DENDAM SUAMIKU PADAKU

DENDAM SUAMIKU PADAKU
Penahanan Hana


__ADS_3

Pemakaman Fans dilakukan secara tertutup, hal itu sengaja Hans lakukan karna tak ingin semua orang mengetahui bahwa adiknya meninggal secara tragis. Pasha mengatur semuanya dengan sangat rapi, tak ada awak media, tak ada kerabat maupun teman yang datang takziah. Awalnya Emilda menolak dengan keputusan Hans dengan merahasiakan kematian Fans pada siapapun, tapi akhirnnya Emilda mengalah, dirinya tidak ingin berdebat dengan Hans yang kini menjadi satu-satunya penyemangat hidupnya.


“sampaikan salam mama pada papamu Fans, mama sangat menyayangimu, mama akan kabulkan permintaan terakhirmu”. Emilda berdialog dalam hatinya, matanya fokus menatap gundukkan pasir berhias batu nisan diatasnya.


“Ma, mama okey?” Tanya Hans memperhatikan Emilda penuh cemas


“hmm, ya” Emilda mengangguk


“Ma, sebaiknya kita pulang ya, mama belum istirahat sejak semalam, mama harus jaga kesehatan ma, please ya”. Bujuk Hans


“Baiklah…”. Berat hati Emilda mengiyakan ajakan Hans.


Hans merasa tenang melihat Emilda sudah terlelap dalam tidurnya setelah dirinya berusaha keras meminta Ibunya untuk beristirahat. Hans berjalan dengan langkah gontai menuju ruang kerjanya, sekilas bola matanya mengarah pada figura foto diatas nakas, Figura berisikan foto dirinya dengan Fans dua tahun lalu di Singapura.


Air muka berubah setelah pikirannya kembali terfokus pada kejadian yang menimpa almarhum adiknya, Hans merogoh sakunya mengambil ponselnya.


“Halo Pasha, siapkan penerbangan ke Singapura besok Lusa, urus semua keperluan!”


“Baik tuan, akan segara saya urus tuan”


“Pasha, mulai hari ini akan kubalaskan dendamku pada perempuan itu, siapkan semuanya, kau tahu apa yang harus dilakukan!” Hans menekankan.


...***...

__ADS_1


Pasha menutup panggilan telfon dari tuan mudanya, sebenarnya dalam hati kecilnya ia menolak keras pembalasan dendam tuan mudanya pada Hana, sepintas terbesit perasaan khawatir pada tuan mudanya. Namun dengan cepat ia tepis rasa khawatir itu, dirinya tak ingin mengecewakan tuan mudanya.


“Halo, kau sudah mengemas barang-barangnya?”


“sudah tuan, semua sudah saya siapkan”


“Hmm… laksanakan semuanya sekarang, tapi ingat jangan sentuh dia sedikitpun!”


“Baik tuan siap laksanakan”


Pasha menutup telfonnya, ia menghembuskan nafas panjang, tangan kanannya memijat kecil keningnya, dua hari ini cukup menguras banyak energy dan pikirannya.


“semoga semuanya berjalan lancer dan baik-baik saja”. Pasha berdialog pada dirinya sambil berusaha memejamkan matanya.


Sementara itu, Hana masih sesekali meneteskan air matanya, ada banyak penyesalan yang ia rasakan, sesak dan berat. Hana masih duduk bersandar didinding dengan kedua kaki yang ditekuk kearah dadanya, sesekali ia menelungkupkan kepalanya diantara lutut dan dadanya.


“Nona ini jatah makanmu juga barang barangmu, kami sudah mengemas semuanya, satu lagi jangan harap anda dapat menggunakan ponsel anda ataupun kabur dari sini, teruslah berada dikamar ini!”. Ujar seorang pria berbadan atletis, yang tak lain adalah tangan kanan Pasha.


Hana hanya membalasnya dengan anggukan, dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya nanti atau bahkan hari esok. Ia pasrah akan nasib yang menimpa dirinya, toh ni karna kesalahannya sendiri. Hana kembali menangis mengingat almarhum kedua oratuanya, ingin sekali rasanya Hana menyusul mereka.


Hana memberanikan diri untuk mnegampiri nampan berisikan satu set makanan beserta minumnya, tangannya meraih botol air mineral, perlahan membuka segelnya dan meminumnya. Tenggorokannya seakan berteriak terima kasih karna akhirnya Hana memasukkan sesuatu pada tubuhnya. Hana menyudahi minumnya dan mengambil tas hitam yang tak asing baginya. Tas itu adalah pemberiaan anak anak panti sesaat sebelum Hana pergi merantau, ia tahu betul anak anak panti rela menabung cukup banyak agar bisa membelikannya tas pakaian itu.


Kruuukkkkk

__ADS_1


Sebenarnya cacing cacing diperut Hana sudah berdemo sejak pagi tadi, namun tak ada sedikitpun nafsu makan pada dirinya. Hana membuka tasnya, mengeluarkan beberapa potong baju dari dalam tasnya, ia memutuskan untuk mengguyur badannya, berharap dapat menyegarkan pikirannya. Namun hasilnya zonk, ditengah guyuran air dari shower,tangis Hana kembali pecah, kali ini terdengar sangat menyedihkan.


Tanpa Hana sadari, tangisnya itu sayup sayur terdengar dari luar kamar mandi dan didengarkan langsung oleh Pasha. Pasha yang tak dapat memejamkan matanya barang sebentar itupun langsung beranjak ke rumah tua tempat Hana disembunyikan.


Pasha tertegun mendengar tangisan Hana, baru kali ini dirinya mendengarkan tangisan seseorang yang begitu menyesakkan hati. Mendengar tangisan Hana, ada perasaan sedikit iba pada Hana, seumur hidupnya Pasha tidak pernah berlaku kejam pada lawan jenisnya, namun semua ini terpaksa ia lakukan demi Tuan Mudanya, hatinya bertolak belakang pada rasa tanggung jawabnya itu.


“Tuan Pasha…”. Panggil seseorang dari balik tubuhnya.


Pasha dikejutkan dengan panggilan tangan kanannya, Bayu namanya. “AH ya…?”.


“Penyadap sudah saya pasang tuan, dan sudah terhubung di ponsel anda”. Jelas Bayu pada bosnya itu


“baik terima kasih, kau boleh pergi”.


Bayu mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan bosnya yang masih berdiri didepan kamar mandi.


Pasha membuka ponselnya, mengecek apakah penyadap itu sudah berjalan sebagaimana mestinya atau tidak. Dirinya sengaja memasang penyadap agar ia tahu apa saja tentang Hana, sebenarnya Hans memerintahkan untuk memasang CCTV, namun tidak dilakukan oleh Pasha, ia tahu bahwa hal itu sangat melanggar privasi seseorang, apalagi ini Hana seorang perempuan.


Setelah merasa alat penyadapnya berfungsi dengan baik, Pasha pun meninggalkan kamar Hana bersamaan dengan suara shower yang dimatikan Hana. Perlahan Hana keluar kamar, sedikit megintip apakah ada orang didalam kamarnya, setelah merasa aman Hana melangkah keluar kamar mandi dan langsung berlari menuju pintu kamar lalu menguncinya dari dalam.


Hana mengambil mukena dari dalam tasnya lalu melakukan sholat, sejak dikurung didalam kamar Hana terpaksa menunaikan ibadahnya hanya dengan bertutupkan selimut. Dirinya merasa lega karna para pria bertubuh besar itu mengemas barang barangnya dengan baik, bahkan tak lupa mereka membawakan seperangkat alat sholat milik Hana.


Selesai menunaikan sholat, Hana duduk melampiaskan semua yang ia rasakan, rasa bersalahnya atas kematian Fans, kesedihannya, hancurnya hatinya, semua ia curahkan pada sang Pencipta, tak lupa Hana meminta ampu atas apa yang telah ia perbuat. Dan semuaa yang Hana ucapkan dalam doa terdengar jelas oleh Pasha, dalam perjalan pulangnya Pasha sengaja memutar alat penyadapnya, ada rasa penasaran yang memuncak pada dirinya terhadap Hana.

__ADS_1


Hal itu bermula saat Hans memerintahkan Pasha untuk mencari tahu semua tentang Hana, sejak saat itulah Pasha mulai penasaran tentang diri Hana, tentang Hana yang pernah tinggal di sebuah panti asuhan yang letaknya di Pulau kecil yang jauh dari ibu kota, lalu Hana yang dapat lolos bekerja di stasiun tv milik Hans, dan bahkan dapat sangat akrab dengan Fans. Meski sudah lumayan banyak hal yang Pasha tahu tentang Hana, dirinya merasa masih ada suatu hal yang besar dari Hana, dan itulah yang membuat pasha sangat penasaran.


“benar kata nyonya, sebenarnya perempuan itu baik”. Pasha tersenyum sinis setelah mendengar Hana berdoa dan mengaji.


__ADS_2