DENDAM SUAMIKU PADAKU

DENDAM SUAMIKU PADAKU
BUDI & KAMTO!!!


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak dirinya tahu bahwa Fans sudah tiada, Hana masih saja terus menangisinya. Jiwanya diselimuti rasa bersalah yang amat mendalam, dan sejak saat itu juga ia tidak memperhatikan kesehatannya, selama dikurung Hana tidak sekalipun memasukkan makanan kedalam tubuhnya, hanya minum air sesekali saja. Hal itu membuat bobot tubuhnya sedikit berkurang.


“kenapa badanku lemas sekali, kepalaku juga sedikit pusing, aku tidur lagi saja lah”. Hana berdialog pada dirinya sendiri setelah sholat subuh karna merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya. Hanapun merebahkan tubuhnya dikasur dan langsung terlelap.


Ceklek


Pintu kamar Hana terbuka, seorang pria berbadan kekar masuk kedalam kamar Hana mengantarkan sarapan untuk Hana. Setelah meletakkan nampan berisikan sarapan Hana diatas meja, pandangannya tertuju pada tubuh Hana yang terbaring diatas kasur dengan selimut yang tak sempurna menutupi tubuh Hana hingga menampakkan kaki mulus Hana.


Pria yang biasa dipanggil Budi itu menelan salavinanya, “mulus juga ni cewe, kayaknya en*k nih!!!”.


“susstt susstttt, ngapain loe”. Bisik seorang ditelinga Budi.


“any*ng ngagetin aja loe, noh ada yang mulus”. Budi menunjuk kearah Hana


“wah mantab bro, tapi nunggu si Bos cabut dulu ye, kan Cuma kita berdua yang jaga didalam, jadi aman”. Teman Budi mengacungkan jari jempolnya


“cerdas!!!, yaudah yuk cabut dulu!”. Setelah sedikit berunding akhirnya Budi dan temannya itu keluar dari kamar Hana.


Sayang seribu sayang, percakapan Budi dan temannya itu tak terdengar oleh Pasha, karna Pasha sedang fokus menyetir mengantarkan tuan mudanya beserta nonya besar ke bandara.


“sial, perasaan apa ini, kenapa jadi ga enak begini sih?!”. Pasha mengelus dadanya, menghembuskan nafas secara kasar, hingga tanpa sadar terdengar oleh tuan mudanya.


“Pasha, ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Hans penasaran


“hmm tuan tidak papa, sepertinya saya lupa mencabut kabel charge laptop saya”. Pasha menggaruk tengguknya yang tidak gatal, mencari alasan agar Hans tidak curiga

__ADS_1


“kau ini, ku kira apa saja, lain kali jangan lupa, aku tahu dalam beberapa hari ini kau sangat sibuk membereskan kekacauan ini semua, tapi jangan sampai membahayakan dirimu atau orang lain!” Hans menasehati.


“Hans… Berilah libur pada Pasha, dia sudah banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus ini itu, kasian Pasha kan, dia juga butuh istirahat.” Emilda memberi saran.


“hmm tidak perlu nyonya, masih ada banyak urusan yang harus saya selesaikan”. Pasha merasa tidak enak dengan saran nyonya besarnya, bagaimanapun ini semua termasuk tanggung jawabnya sebagai tangan kanan sekaligus asisten pribadi tuan Hans.


“oiya Pasha, kau tidak perlu mengantarkan kami sampai dalam, cukup sampai lobi utama saja, ini perintah! Tidak bisa ditolak dan harus dilakukan!” jelas Hans menekankan.


“Tapi tuan…..”


“ehem…” Hans menekankan sekali lagi, jika sudah begitu Pasha tidak bisa menolak kemauan Hans.


“baik tuan terima kasih”


Tak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai Pasha sudah tiba di lobi utama Bandara, setelah merasa semuanya aman, Pasha pun mohon pamit pada Hans dan Emilda untuk segera kembali ke apartemennya. Pasha langsung melajukan mobilnya menuju rumah tua tempat Hana dikurung, ada perasaan tidak enak yang Pasha rasakan terhadap Hana.


Ciittttttttttttttttttt


Pasha meminggirkan mobilnya secara mendadak ketika ia mendengar suara dua laki laki yang sedang berbisik mengendap endap masuk kekamar Hana, seperti sedang merencanakan sesuatu. Tanpa basa basi Pasha langsung meraih ponsel lainnya dan menghubungi Bayu.


“Sial!!!, kenapa ga diangkat!!” Pasha geram


Tangan Pasha mengepal, ketika telingan mendengar pintu kamar mandi Hana terbuka dan terdengar jeritan Hana. Tanpa piker panjang Pasha langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“mau apa kalian, jangan…. Tolong jangan………. Aaaaaaaa”. Suara Hana, teriakan Hana, Tangis Hana, semua terdengar jelas ditelinga Pasha.

__ADS_1


Pasha melepaskan earphonenya dengan kasar, pikirannya kacau, ia hanya ingin segera sampai ke rumah tua itu dan segera menolong Hana. Sepanjang perjalanan, Pasha terus berdoa agar apa yang ia khawatirkan tidak terjadi.


“ Hana bertahanlah!!!


...***...


Hana terjaga saat jarum jam mengarah ke angka sepuluh, ia merasa tubuhnya sangat gerah, suhu tubuhnya juga sedikit panas, dengan sedikit tenaga Hana bangun dari ranjang dan menuju kamar mandi, pikirnya gerah dan panas ditubuhnya akan hilang jika ia mandi. Tapi hari itu keberuntungan tak berpihak kebada Hana. Ya Hana lupa membawa baju ganti, sedangkan baju yang baru saja ia kenakan jatuh dan basah. Dengan sangat terpaksa Hana keluar kamar mandi hanya dengan berbalut handuk, namun begitu terkejutnya Hana saat membuka kamar mandi sudah ada dua orang pria bertubuh kekar seperti sedang menunggunya.


“aaaaa, mau apa kalian?” Hana terkejut dan hendak kembali kembali kekamar mandi, namun belum sempat tubuhnya berbalik, lengan Hana sudah ditarik oleh Budi, tubuhnya terkunci oleh lengan kekar milik Budi, Hana mencoba berteriak, memberontak, namun seketika Budi membekap mulutnya dengan satu tangannya lagi.


“Gila, mulus banget Bud, pinter juga loe”. Kamto,teman Budi mendekat hendak mengelus pundak mulus Hana.


Bughhh!!! Awwwwww!


Hana menendang pangkal paha Kamto, Budipun terkejut membuat pegangannya kendor, Hanapun mengambil kesempatan dan langsung berlari menuju tas pakaiannya yang terletak diatas kasur. Hana berusaha mengambil baju, namun rambutnya ditarik oleh Kamto yang tak terima atas tendangan Hana padanya.


“eh jal*ng, kurang *jar yang lu, ni rasain!”


Plaakkkkk


Sedikit darah keluar dari sudut bibir Hana setelah mendapat tamparan keras dari Kamto, tubuhnya tersungkur kelantai, perih di pipinya tak dirasakannya, karna kedua tangannya berusaha memegang Handuk yang menutupi tubuhnya. Hana berusaha bangkit, namun Budi langsung mendorongnya hingga kembali tersungkur.


“ampun tuan, tolong jangan….,jangan….”. Hana memohon dalam isaknya, tubuhnya bergetar hebat, dalam tangisnya Hana terus memohon, berusaha memberontak, namun yang ia dapat hanya tamparan dan pukulan dari Budi dan Kamto.


“Udah langsung aja Bud, lu duluan, gue pegangin tangannya!” Kamto mendesak tak sabar

__ADS_1


Dengan cepat Kamto mengunci tangan dan mulut Hana, Hana kehabisan tenaga, hanya tangisnya yang makin kencang, ia pasrah, Budi sudah menghimpitnya.


__ADS_2