DENDAM SUAMIKU PADAKU

DENDAM SUAMIKU PADAKU
Tinggal Kenangan


__ADS_3

Hans masih terduduk lesu diruang tunggu, pikirannya kacau, hatinya remuk melihat adik satu satunya terbaring lemah diruang IGD. Seklebat bayangan kejadian sore tadi masih mengganggunya, mengguncang jiwanya.


"Tuan, Nonya besar sudah tiba". Pasha memberi tahu tuannya


"ma....". Hans langsung berdiri dari duduknya dan langsung memeluk Emilda


"Bagaimana keadaan Fans?".


"Masih dalam penanganan dokter ma". jawab Hans sambil melepaskan pelukannya.


"ini semua karna perempuan itu ma, Fans menjadi seperti ini!" imbuhnya kesal.


"ssttt, sudah jangan menyalahkan orang lain Hans, ini kecelakaan". Emilda berusaha menenangkan anak sulungnya itu.


Sebenarnya Emilda sudah tahu kronologi kejadian sore itu, juga penyebab pertengkaran Hana dan Fans. Meski Emilda jauh dari kedua anaknya, ia selalu tahu apa saja aktivitas kedua putranya itu melalui mata mata Emilda yang ia pekerjakan untuk mengawasi kedua putranya.


Bukan karna tidak percaya terhadap anak anaknya, ia hanya takut kedua putranya itu mengulangi kejadian beberapa tahun silam, tepat saat dimana Suaminya pergi meninggalkannya tak ada kabar, bukannya saling menguatkan, kedua putranya malah bertengkar hebat hingga akhirnya Hans mendapatkan luka di dadanya akibat lemparan batu dari Fans. Kejadian itu cukup membuatnya trauma, dan tak ingin terulang lagi.


Hans menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan ibunya yang masih saja membela Hana.


"Ma, Hans melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa perempuan itu sengaja mendorong Fans ketengah jalan, dia sengaja mah, dia sengaja ingin menyingkirkan Fans Ma!". Hans menyangkal dengan penuh kebencian

__ADS_1


Belum sempat menanggapi amarah putranya, pintu ruangan terbuka


ceklek


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Emilda khawatir


"Alhamdulillah, pendarahan di kepalanya berhasil kami hentikan, tapi kita harus terus mengobservasi pasien, karna pasien sempat kehabisan banyak darah, juga ada beberapa cidera di organ dalam pasien akibat benturan yang keras, untung saja pasien cepat dibawa ke rumah sakit dan lekas mendapatkan penangan".


Emilda menghembuskan nafas panjang, "syukurlah"


"Apa adik saya susah sadar dokter?" tanya Hans penasaran


"mohon maaf belum tuan, saat ini pasien masih dalam kondisi kritis, tapi kita berdoa saja agar cidera diorgan dalamnya tidak berakibat fatal, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, maaf saya permisi".


Fans sudah dipindahkan di ruang ICU presiden suite, Hans dengan setia duduk disamping adiknya, sedangkan Emilda berbaring di ruang istirahat. Karna setelah mendapatkan kabar bahwa Fans kecelakaan, ia langsung terbang dari Singapura ke Indonesia dengan jet pribadinya.


Pasha yang sedari tadi sibuk mengurus administrasi dan keperluan tuannya meminta izin pada Hans untuk segera mengurus urusan yang lainnya. Pasha pun pergi menuju rumah tua tempat Hana berada.


***


"Perempuan itu harus segera mendapatkan hukuman yang setimpal dengan apa yang telah ia perbuat pada adikku, tunggu saja aku akan menghukummu!" Hans berdialog dengan dirinya sendiri

__ADS_1


Tiba tiba perlahan Fans membuka matanya,


"Ka Hans...." panggilnya dengan lemas


Hans yang terkejut langsung memberi tahu ibunya, dan langsung keluar memanggil dokter Saking terkejutnya ia lupa tidah menekan tombol panggilan untuk dokter.


Tak lama Hanspun mendapatkan dokter dan beberapa perawat. Namun saat hendak membuka handle pintu, ia dikagetkan dengan suara Emilda yang menangis kencang


Brakk


"Ada ap...?" Belum selesai berkata Hans dikejutkan dengan layar monitor (maap lupa namanya hehe) yang berbunyi ttttiiiiitttttt dan memperlihatkan garis panjang.


"No no no, Fans....bangun Fans, Fans.... buka matamu Fans, Fans ini aku.... Fans..." Tangis Hans pecah, dirinya masih tak percaya bahwa adiknya pergi dengan cara seperti ini, ia coba goncangkan tubuh Fans, tapi hasilnya nihil.


ReyFans telah tiada, pergi meninggalkan banyak kenangan indah bagi kakanya Hans juga bagu sahabat terkasihnya Hana.


Setelah kurang lebih satu jam berusaha menerima apa yang telah terjadi pada Fans, Hans pun mulai berfikir jernih. Ia rogoh saku celananya dan menelfon seseorang.


"Halo Pasha, dimana?, cepatlah ke rumah sakit, Kau harus membantuku mengurus pemakaman Fans!."


Setelah memberi perintah pada tangan kanannya, Hans pun menghampiri Emilda, memeluknya memberi sedikit energi pada ibunya yang sedari tadi masih saja menangisi kepergian Fans.

__ADS_1


"Selamat jalan adikku, aku besumpah padamuz dihadapan jasadmu, aku akan membalasnya, aku akan membuatnya menderita!".


__ADS_2