
Kesakitan Kinar, kali ini kembali datang. Kinar sedikit aneh, ketika benjolan dibawah perutnya terasa gatal, dan memerah sakit. Kinar rasa efek dari operasi ususnya, hal itu membuat Kinar lagi lagi tidak mau bicara pada suaminya.
Meletakkan Raya di kasur, dan tas. Kinar mencoba ingin pergi ke kamar mandi, sementara Alex terlihat menelepon seseorang, sesampai dari rumah ibunya.
Kinar membasuh wudhu, selagi Raya tidur pulas. Hingga beberapa saat setelah rukuk, sujud dari shalatnya, entah kenapa Kinar merasakan sakit di perut bagian dalam.
'Aku kenapa ya, kok kram lagi. Apa maag telat makan, aduh. Enggak, Mas Alex kalau tahu, dia pasti bawa aku ke rumah sakit. Yang ada, uang untuk aqiqah Raya terpakai.' batin Kinar.
Minum air putih, setelahnya membuat Kinar memberikan rasa lega sakit berkurang. Tak lama mas Alex masuk ke kamar dan meminta sesuatu.
"Kinar, buatkan mas teh ya!"
"Iya mas, segera Kinar buatkan."
__ADS_1
Menuju dapur, gula habis, teh habis. Sisa sedikit membuat Kinar memakai yang ada, teh tadi pagi yang ia taruh di dalam gelas, terpaksa Kinar pakai lagi. Lagi pula sudah malam, untuk ke warung rasanya amat sakit jika di paksakan.
Cetrek.
"Teh nya mas."
"Makasih ya Kinar."
"Mas, boleh enggak Kinar tanya sesuatu?"
"Kenapa mas Alex harus pinjam uang pada ibu, kan check up ga perlu bang, Kinar udah baik baik saja. Soal aqiqah bukannya bisa di kumpulin, lagian terlalu memaksa. Rasanya Kinar takut memberatkan."
"Aqiqah tidak boleh di tunda! Mas enggak mau kamu mikir bukan bukan, besok mas sudah janjian sama custumer yang suka beli kain, katanya aqiqah terima beres 1,9 juta. Insyallah kita bagikan ke yang berhak, selamatan kecil kecilan aja."
__ADS_1
Penjelasan Alex, membuat Kinar mengangguk. Sebenarnya ada rasa mengganjal dari lubuk hati, yakni perkataan ibu mertuanya yang nyakitin seperti tadi itu. Tidak ada kata kata maaf juga dari mas Alex soal kata kata ibunya, semenjak menikah dengan Kinar, kehidupan Alex jadi sulit ekonomi.
"Mas, Kinar boleh tanya enggak. Soal email yang Kinar sempat buka, maafin Kinar karena sudah lancang. Kabar Lunar dimana, kenapa mas tidak berniat menemuinya? Terus toko fashion Lunar, apakah Kinar boleh tahu soal itu?"
Deg.
Alex meletakkan pena di atas meja, menghentikan tulisan pengeluaran untuk persiapan besok. Juga pendapatan yang harus ia sisihkan setiap hari, agar uang ibunya bisa di kembalikan.
"Kinar, mas enggak tahu Lunar tinggal dimana, pertengkaran itu membuat mas salah, apalagi kondisinya mas tidak bisa adil membaginya. Jadi maafkan mas! Mas masih meminta informasi juga, jika Lunar tinggal dimana saat ini. Yang jelas dalam waktu dekat, sidang akan mempertemukan kami. Dan maaf jika kamu tahu Lunar adalah adik mas, dia adalah tunangan yang mas cari tapi saat ini tidak, Lunar kabur setelah akad." jelasnya membuat Alex beranjak pergi ke kamar.
Kinar terdiam, ketika Alex sudah beranjak dari meja, apalagi panggilan berdering membuat pembicaraan mereka terhenti, apalagi Kinar belum mendapat balasan soal toko fashion Lunar.
'Harusnya jika mas merasa bersalah, dan ingin berusaha adil. Pilih lah salah satunya mas, agar mas bisa sadar atas apa yang mas lakukan adalah egois.' lirih Kinar, tangisannya jatuh begitu saja, ia masuk ke kamar kedua mendekap Raya putri kecilnya yang mungil itu, dimana kebenaran ini harus Kinar tahu, setelah Kinar mencintai suaminya, namun masa lalu suaminya sepenuhnya Kinar belum tahu.
__ADS_1
TBC.