DENDAM SUAMIKU PADAKU

DENDAM SUAMIKU PADAKU
Kau Pembunuh!!!!


__ADS_3

Tabrakan yang sangat kencang ditambah teriakan Hans yang mengglegar membuat orang orang disekitar kejadian langsung mendekati tubuh Fans yang tergeletak begitu saja.


Hans langsung menghampiri Fans, merengkuh pelan tubuh adiknya yang tak berdaya itu.


"Fans, Fans buka matamu fans!" panggilnya sambil menggoyangkan pelan tubuh adiknya.


Fans tak menjawab, dia kehilangan kesadarannya setelah kepalanya terbentur keras dengan aspal.


Dengan sigap Pasha langsung memanggil ambulan, namun sayang, ambulan baru akan tiba 30 menit lagi dikarenakan jalanan menuju lokasi macet.


"Tuan, lebih baik kita langsung bawa Tuan Fans ke rumah sakit tuan, tidak ada waktu, karna ambulan masih lama!" Pasha menyadarkan Hans yang masih berusaha membangunkan Fans, meski masih syok, dirinta harus mampu menahannya karna tidak ingin memperburuk keadaan.


Sebelum pergi, Pasha sempat menelfon seseorang untuk segera membereskan tempat kejadian.


Saat hendak pergi, tak sengaja tatapan Hans bertemu dengan tatapan Hana.


"Kau Pembunuh!!!!!".


Begitulah arti tatapan tajam Hans saat bertemu dengan tatapan Hana.


Pasha pun langsung membawa Fans ke rumah sakit.


***


Sesaat setelah mobil Hans pergi, datanglah beberapa pria berbadan tinggi besar bak preman langsung membubarkan kerumumanan.


Ada dua orang yang membersihkan darah Fans dijalan, tiga orang mengurus kerumunan dan pengendara montor yang ternyata langsung tewas dilokasi kejadian, dan salah seorang datang menghampiri Hana yang masih menangis dipelukan Vita.


" Apa anda Nona Hana?" tanya pria berprawakan seperti preman itu pada Vita dan Hana.


Hana tak menjawab, "ada apa pak?" tanya Vita sedikit takut.


"Nona Hana tolong ikut saya, ini perintah tuan besar". Pria bertubuh besar itu langsung menarik tangan Hana.


Namun Vita langsung menahannya, "pak kenapa? ada apa ini? kenapa Hana...".


belum sempat Vita menyelesaikan bicaranya, Hana langsung menyela "tidak apa, aku harus ikut!"


"terimakasih atas kerjasamanya nona Hana, dan untuk anda Nona, tolong rahasiakan semua ini!, saya permisi!"


Hanapun mengikuti arahan si pria bertubuh besar itu, dan masuk kedalam mobil.


Vitapun tersadar saat mobil yang membawa Hana pergi, bersamaan dengan hilangnya orang orang yang berkerumun tadi.


"kemana mereka semua? apa ini mimpi? tadi banyak orang knapa sekarang sepi seperti tidak terjadi apa apa barusan, apa yang dimaksud pria tadi soal rahasia? astaga Hana, bagaimana nasib Hana?".

__ADS_1


Vita kebigungan sendiri, karna secepat itu keadaan menjadi normal kembali. tidak ada bekas darah Fans, tidak ada kerumunan, seolah olah tidak ada kejadian yang terjadi.


"Vita, ngapain disini ayo masuk, acara akan segera dimulai!". kata seorang lelaki yang datang menepuk lembut bahu Vita, yang tak lain adalah kekasih Vita.


"hah... tapi..?". Vita tersentak


" ohh, pasti kau belum tahu ya, Tuan Hans dan Pak Fans tidak bisa hadir karna ada urusan mendesak di Singapore, dan Hana juga tiba tiba mengundurkan diri dari acara ini, bersyukur orang kepercayaan Pak Pasha datang tepat waktu, jd semua urusan aman terkendali!". Jelas kekasih Vita sambil merangkul bahunya.


"apa apan semua ini, Fans, Hana, pria tadi, ahh..." Vita memijat keningnya.


...******...


Fans langsung ditangani oleh para dokter dan perawat yang bertugas. Hans merasa frustasi dengan kejadian yang baru saja ia lihat dengan kedua matanya itu. Ia mengepalkan tangannya dan meninju dinding keras, hingga membuat memar di jari jarinya.


"Tenanglah tuan, jangan seperti ini, anda bisa terluka, duduklah dan minum ini!". Pasha berusaha menenangkan Tuan Mudanya itu.


Selesai menegak habis botol air yang disodorkan Pasha, Hans kembali mengepalkan tangannya. "Dimana si ****** itu?!"


Pasha menghembuskan nafasnya, "Nona Hana sudah saya amankan tuan, dia tidak akan bisa pergi kemanapun, untuk soal lain anda tidak perlu khawatir tuan, semua sudah berjalan sesuai dengan rencana awal!".


Hans hanya mengangguk, dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia makin menyimpan kebencian juga dendam pada Hana, bayang bayang kejadian sore tadi membuatnya naik darah.


***


Didalam mobil Hana hanya terdiam, tangannya saling bertaut untuk menghilangkan kegelisahan dalam dirinya. Ponselnya terus berdering, panggilan masuk dari Vita terus memanggil, seakan dia tahu bahwa Hana dalam bahaya.


Hana tak menjawab, hanya anggukan kepala yang lakukan. Hana keluar dari mobil dengan langkah gontai, kepala menunduk memandangi kedua tangannya yang masih bertaut satu sama lain.


Tanpa Hana sadari, dirinya telah tiba disebuah rumah tua yang letaknya cukup jauh dari keramaian kota. Didepan rumah, terlihat sosok bertubuh atletis yang memandang tajam kearah Hana.


"ini nona Hana bos!". lapor pria bertubuh besar pada sosok bertubuh atletis itu.


"bagus, apa dia memberontak?" imbuhnya menyelidiki


"tidak bos, hanya ponselnya yang sedari tadi berdering!" jawab pria bertubuh besar sambil melihat ke arah kantong saku baju tempat Hana menyimpan ponselnya.


"hmm, berikan ponselmu ******!" pria bertubuh atletis itu menyodorkan tangannya kearah Hana.


Hana tak bergeming, pikirannya masih terbayang kejadian mengerikan tadi. sampai akhirnya seseorang mendorong dan mendongakkan kepalanya.


"heh, kau dengar tidak bos bilang apa?" seru pria bertubuh besar itu sambil memegangi wajah Hana


Hana tak tak bergeming, wal hasil pria bertubuh besar itu mendorong kasar tubuh Hana hingga terjatuh.


"hey sudah jangan kasar terhadapnya, beri saya dia obat bius dan taruh di kamar blakang" Perintah pria bertubuh atletis

__ADS_1


Salah seorang dari mereka langsung menyuntikkan obat bius dilengan kiri Hana, Hana langsung tak sadarkan diri.


Jam sudah menunjukkan jam sebelas malam, terlihat sebuah mobil mewah baru saja tiba didepan rumah tua itu.


Pasha baru saja tiba dari rumah sakit mengurus semua keperluan dua tuan mudanya itu. Sama halnya dengan Hans, sebenarnya Pasha juga sangat syok dan sedih dengan kejadian naas sore tadi. Tapi karna tanggung jawab, ia mau tidak mau harus menepis semua perasaan dan kondisi mentalnya untuk membereskan masalah ini.


"Dimana dia?" tanya Pasha sambil membuka jasnya dan menyerahkan pada salah satu anak buahnya


"ada dikamar belakang tuan, semua aman terkendali, hanya saja saya terpaksa memberikan obat bius karna wanita itu hanya diam saja seperti manyat hidup tuan" Jelas pria bertubuh atletis.


Pasha hanya mengangguk dan langsung melangkah menuju kamar belakang. Pandangannya langsung tertuju pada Hana yang berbaring diatas kasur tak sadarkan diri.


"Hana Hana, kau membangunkan singa betina juga singa jantan yang lapar, andai saja tanganmu itu tidak mendorong Tuan Fans, pasti saat ini kau sedang bersenang senang dengan teman temanmu lainnya, dasar bodoh".


Dialog Pasha dalam hatinya.


Pasha memilih untuk membuka ponselnya untuk memeriksa beberapa jadwal tuan mudanya, ia menghembuskan nafas dengan sangat kesal, semua jadwal menjadi kacau karna ulah Hana.


Pasha yang terlalu fokus dengan ponselnya tidak menyadari bahwa Hana sudah sadar.


Hana membuka matanya perlahan, melihat sekeliling ruangan yang sangat asing baginya, tangannya memijat lembut keningnya, obat bius itu sedikit membuat kepalanya pening, tatapannya pun langsung mengarah pada seorang pria yang duduk diatas sofa tak jauh dari kasurnya.


"Tuan, dimana ini?" tanyanya memberanikan diri


Pasha tersentak, "sudah sadar rupanya". Pasha tak menjawab pertanyaan Hana, ia langaung berdiri menghampiri Hana yang terlihat kebingungan.


Belum sempat berkata, ponselnya berdering, panggilan masuk dari tuan mudanya


"Halo Tuan?"


"Innalillahi, baik tuan saya akan segera kesana!"


Pasha menutup ponselnya dengan perasaan sedih.


Ia langsung melihat kearah Hana "Dasar pembunuh, siapkan diri anda nona Hana!"


Pikiran Hana mulai sinkron, ia baru sadar bahwa dirinya masih berada dirumah tua, dan betapa terkejutnya Hana mendengar Pasha mengucapkan Innalillahi saat sedang menerima telefon.


Tak terasa airmatanya menetes begitu saja, ia yakin pasti bahwa yang menelfon Pasha adalah Tuan Hans


"Tuan, apa maksud anda? apa itu Fans? bagaimana keadaannya?" Tanya Hana dengan bibir yang bergetar


"Siapkan diri anda untuk menerima hukuman atas apa yang anda perbuat nona, Tuan Fans sudah tiada, dan ini semua karna anda!". Pasha menjelaskan dengan penekanan dan langsung berlalu begitu saja meninggalkan Hana yang terlihat sangat syok.


"Fans, oh tidak.... maafkan aku, aku bukan pembunuh, aku tidak membunuhmu, maafkan maafkan aku....". Hana berdialog pada dirinya, tangisnya pecah sampai pagi.

__ADS_1


Ada perasaan menyesal atas apa yang telah terjadi marah pada dirinya sendiri, sedih karna kehilangan orang yang ia sayangi semua bersatu menyelimuti hati dan pikirannya.


__ADS_2