
Hana sayup sayup mendengar seseorang didekatnya, perlahan kedua matanya terbuka, melihat atap yang berbeda dari rumah yang sebelumnya. Berusaha mengumpulkan kesadarannya, namun kepalanya masih berdenyut, Hana sedikit meringis kesakitan.
“Nona sudah sadar? Nona…” Tanya seorang dari sisi kirinya
Hana berusaha menoleh, namun kepalanya masih saja berdenyut dan memilih kembali memejamkan mata nya sebentar.
Suster Ana lega, akhirnya Hana sadarkan diri, meski belum sepenuhnya sadar, namun dirinya yakin Hana sudah bisa diajak komunikasi, tanpa ba bi bu, Suster Ana langsung memberi kabar kepada Pasha.
Dalam diamnya, Hana mendengar apa yang Suster Ana bicarakan dalam telfonnya, otaknya kembali memutar kejadian mengerikan beberapa saat yang lalu, Hana berusaha untuk bangun dari tidurnya, namun tubuhnya menolak untuk bergerak, lemas dan ngilu terasa disekujur tubuhnya.
Melihat Hana berusaha untuk bangun, Suster Ana langsung menyimpan ponselnya dan menghampiri Hana lagi
“nona, berbaringlah dulu, kondisi anda masih sangat lemah, jangan khawatir, saya suster yang akan merawat anda, anda bisa meminta apapun jika ada yang dibutuhkan!”
Suster Ana menjelaskan pada Hana, ia melihat ada kekhawatiran pada wajah Hana saat dirinya menelfon Pasha.
“anda aman bersama saya nona, berbaringlah, sebentar saya ambilkan minum”
Hana terpaksa menuruti arahan dari suster Ana, diminumnya air dari Suster Ana, sedikit memberi ketenangan dalam dirinya. Meski sebenarnya ia ingin bertanya dimanakah dirinya berada, apa yang terjadi, namun tenaganya masih belum mampu untuk menuruti perintah fikirannya.
Suster Ana kembali memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah Hana, dan semua haslinya masih belum normal, Suster Ana juga menyuntikkan obat yang sudah diresepkan dr. Vigo diselang infus Hana.
Ditengah keheningan, terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki seseorang mendekat Kearah kamar, hal tersebut membuat Hana merinding cemas.
“Bagaimana keadaanya?” Pasha bertanya langsung setibanya didalam kamar, kepalanya menoleh memandang Hana sepintas.
__ADS_1
“sudah lebih baik tuan, tapi belum sepenuhnya stabil, dr. Vigo memberi tahu saya bahwa nona harus menghabiskan 2 kotak infus juga makan makanan yang bergizi.” Suster Ana menjelaskan
“Baiklah, ini saya bawa makanan, tolong siapkan dan pilih mana yang baik untu nona Hana dan tidak, ada juga makanan buat kamu”. Pasha berbicara dengan langkah kaki mendekat kearah ranjang.
Suster Ana mengangguk paham dan langsung menyiapkan makanan untuk Hana. Sementara itu, Hana tertunduk, kedua tangannya ditautkan guna menutupi kecemasannya. Jantungnya berdegup lebih kencang ketika Pasha duduk ditepi ranjang.
Tiba-tiba tangan Pasha menjulur kearah Hana, hendak memeriksa suhu tubuh Hana, namun Hana memalingkan wajahnya. Pasha tertegun, merasa bahwa kehadirannya membuat Hana tidak nyaman, Pasha berdiri dan mundur beberapa langkah dari ranjang.
“tidak perlu cemas, anda aman disini nona, beristirahatlah dan tolong, makan makanan yang sudah disiapkan suster Ana. Saya tahu bahwa anda tidak pernah makan saat dirumah tua itu, jadi tolong jangan membuat masalah baru. Selamat istirahat!”. Ujar Pasha dengan niat memberi tahu Hana bahwa dirinya aman.
“Tuan…” Hana membuka mulut, membuat langkah kaki Pasha terhenti diambang pintu kamar.
“Terima kasih…” Ucap Hana menggangtung lagi
“untuk..?” Pasha bertanya balik tanpa menoleh kearah Hana
“hmm oke”. Pasha menjawab singkat dan langsung meninggalkan Hana.
Hana menghembuskan nafas panjang selepas Pasha pergi,
“semoga aku aman disini, atau aku….” Belum selesai Hana berdialog dengan dirinya, Suster Ana datang dengan nampan berisikan banyak makanan lezat.
Hana menelan slavinanya, entah bagaimana keadaan lambung Hana karna sudah beberapa hari tak diberi makan.
Suster Ana mengambil satu suapan untuk Hana, namun Hana masih kekeh dengan pendiriannya bahwa dia tidak mau makan makanan dari siapapun saat dirinya ditahan.
__ADS_1
Suster Ana berusaha membujuk Hana, namun hasilnya nihil. Hana malah memilih untuk berbaring miring memunggungi suster Ana. Suster Ana yang kebingungan memilih untuk menemui Pasha diruang tengah.
Pasha berjalan cepat menuju kamar Hana, dirinya tak habis fikir dengan Hana yang masih saja tidak mau makan saat kondisinya lemah seperti ini. Pasha sedikit terkejut saat dirinya tidak melihat Hana diatas ranjang.
“dimana dia?”.
Ceklek…..
Suara pintu kamar mandi terbuka, Pasha menoleh kearah toilet, dan bernafas lega saat melihat Hana keluar dari kamar mandi.
Baru beberapa melangkah, Hana hendak terjatuh karna lemas ditubuhnya, Hana terlalu memaksakan diri, untung dengan cepat Pasha datang dan langsung menahan tubuh Hana.
“Kenapa tidak meminta tolong kalau memang tubuh anda masih lemas?” Pasha sedikit kesal.
Pasha membantu Hana menuju kasur, memapahnya pelan penuh kelembutan, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika kedua matanya beradu dengan mata Hana. Pasha langsung memalingkan muka dan perlahan mendudukkan Hana diatas kasur.
“Saya membeli makanan ini dari restaurant bintang 5, sudah dipastikan kebersihannya juga kelezatannya, tidak mungkin ada bahan berbahaya didalamnya”. Pasha menyodorkan piring
Hana masih diam, tertunduk lesu tak ada respon, Pasha yang kesal dengan respon Hana langsung duduk dihadapan Hana, dan langsung menyodorkan sendok kemulut Hana.
“Apa anda ingin terus merepotkan saya nona Hana Farasya?, atau anda ingin terus memakai selang infus ditangan anda?” Pasha berusaha berkompromi dengan Hana
“tidak tidak, aku ingin pulih secepatnya, aku tidak boleh sakit, lagian banyak hal yang aku ingin tanyakan” . Hana menjawab dalam hatinya.
Hana mengangkat kepalanya dan membuka mulutnya, matanya tak sengaja menatap kedua mata Pasha, membuatnya tidak nyaman dan kembali menundukan wajah setelah berhasil melahap satu suapan dari Pasha.
__ADS_1
Belum juga mereda, jantung Pasha kembali berdegup kencang ketika matanya kembali bertemu dengan kedua mata Hana.
“sial, ada apa dengan jantungku!!!!” Pasha bertanya pada dirinya sendiri.