangat puas sekali, Geo-Alve sudah tiada. Sekarang adik kamu yaitu James, kasihan sekali hidup kalian".


"Ini semua karena kalian, kamu pikir aku segitu tidak tahu kalau kaliqn berdua bekerja sama untuk menipu keluarga kami. Jangan senang dulu Noel, hukuman kamu masuk penjara akan membuahkan hasil keadilan dalam hidup kami".


"Hukuman yang akan di berikan pada kalian berdua adalah hukuman mati, kamu ingat itu Noel. Jangan bersenang-senang dulu, kematian itu akan menghampiri kalian berdua" ancaman Mario pada Noel.


Tangan Noel mulai bergetar atas ucapan yang di dengar dari Mario, sampai mulunya greget ingin membunuh Mario. Seharusnya pada saat itu Mario yang harus di bunuh bukan Jamea, itulah yang ada di pikiran Noel saat ini.


"Aku pergi dulu, nikmatilah masa-masa hidup kamu yang tidak lama lagi" pergi meninggalkan Noel.


"Tunggu kamu, berhenti. Kamu akan mati Mario, kamu yang mati" ucap Noel berteriak ke arah Mario yang sudah pergi dari hadapannya.


Leo menghampiri Mario yang sudah keluar, waktu terlambat sekali untuk menyapa Mario yang lebih cepat jalan lalu masuk ke dalam mobil.


**


Telepon masuk dari Mario


📱"Halo Sha, kabarkan semua untuk datang ke rumah sakit".


📱"Sekarang Mario?".


📱"Iya Sha!" jawab Mario.


📱"baik Rio, aku bilang pada mereka dulu".

__ADS_1


📱"Aku tutup dulu".


Menutup panggilan


"Semua, kita di suruh datang ke rumah sakit sekarang juga kata Mario".


"Ada Sha, kenapa mendadak begini" ujar Ratih.


"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita berangkat sekarang!".


"Ya sudah kita berangkat, ayo sayang" kata Nathan.


Mereka akhirnya berangkat pergi dalam satu mobil, Ratih sibuk dengan game yang sedang di permainkan. Sudah berapa kali Risha menegur Ratih untuk tidak bermaij game dalam keadaan seperti ini, tapi tetap saja Ratih bersikeras kepala tetap bermain game.


"Bisa berhenti main game sebentar, kamu tahu kita lagi keadaan gimana!. Berhenti main game Ratih!" tegur Risha ada Ratih.


"Iya aku berhenti bermain, tidak usah marah seperti itu juga Risha. Aku mendengar teguran kamu" ujar Ratih sedikit kesal.


"Ratih, jangan sampai aku sendiri yang menegur kamu" sahut Nathan.


Ratih menyimpan ponsel di salam saku bajunya, karena sudah di tegur oleh Nathan baru bisa diam. Ada rasa sedikit emosi pada Risha karena ulahnya jadi Nathan juga turun tangan untuk menegur Ratih.


Mereka sudah sampai di perkarangan rumah sakit, dengan cepat mereka turun dari mobil menuju ke dalam. Nathan membuka ponsel lalu memberikan pesan kalau mereka semua sudah sampai.


"Kak Mario dimana?" tanya Nathan lewat pesan.


"Nanti kamu lihat ada Leo di sisi kamar ruangan pasien" membalas pesan Mario.


"James... dia..".


"Kemana James, aku tidak melihatnya" tanya Ratih melihat sekeliling.


"Dia sudah meninggal Ratih!" jawab Mario.


"APA?. Tidak mungkin, dimana James sekarang. Aku ingin melihat dia, dimana Mario" tanya Risha.


"Dia ada didalam" menunjuk telunjuk tangan ke arah kamar.


Risha masuk ke dalam lalu melihat james yang sudah di tutup oleh kain, Risha mulai menangis melihat keadaan James sekarang ini. Ia membuka kain itu melihat wajah James untuk terakhir kalinya, mengingat perjanjiannya dulu akan menikah jika mereka sudah besar.


"James!!!, bangun... Jangan tinggalkan aku seperti ini. Kamu sudah berjanji untuk menikah denganku, bangun James" teriak Risha menangis air mata.


"Aku tidak rela kamu begini saja, bangun James!!. Bangun aku bilang, BANGUN!" ucap Risha menggoyangkan tubuh James.


Beribuan kali pun Risha berteriak memanggil James, namun tetap saja James tidak akan bangun. James sudah tiada membuat Risha histeris di dalam ruangan, yang di luar mendengar keributan di dalam langsung masuk menarik Risha lalu memeluknya.


"Tenang Sha, kenapa jadi seperti ini".


"James... tolong bangunkan dia, aku sangat mencintainya. Aku tidak mau dia pergi, bangunkan dia Mario" ujar Risha masih terus menangis.

__ADS_1


"Tenang!, semua sudah takdir. Orang yang sudah mati tidak akan pernah hidup lagi, jadi tolong tenangkan diri Risha".


Sebenarnya ada rasa sakit saat Risha mengatakan kalau dirinya sangat mencintai adiknya James, bagaimana mungkin mereka bisa menikah tanpa adanya cinta. Itulah yang di pikirkan Mario, suasana hati semakin menambah rasa sakitnya.


Aku tidak menduga kamu pergi begitu saja, setelah kamu menolak cintaku yang dulu. Sekarang kau pergi meninggalkan aku selamanya, James, kamu manusia' paling jahat yang belum pernah aku temui. Batin Ratih.


"Kita pulang dulu, dokter akan mengurus semua ini. Kita menunggu di rumah saja, ayo semua" ajak Mario.


"Oliv, kamu menangis juga?" tanya Nathan.


"Bagaimana aku tidak menangis, kak Jamea sudah seperti kakak bagiku. Dan hampis saja menjadi kakak ipar buat kak Risha, sekarang dia meninggalkan kak Risha untuk selamanya" kata Oliv.


"Aku tahu bagaimana keadaan kamu waktu lalu, semua sudah selesai Oliv dan kita akan aman" ujar Nathan.


"Benerkah yang kak katakan, tidak ada bahaya lagi kan?".


"Tidak sayang. Bagaimana hari ini, apa kamu senang dengan lamaran aku".


"Kak Nathan, jangan bahas disini!" bersikap tidak mau membahas itu di depan lain, apalagi sedang berduka.


"Kita pulang sekarang, ayo" ajak Oliv.


Pulang ke rumah dalam keadaan diam seribu bahasa, memang semua masalah sudsh selesai. Pelaku juga sudah di tangkap, Keyza sedang di kurung di rumah sakit jiwa. Akibat Keyza mendengar Noel masuk ke dalam penjara membuat dirinya trauma dan stres, berbeda dengan Jude. Pastinya bahagia dengan kematian James, siapapun anak mereka bertiga pasti Jude puas.


Satu persatu semua hilang begitu saja, dari orang tua mereka juga Geo dan Alve. Sekarang James sudah pergi untuk selamanya, membutuhkan pengorbanan yang banyak untik melindungi keluarga diri sendiri.


Malam pun tiba


Risha masuk ke dalam kamar James melihat isi yang ada di dalam, pada saat melihat beberapa macam buku tak sengaja menemukan album foto. Ia membuka lalu menemukan foto dimana masa kecil mereka dulu, sering bermain bersama dan James selalu membawa kamera di saat bermain ke taman.


Air mata Risha mulai menetes saat melihat foto bersama James, Banyak sekali memori mereka berdua sejak kecil. Kadang ingat masa dulu dimana Risha cemburu pada James, karena ada anak perempuan menyukai James saat satu tugas kelompok.


Flashback off


Kelas masuk sudah tiba, semua anak murid masuk ke kelas masing-masing. begitu juga dengan James masuk ke dalam, guru masuk dengan membawa kotak yang dimana kotak tersebut ada tugas kelompok di bagikan pada mereka semua. James adalah ketua kelas, jadi tugasnya untuk membagikan kotak tersebut.


"Baik semua, silahkan buka kotak tersebut lalu ambil satu persatu lembar kertas dan membuka. Setelah kalian buka, carilah kawan kalian yang sama angka di dalam kertas kalian" ucap guru berikan perintah pada murid semua.


"Hai James, kamu kelompok 3 bukan?" tanya anak murid perempuan.


"Iya, kenapa memangnya!" jawab James dengan nada acuh.


"Anak-anak semua, waktu jam pulang sudah tiba. Ayo bersiap-siap kita pulang dengan kereta" kata guru menyuruh mereka berbaris seperti kereta.


Tiba-tiba datang Risha mengajak James pulang.


"James, kita satu kelompok!" ujar anak perempuan itu memegang tangan James.


"Jam!!!".

__ADS_1


"Sha?. Lepaskan aku" mengejar Risha.


Bersambung


__ADS_2