DENDAM SUAMIKU PADAKU

DENDAM SUAMIKU PADAKU
3 Rencana dan Keputusan yang Berbeda


__ADS_3

Bugh bugh bugh


Terdengar pukulan bertubi tubi kearah samsak (karung tinju) dari sebuah ruangan disalah satu rumah mewah di Holland Village Singapura.


Seorang pria tampan terlihat sedang mengeluarkan seluruh emosinya melalui tinjuan kearah samsak yang digantung dipojok ruangan.


“aarghhhhhhhhh, Bughhhhhh!!!!”. Triakan keras diikuti pukulan terkahir Hans menggema keseluruh ruangan.


“kau akan membayar apa yang sudah kau perbuat ******!”. Ucap Hans dengan nafas terengah.


Hans mengambil tumbler minumnya, menegak isi didalamnya sampai habis, berjalan keluar menuju balkon. Menatap kosong kedepan, fikirannya kacau penuh dengan emosi.


Dirinya terdiam beberapa saat, tenggelam dalam amarah dan lamunanya, hingga tak sadar bahwa Emilda datang menghampirinya.


“Hans…” Panggil Emilda lembut


“ada apa ma?” menghembuskan nafas kasar dan menjawab dengan berat


“mama rasa sudah saat nya kita berfikir kedepan, membahas soal keinginan adikmu Hans..”


Hans membalikkan tubuhnya kasar,


”ma, please don’t tell me about that!!”, melangkah masuk kedalam


“tapi Hans, itulah keinginan Fans yang terakhir…” Emilda meyakinkan putranya


Hans menggelengkan kepalanya “Ma, tanah kubur Fans masih basah, belum seminggu Fans pergi!” Hans berkata dengan nada sedikit tinggi


“Justru sebelum tanah kubur Fans kering, mama ingin sekali mengabulkan keinginan Fans”. Emilda menatap Hans penuh keyakinan


“itu bukan keinginan Fans ma, itu ide gilanya yang entah dari mana asalnya, pokoknya aku ga mau!!!”. Hans melangkah keluar, meninggalkan Emilda sendiri.


Amarahnya makin memuncak, setelah perdebatan tadi, Hans memilih untuk segera mandi, mengguyur tubuhnya yang lengket sehabis berolahraga.


Emilda terduduk sedih diaatas sofa, sebenarnya ia tidak mau memaksa Hans dengan keinginan Fans, namun informasi mengenai Hana yang ia dapatkan dari salah satu informannya membuatnya memilih untuk mengabulkan keinginan Fans.


Insting nya mengatakan bahwa keinginan Fans untuk menjodohkan Hans dengan Hana adalah keputusan yang sangat baik.


“aku harus bisa membujuk Hans, bagaimanapun caranya, aku harus bisa”. Emilda meyakinkan dirinya lebih keras.


Setelah perdebatan ibu dan anak pagi tadi, keduanya tak bertegur sapa sampai malam hari, Hans memilih mengurung diri didalam kamar dengan menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Hans sedikit terkejut dengan keputusan Pasha memindahkan Hana ke apartemen, tapi setelah ia fikir dengan matang, keputusan Pasha ada baiknya, tidak aka nada yang tahu bahwa dirinya menahan seorang wanita di apartement miliknya.


Tiba saatnya makan malam, tanpa diketahui Hans, Meira datang untuk dinner bersama. Emilda sudah sibuk mempersiapkan makan malam sejak siang, memasak makanan kesukaan Hans juga Meira. Meira juga membantu menata piring juga peralatan makan lainnya diatas meja makan.


“Meira, tolong ajak Hans makan ya, dia ada dikamarnya”


Emilda tersenyum kearah Meira


Meira mengiyakan permintaan Emilda dan langsung memanggil Hans dikamarnya.


“Meira…..”. Hans terkejut meilhat Meira didepan pintu kamarnya.


Tanpa ba bi bu, Hans langsung memeluk Meira, menumpahkan kerinduannya pada wanita yang sudah lama ia sukai itu.


“Hans, lepas…. Aku tidak bisa bernafas”. Meira memukul punggung Hans


Hans melepaskan pelukannya, tersenyum bahagia, dan langsung menggandeng tangan Meira menuju meja makan. Kedatangan Meira mampu melupakan amarahnya sejak tadi, Hans senang bukan main.


Mata Emilda tertuju pada tangan Hans yang menggandeng erat tangan Meira, ada sedikit rasa tidak suka dalam lubuk hatinya, namun segera ia tepis dengan senyuman dan ajakan kepada dua pemuda itu untuk segera makan.

__ADS_1


“ma, kenapa ga bilang kalau Meira datang?” Hans bertanya ditengah makannya


“salah siapa ngurung diri dikamar”. Jawab Emilda sedikit mengejek


“kamu tu Hans, kebiasaan kalau lagi ngambek pasti ngurung diri, ga baik ih, kasian tante kan sendirian nyiapin ini semua sendirian”. Ujar Meira


“oke oke, aku yang salah”. Hans mengalah


Makan malam berjalan dengan canda tawa ketiganya, tak ada pembahasan mengenai Fans maupun Hana, ketiganya makan dengan lahap dan nikmat, Ya memang masakan Emilda adalah yang tebaik.


.........


Selepas makan makan, Hans dan Meira mengambil alih untuk membereskan meja makan juga mencuci piring, sedangkan Emilda menyiapkan dessert untuk teman ngobrol mereka, ya strawberry shortcake yang menjadi satu satunya dessert kesukaan Hans.


Ditengah keseruan Hans dan Meira mencuci piring, tiba tiba ponsel Hans bordering,


“Sebentar aku angkat telfon dulu ya”. Hans merogoh sakunya dan pergi menjauh dari Meira


Telfon tersebut tak lain telfon dari Pasha.


Dari Meja makan, Emilda melihat kesempatan untuk berbicara dengan Meira, dirinya berniat meminta bantuan Meira untuk membujuk Hans menuruti kemauannya menjodohkan Hans dengan Hana.


Emilda langsung menghampiri Meira selepas Hans pergi mengangkat telfon.


“Meira, tante mau minta tolong bisa?” Tanya Emilda langsung to the point


“eh tante, iyaa boleh dong, apa sih yang engga buat tante…”. Meira mengelap tangannya yang basah lalu menatap Emilda


Emilda memegang tangan Meira, mengusapnya dengan lembut, “Meira tahu kan, Fans ingin sekali menjodohkan Hans dengan Hana…”


Meira mengangguk tersenyum


“Tante sudah berusaha membujuk Hans, tapi hasilnya Hans selalu marah sama tante, ngambek ngurung diri, dan selalu menolak membahas hal itu, jadi tante minta tolong sama Meira, tolong bujuk Hans, tante punya alasan yang belum bisa tante jelaskan ke Meira knapa tante bersih keras ingin mengabulkan keinginan Fans.”. Jelas Emilda penuh ketulusan


“Meira juga dengar dari almarhum Fans, kalau Hana itu perempuan yang baik, dan dia ingin sekali menjadikan Hana istri Hans, awalnya Meira juga bingung sama Fans tante, tapi setelah aku cari tahu soal Hana, bersih, riwayat hidupnya bersih dan dia perempuan cerdas”. Jawab Meira berusaha menyenangkan hati Emilda


Emilda tersenyum bahagia mendengar jawaban Meira yang setuju dengan rencananya, menarik Meira kedalam pelukannya


“terima kasih Meira, terima kasih banyak, tolong tante ya”.


Emilda sedikit terharu, matanya berkaca kaca, karna dirinya yakin jika meminta tolong pada Meira akan berhasil.


Pelukan keduanya terlepas saat mendengar langkah kaki Hans mendekat, Emilda langsung mengambil nampan berisikan potongan kue dan mengajak Meira keruang tv, dan Hans tanpa sepatah kata pun menyusul dibelakangnya.


Ketiganya kembali dalam suasana canda tawa sambil menikmati dessert juga menonton tv, Emilda memberi isyarat kepada Meira untuk mencoba berbicara dengan Hans.


“hmmm Meira, Hans, mama ke kamar dulu ya, ada beberapa email yang belum mama baca, biasalah urusan yayasan, kalian lanjut aja dulu ya…” Emilda mencari alasan untuk meninggalkan Hans dan Meira


“ah iyaa tante, jangan cape cape ya”. Ucap Meira


“oke ma, bener kata Meira, jangan kecapean” Hans menimpali


Emilda mengangguk lantas pergi meninggalkan Meira dan Hans diruang tv.


Kini Hans dan Meira berada disalah satu café tak jauh dari kediaman Hans, Meira sengaja mengajak Hans untuk mengobrol berdua diluar rumah agar suasa lebih santai. Keduanya duduk di areo outdor café dengan dua gelas Americano yang dipesannya.


Meira menelan slavinanya dan memberanikan diri memulai perbincangan


“hmm… Hans, bisa aku bicara?”. Meira menatap Hans


“Ya tentu, ada apa?” Hans meletakan ponselnya diatas meja

__ADS_1


“hmm… kamu pasti mau kan kalau tante Emilda bahagia?” Meira meraih tangan Hans


“Pasti Mei, wait.. kok tiba tiba banget nanya serius kayak gini?” Hans menarik tangannya dan menatap tajam kearah Meira, merasa heran dengan pertanyaan Meira.


Meira menelan slavinanya lagi, terdiam sebentar berfikir bagaimana kalimat yang pas untuk melanjutkan obrolannya.


“Hans, aku tahu aku tidak ada hak untuk menyuruh mu melakukan hal ini, tapi aku rasa kamu perlu mencobanya, lakukan saja ini demi tante Emilda Hans”. Meira menahan nafasnya


Hans menarik diri dari meja, menegakkan badannya, menoleh sebentar ke samping lalu menghembuskan nafas berat, dirinya menduga bahwa arah obrolan Meira kali ini mengarah ke perjodohan gila itu.


“aku tahu Mei, kamu sedang membujukku untuk melakukan perjodohan gila itu bukan, Mei… aku kira kamu yang paling tahu soal aku, kamu mau berpihak padaku, tapi…”. Ucapan Hans tergantung, merasa sedikit kecewa dengan Meira


“wait, kamu bilang aku perlu mencobanya?, hahhh…., Mei, ini soal perasaan, bukan untuk mainan atau coba coba, kamu tahu itu!”. Hans melanjutkan


“aku tahu Hans, aku sudah mencari tahu siapa Hana, dan dia perempuan baik, pintar, ini demi almarhum Fans, juga tante Emilda Hans!”. Meira meyakinkan


“why… kenapa harus dia, kanapa bukan kamu Mei?, aku Cuma mau kamu Mei!”. Hans memberi penekanan pada ucapan terakhirnya


Meira terkejut dengan ucapan Hans, dirinya tahu bahwa Hans menyimpan perasaan untuknya, namun Meira tidak, Meira memang memiliki perasaan pada laki laki dihadapannya ini, namun sebatas sahabat, Meira hanya mencintai seorang pria, namun pria tersebut sudah pergi.


“Hans, aku tahu perasaanmu padaku, tapi maaf….”.


Ucapan Meira menggantung, tak melanjutkan kalimat yang sudah ia susun dikepala, karna dirinya tak ingin menyakiti sahabat kesayangannya itu.


Hans terkejut mendengarnya, kepalanya tertunduk, dadanya terasak sesak bak di pukul palu besar. Hans berdiri, hendak meninggalkan Meira, namun Meira menarik tangannya.


“Hans, bukankah kamu ingin membalas dendammu pada Hana?, akan lebih mudah jika kamu menikahinya, kamu akan sangat bebas membalaskan dendammu padanya.”


Entah iblis mana yang merasuki pikiran Meira, semuanya terucap begitu saja.


Hans kembali duduk, berfikir bahwa apa yang diucapkan Meira ada benarnya. Hans menatap Meira tajam.


“akan kupikirkan saranmu Mei, ayo kita pulang, sudah larut malam”. Hans bangkit dari duduknya


Diperjalanan pulang, keduanya diam tak ada obrolan sedikitpun, Meira sibuk dengan fikirannya sendiri, sedangkan Hans terus memutar ucapan Meira dikepalanya.


Meira juga tidak ikut kembali ke kediaman Hans, dirinya memilih untuk pulang ke apartemennya. Dan keduanya pulang kekediaman masing masing dengan fikirannya masing-masing


Keesokan hari


,


Hans melakukan olahraga seperti biasa, sedangkan Emilda menyiapkan sarapan untuk dirinya juga Hans.


Emilda memilih untuk tidak menggunakan asisten rumah tangga selama di Singapura, alasannya tak lain karna dirinya dan Hans tidak menetap lama di Singapur, dan almarhum Fans juga sangat tidak suka jika kediaman mereka di Singapur dimasuki orang asing.


Hans menyudahi olahraga paginya, langsung masuk kamar untuk mandi, olahraga pagi ini tidak seperti biasa, kepala Hans terus berfikir tentang ucapan Meira semalam, bahkan semalam pun Hans hanya bisa memejamkan mata selama satu jam saja karna memikirkannya.


“sepertinya aku harus mencobanya, menikahinya itu demi kebahagiaan mama juga Fans sekaligus menguntungkan buatku, aku bisa balas dendam kapanpun!”.


Hans berdialog pada dirinya dibawah guyuran shower, membuat keputusan yang sebenarnya sangat enggan untuk ia putuskan.


Hans dan Emilda duduk bersama diruang tv, kedunya sudah sarapan 30 menit yang lalu.


“ma, seminggu lagi kita pulang ke indo, dan aku akan menikahi perempuan itu, oke!”. Ucap Hans to the point


Emilda sangat terkejut mendengar ucapan Hans yang secara tiba-tiba memutuskan untuk menikahi Hana, dirinya merasa lega dan senang mendengarnya.


“Hans… are you serious?”. Emilda menatap putranya


“hmmm ya, mama senang mendengarnya?”.

__ADS_1


Hans menghampiri Emilda, mengecup kecil kening ibunya dan langsung pergi menuju ruang kerjanya.


Emilda masih terkejut, terdiam sebentar dan langsung masuk kedalam kamar, mengambil ponselnya dan menelfon Meira untuk mengucapkan terima kasih.


__ADS_2