DENDAM SUAMIKU PADAKU

DENDAM SUAMIKU PADAKU
Masa Lalu Hana Prt 2


__ADS_3

Halo sebelum kita mulai, aku mau minta maaf dulu yaaa, kapal milik ayah Hana itu bukan kapal pesiar, tp kapal phinisi.


Seperti ini contohnya (maaf kalau gambar blur ya)



dan posisi kapal saat tenggelam itu bagian belakang nya dulu yang tenggelam, jadi posisinya miring keatas.


...************...


Pria yang sebentar lagi resmi memiliki dua orang putri itu, berhasil meyakinkan dan menghilangkan rasa takut putri sulungnya agar bisa melompat dari atas kapal.


Kini keduanya mencoba berenang mendekati papan kayu, tempat bunda dan rekan kerja Josep berbaring. Meski minim pencahayaan, Sinar Bulan pada malam itu cukup memberi sedikit cahaya pada penglihatan mereka.


Tidak mudah berenang di tengah laut pada situasi saat itu, dinginnya angin laut membuat tubuh mungil Hana mulai menggigil kedinginan.


Tak butuh waktu lama, Hana dan ayahnya sudah berada disamping papan kayu itu.


"Ayah, lalu sekarang bagaimana?. Apa kita akan mati?". Wajah polos Hana bertanya penuh harap, sambil terus mengeratkan pegangannya pada lengan ayahnya.


Mendengar pertanyaan putrinya, Josep terdiam berfikir, bagaimana caranya agar mereka bisa sampai ketepian, seingatnya mereka berlayar kurnang lebih sepuluh kilo meter dari bibir pantai. Jarak itu hanya sampai tadi petang, saat kapal berhenti sejenak untuk menikmati matahari terbenam, sedangkan sekarang sudah tengah malam.


"Kita tidak akan mati sayang, kita akan selamat, percayalah pada ayah!". Josep memeluk Hana erat-erat, memberi semangat pada putrinya yang mulai terlihat pucat.


"lalu bagaimana dengan bunda ayah?, tubuh bunda dingin sekali, bunda tidak papa kan?". Hana melepaskan pelukan ayahnya dan menggenggam tangan bundanya yang dingin.


Josep memandangi istri dan Sebastian sahabatnya, kemudian mengecek denyut nadi keduanya. Denyut nadi Hastary lemah, begitujuga dengan Sebastian, dia harus segera menyelamatkan Istri, anak dan sahabatnya.


"Hana, hana sangat jago berenang bukan? mau bantu ayah?". Tanya Josep dengan kedua tangan yang memegang pundak Hana


"Hmmm" Hana hanya mengangguk.


"Kita akan selamat, asal Hana mau bantu ayah mendorong papan kayu ini ketepi pantai!". Raut wajah Josep berusaha meyakinkan putrinya, padahal dalam hatinya, ia tak begitu yakin dengan ide konyol nya ini.


"iya Ayah, Hana akan bantu, ayo ayah sekarang kita harus berenang ke arah mana? ayo Aaahhh cepat!". Hana sudah bersiap diposisinya.


Josep tersentak melihat semangat putrinya, seketika rasa putus adanya hilang. Josep seperti mendapatkan suntikan tenaga agar bisa berenang ketepian. Meski ia tak tahu harus seberapa lama dan seberapa jauh ia sanggup berenang disituasi seperti itu.


Josep melihat sekeliling, mencoba menerka-nerka arah mana yang harus ia pilih. karna yang ia lihat hanya gelap dan lautan yang membentang.


"Ayah!, kita kerah kanan saja kalau ayah bingung, ayo ayah..., kita tidak punya banyak waktu lagi!" Tepukan Hana ditangan Josep menghentikan fikikirannya.


"Ahh, Iyaa Hana, ayo, kamu hebat, memang ke arah kanan yang harus kita tuju!". Josep mulai berenang mendorong papan kayu itu. Sebenarnya ia tak yakin arah yang dipilih Hana adalah arah yang benar. Tp entah dari mana, perasaan tenang memilih arah yang dipilih Hana menyelimuti batinnya.


Sudah sekitar tiga puluh menit Josep dan Hana berenang, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa mereka dekat dengan daratan.

__ADS_1


Josep sangat bangga memiliki anak kuat seperti Hana. Ia sangat tahu betapa lelahnya tubuh mungil putrinya itu, tapi tidak sedikitpun Hana mengeluh.


"Ayah, apa masih jauh?, atau sepertinya arahnya salah?". Hana menoleh kearah Josep.


Josep menghentikan gerakannya, memandang putrinya penuh kasih sayang. "sepertinya masih jauh sayang, apa Hana lelah? Hana boleh naik keatas papan kayu kalau Hana lelah?".


Gadis kecil itu menjawab dengan cepat. "Tidak ayah!, Hana tidak lelah, Hana hanya takut, kenapa tubuh Bunda semakin dingin, bahkan terlihat sangat kaku.


Josep sudah menyadari sesuatu, saat beberapa menit yang lalu, bahwa Hastary, istri tercinta dan calon putri kedua mereka sudah pergi lebih dulu. Ia memilih memendam kesedihannya dengan diam. Ia juga tak mau mematahkan semangat putri sulungnya untuk bisa menyelamatkan bundanya.


"Bunda hanya kedinginan sayang!". Josep menarik tubuh putrinya dalam pelukannya. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Spontan Hana langsung melepaskan pelukan ayahnya. "Ayah!, kalau begitu kita harus lebih cepat lagi!, biar cepat sampai daratan ayah!".


Hana mulai mendorong papan kayu lagi, tak dapat dipungkiri, kakinya sudah mulai lemas. Tenaganya sudah terkuras habis, tapi semangat yang tinggi untuk bisa menyelamatkan bunda dan calon adiknya menepis jauh-jauh rasa lelah yang menjalar.


Josep tersenyum, air matanya mulai jatuh. Ia memandang keatas, bersyukur pada Yang Maha Kuasa karna telah diberikan seorang putri yang sangat hebat, sangat kuat, bahkan lebih kuat dari dirinya.


"Tuhan, tolong selamatkan kami, setidaknya biarkan putri saya Hana hidup, meski itu mustahil bagiku, tapi tak kan mustahil bagiMu Tuhan".


Doa Josep yang sudah mulai putus asa. Kakinya keram, dengan sekuat tenaga ia mencoba menyeimbangi gerakan Hana.


Sepertinya Tuhan mendengar doa Josep, selang beberapa menit, terjadi hujan badai, ombak mulai meninggi, mulai menghantam tubuh Hana dan Josep. Belum sempat Hana berpegangan pada Josep, Ombak tinggi sudah menggulung tubuh mereka. Tubuh Hana, Josep, Hastary, serta Sebastian hilang, tergulung ombak.


Mata Hana terbuka perlahan, Hana merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Hana membuka matanya, mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.


Hana menoleh kekanan dan kemari, bertanya-tanya dimana dia berada. Dan Han ingat, hujan badai, ombak, ya tubuhnya terbawa ombak.


Perlahan Hana bangun dari tidurnya, rasa nyeri semakin terasa saat Hana menggerakan berapa tubuhnya. Ia melihat sekeliling, masih subuh ternyata. Hana melihat ada satu perahu yang terparkir di bibir pantai.


Namun ada yang aneh dari perahu itu, Hana melihat ada tangan yang terk2ubur di samping perahu itu.


"Ayah!!!!"


Hana berlari menghampiri perahu, benar, tangan itu milik Josep. Kondisi Josep sangat mengkhawatirkan, banyak lebam ditubuh Josep. Ada darah yang keluar dari telinganya.


"Ayah, ayah bangun, ini Hana ayah, kita selamat ayah....!". Hana menangis sambil menggoyangkan - goyangkan tubuh Josep. Hatinya belum siap menerima keadaan, sangat belum siap kehilangan orang yang amat ia sayangi, belum siap kehilangan cinta pertamanya.


Lama Hana mencoba membangunkan ayahnya, akhirnya berhasil, Josep tersadar.


"Ayah.....!". Hana memeluk Josep.


Josep tak membalas pelukan putrinya, kedua lengannya patah akibat terbentur batuan karang.


Hana yang merasa tidak dibalas pelukan oleh Josep, melepaskan pelukannya, menyadari suatu hal, dimana bundanya.

__ADS_1


"H a a n a a! ". ucap Josep terbata - bata.


"Ce e pa at ca a rii bund da dddan pa pa paman Se se bas bas tian!". Josep merasakan sakit disekujur tubuhnya. Ingin sekali ia memeluk Hana dan mencari keberadaan jasad istrinya. Tapi tubuhnya tak bisa digerakkan, Josep menangis dalam hatinya.


"Tapi bagaimana dengan ayah?". Hana memandang ayahnya cemas.


Josep mengangguk, seakan memberi tahu pada putrinya bahwa ia baik baik saja.


Setelah yakin bahwa Josep baik baik saja, Hana mulai bangkit mencari keberadaan Hastary dan Sebastian.


"Bundaaa, paman Sebastian...., Bunda...." Hana berteriak, berharap suaranya dapat terdengar oleh Hastary dan Sebastian.


Josep yang mendengar teriakan Hana hanya bisa menangis, Ia seperti seorang ayah yang tidak berguna saat itu.


Akhirnya Hana menemukan Sebastian dibalik baru karang. Mencoba mengecek denyut nadinya, namun nihil, Sebastian sudah pergi. Hana menahan tangisnya. Hana menata kedua tangan Sebastian keatas dada.


"Hana akan jadi wanita yang kuat paman, akan menjadi anak yang baik, semoga amal baik paman diterima disisiNya aamiin".


Selesai mendoakan Sebastian, Hana berlari menuju Josep, hendak memberi tahu kondisi Sebastian pada ayahnya. Namun belum sampai pada posisi Josep, Hana sudah dikejutkan dengan beberapa orang yang sudah berkerumun mengelilingi tubuh ayahnya.


"Ayah..., ada apa ini?". Hana berlari menghampiri.


Betapa terkejutnya Hana, melihat wajah ayahnya sudah berubah sangat pucat. Baru sebentar ia tinggal, wajah ayahnya sudah sangat pucat, sebagian tubuh Josep sudah kaku.


Hana menangis, ia tak ingin ketakutannya terjadi. Hana menggenggam tangan Josep, memandang penuh cemas.


"Ha na, Bunda Hana....". Josep berusaha menjelaskan pada Hana.


"Bunda...,bunda sudah tiada Hana...!" Sulit Josep menjelaskan pada Hana, tapi entah mengapa ia terasa lega sudah memberi tahu tentang kondisi Hastary yang Sebenarnya.


Hana hanya menangis, ia berusaha menerima kenyataan pahit ini, tapi ada ketakutan yang luar biasa, yang tak mau ia alami saat ini. Yaitu kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Hana semakin mengeratkan genggamannya.


"Haana, jadilah wanita yang baik, jadilah wanita yang tangguh dan kuat, jadilah wanita yang berani dalam segala hal". Ucap Josep, ia merasa waktunya sudah tak lama lagi, namun ada sesuatu yang harus ia jelaskan pada putrinya.


Hana mulai mengerti arah pembicaraan ayahnya itu menangis semakin kencang.


"Hana..., hiduplah dengan baik, jadilah orang yang penuh manfaat untuk orang lain, jaga dirimu baik-baik, jangan menangis terus ya... , Ayah dan bunda selalu menyayangimu, teruslah menjadi perenang yang hebat, maafkan ayah, ayah tidak bisa menjaga Hana sampai tua, ayah harus pergi Hana, Ayah mencintaimu....!."


...***bersambung***...


**Hayooo siapa yang baru bawang disini? 😢😭😭😭


Jangan lupa vote dan likenyaaa 😭


Mak thor mau takziah dulu yaaa, siapa mau ikut**.....

__ADS_1


__ADS_2