
"huft... sepertinya aku harus diet, badanku mudah lelah sekarang!". Hana meregangkan tangan dan pinggangnya pegal.
"Aku kan sudah bilang, diet Na, masih aja ngeyel!". Celetuk Fans dari balik tubuh Hana.
"Iya Iyaaa, kali ini kamu benar tuan muda...!". Hana tersenyum manis kearah Fans.
"Kita, jadi ke makam orang tuamu kan?".
"sepertinya tidak, aku masih banyak kerjaan yang belum selesai, acaranya sebentar lagi!". Hana membereskan beberapa berkas diatas meja kerjanya.
Fans hanya tersenyum, seperti sudah mengetahui sesuatu akan terjadi sebentar lagi. Tiba-tiba ponsel Hana berdering. Hana langsung menjawabnya
"Halo, iya pak ada apa?".
"Kamu dapat jatah libur 2 hari Hana, kerjamu sangat bagus, kamu boleh libur, itung-itung mencharge energimu sebelum hari H, Okey!".
Suara disebrang sana tak lain ialah suara milik Manager Produksi Hana, Bapak Rama.
"Baik pak terimakasih!". Hana menutup telfon dan langsung melirik tajam kearah Fans.
"Ini pasti ulahmu kan Fans!". Batin Hana kesal sambil menghembuskan nafas secara kasar.
Karna merasa sedang diumpat dalam hati, Fans berusaha seperti tidak tahu apa yang terjadi. Ia mengalihkan Hana dengan fokus bermain ponselnya.
Hana semakin kesal melihat reaksi Fans seperti tidak tahu salah. "Dasar tuan muda, Yayaya, aku tahu kau ini pemilik ini semua, mmm baiklah akan aku turuti apa maumu, lagipula lumayan aku bisa istirahat". Hana masih terus menatap Fans dengan tatapan membunuh.
"Baiklah tuan muda ReyFans, kita akan berangkat besok pagi, jemput aku selepas subuh Okey, aku pergi dulu!". Jelas Hana menyerah pada Fans.
"Hmmm sudah kubilang, jangan panggil aku dengan sebutan itu Hana!". Fans menatap Hana tidak suka.
"Hahaha, Sorry Fans, Okey baiklah sampai bertemu besok, bye!". Hana melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Fans.
"eh mau kemana? Hanaaaa!". Fans sedikit berteriak, dia yakin Hana mendengar suaranya, tapi gadis itu memilih untuk tetap melangkah lebih jauh lagi.
"Hana Farasya... aku memang tidak salah memilihmu".
...***...
Keesokan harinya, Hana dan Fans sudah berada dalam satu mobil menuju makam kedua orangtua Hana. karna lokasi makam jauh, Hana memilih untuk berangkat lebih pagi.
Sepanjang perjalanan, Hana hanya diam, Matanya terus menatap ke luar jendela.
Hal tersebut membuat Fans khawatir, bingung dan bertanya-tanta dalam fikirnya.
"Na...., kita sarapan dulu ya di rest area". Fans mencoba mencarikan suasana, sembari mengkode Hana, bahwa cacing diperutnya sudah berdemo meminta haknya.
__ADS_1
Hana tak bergeming, entah apa yang sedang difikirannya, sampai-sampai ia tidak mendengar ucapan Fans. "Hana...!". Fans menyenggol lengan Hana untuk menyadarkannya.
"eh iya Fans, apa aku melamun?". Hana tersadar dari gilirannya sendiri.
"Kita sarapan dulu ya, di rest area. are you okey Na? dari tadi berangkat sampai sekarang, kurang lebih hampir dua jam kamu diam, apa ada masalah?". Tanya Fans beruntun karna khawatir.
Hana menggelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan Fans yang beruntun itu. "i'm fine Fans, aku terlalu senang bisa berkunjung ke makam orangtuaku Fans, sudah lama aku tidak berkunjung karna banyaknya kerjaan". Jawab Hana meyakinkan pada sahabatnya bahwa dirinya baik-baik saja.
Mendengar jawaban dari Hana, Fans menghembuskan nafas lega, ia tersenyum kepada Hana. "syukurlah Na, jangan seperti itu lagi, aku khawatir Na, okey". Tangan kiri Fans mengelus puncak kepala Hana, sambil sedikit mengacak rambut Hana.
"mmm iya Iyaa tuan mud, ehhh Iya fans. Lihat beberapa meter lagi ada rest area!". Hana mencoba menggoda Fans, seketika fokusnya berpaling ke papan informasi bahwa rest area asa dibeberapa meter lagi.
Hana merasa sangat beruntung bisa menjadi sahabat dari laki-laki baik seperti Fans. Meski bibit bebet bobot mereka berbeda, Fans tidak pernah mempermasalahkannya, meski terkadang ia harus kena tegur oleh Hans karna sikapnya itu.
Mereka telah menghabiskan sarapannya disalah satu restoran fast food di rest area. Sebelum melanjutkan perjalanan, Hana meminta izin pada Fans untuk membeli beberapa keperluan di mini market.
Hana kembali ke mobil dengan beberapa kantong plastik yang menggantung ditangannya. Fans yang melihat langsung membantu Hana memasukan belanjaan ke bagasi mobil.
"knapa ga bilang kalau butuh banyak barang Na?, aku kan bisa belikan tadi". Fans menutup pintu bagasi mobilnya.
"ini bukan untuk aku Fans, aku tidak mau merepotkanmu terus!". Hana menjelaskan sambil masuk kedalam mobil.
Fans menaikkan kedua alisnya, bertanya dalam diam pada Hana. "nanti kamu juga tahu Fans". Hana tersenyum dan mengenakan sabuk pengamannya.
Fans tak menanggapinya, baginya Hana adalah gadis sejuta misteri yang mengemaskan. Hana berbeda dengan banyak perempuan yang ia kenal, bahkan dengan Vita sekalipun. Wanita yang sempat membuatnya jatuh cinta itu sangat berbeda dengan sahabatnya Hana.
Setelah menempuh waktu empat jam lebih, Akhrinya Hana dan Fans sampai disebuah desa yang cukup plosok. Mobil Fans memasuki sebuah gapura yang terbuat dari besi dan tertutup oleh tumbuhan yang merambat.
Mobil Fans berhenti didepan sebuah rumah yang merupakan satu-satunya tempat tinggal didaerah itu. Desa itu seperti di kawasan hutan lindung. Banyak pepohonan cemara membuat suasana sangat sejuk.
Letak makan kedua orang tua Hana memang berada di dataran tinggi, tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas suasananya. Jika dilihat sekilas, tidak terlihat seperti kuburan. Namun jika diamati secara baik, terdapat tiga gundukan tanah dengan batu nisan diatasnya, Letaknya ada dibalik pohon cemara.
Fans terkagum saat turun dari mobil, matanya menyusuri tiap sudut tempat itu. Benar-benar indah, seperti kebun raya yang ada di kota Hujan. Tidak seperti pemakaman pada umumnya. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tidak asing.
Sebuah sedan Mercedez Bena berwarna hitam sedari tadi telah mengikutinya. "Sial, kenapa aku tidak sadar bahwa sedari tadi ada yang mengikuti ku sih!"
"Fans? ada apa?". Hana bertanya karna merasa ada yang tidak beres dengan laki-laki tampan dihadapannya ini.
"Hmm tidak apa Na, kamu duluan aja, nanti aku nyusul, aku ingin memastikan sesuatu". Jawab Fans sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Hana menganguk dan berpaling menuju pusara kedua orangtuanya. Sedangkan Fans, ia berlari kecil menuju lokasi dimana ia melihat mobil sedan hitam itu.
"itu pasti sekretaris, arkh sial!"
"Punten, ada yang bisa saya bantu mas?". Suara seorang mengejutkan Fans
__ADS_1
"Uaaaa, eh ga ada pak!"
"btw sejak kapan si bapak ada disini ya, kaget banget lagi". Hans mengusap dadanya karna jantungnya hampir saja copot.
"mas temannya non Hana ya?, maaf kalau saya membuat mas kaget". tanya pria tua itu, yang bernama Pras. Beliau adalah pemilik tanah tempat kedua orang tua Hana dimakamkan.
"ah tidak Pak, kenalkan saya Fans, teman Hana". Fans mengulurkan tangan pada Pras
"saya Pras mas Fans, baru kali ini non Hana berkunjung dengan temannya, mari... sepertinya non Hana mencari mas Fans". Ucap Pras memberi tahu Fans, bahwa Hana terlihat kebingungan mencari keberadaan Fans.
Menyadari hal itu, Fans berteriak pada Hana memberi tahu bahwa dirinya sedang bersama Pak Pras, dan meminta Hana menunggunya.
Pras sangat senang dengan kehadiran Fans saat itu, ia bercerita pada Fans tentang Hana, bahwa setiap sebulan sekali Hana selalu berkunjung, tapi sudah hampir tiga bulan Hana tidak datang berkunjung. Dan Fans sudah tahu alasan mengapa Hana tidak berkunjung selama itu.
Pras juga bercerita, bahwa setiap Hana berkunjung, Hana selalu membawakan oleh-oleh yang banyak, kadang berupa sepaket sembako, parcel buah, kadang berbagai macam makanan Hana bawa untuk Pras.
Kekaguman Fans terhadap Hana semakin bertambah, ketika Pras mulai bercerita awal mula bertemu dengan Hana sampai makam kedua orang tua Hana ada disini.
Pras bercerita, beberapa tahun yang lalu, tepat saat Hana berusia 6 tahun, Pras bertemu dengan Hana disebuah rumah sakit. Pras yang baru saja kehilangan keluarganya karna bencana banjir di ibukota, melihat Hana duduk meringkuk menangis didepan kamar Jenazah.
Pras yang tak tega, menghampiri Hana dan bertanya keadaan Hana. Saat Pras menanyakan kondisi Hana, gadis kecil itu tersenyum manis, tangisnya hilang seketika. Hana langsung memeluk Pras dan hendak meminta tolong.
Hana meminta tolong pada Pras untuk menjual kalung liontin bertahta berlian itu untuk mencarikan tempat tinggal dan tempat untuk pemakaman kedua orang tuanya.
Pras tahu betul bahwa kalung itu bernilai fantastis, namun menjualnya tanpa adanya sertifikat tentu tidaklah mudah. Setelah mencoba menawarkan ke beberapa orang, tidak ada satupun yang mau membelinya.
Hingga Akhirnya Pras memiliki ide untuk menguburkan jasad kedua orang tua Hana di pekarangan kebunnya, Hanapun menyetujui nya.
Fans fokus mendengarkan, dalam benaknya ada sedikit kekesalan kepada Hana, mengapa Hana tidak pernah sedikitpun bercerita kepadanya tentang masa lalunya. Hana hanya bercerita bahwa dia adalah anak yatim piatu sejak kecil.
"Hmmm nona Hana memang gadis yang kuat mas Fans, saya tahu betul itu!". Ujar Pras selesai bercerita, ada kelegaan dalam hatinya karna dapat berbagi cerita soal Hana.
Karna selama ini hanya dirinya, Hana dan bu Aisyah selaku ibu panti Hana saja yang tahu soal itu semua.
"Anda betul pak Pras, Hana memang beda dari perempuan lain seumurannya." Senyum Fans mengisyaratkan rasa terimakasih pada Pras karna telah bercerita padanya soal sedikit masa lalu Hana.
"Fans...., kemarilahh.....!". Teriakan Hana mengakhiri obrolan dua pria beda generasi itu.
...***BERSAMBUNG***...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAAA
**DITUNGGU VOTE DAN LIKE NYAA...
NEXT AKAN ADA KEJADIAN YANG AKAN MERUBAH KEHIDUPAN HANA 180°
__ADS_1
STAY TUNE YAAA ❤**