
Melihat Kinar sedikit menangis, isna baru saja tiba dan mendekat seolah menghibur.
"Kinar gimana baby Raya?"
"Lagi tidur mbak, mbak isna udah pulang. Mau makan?"
"Ga usah repot, mbak bisa ambil sendiri. Kebetulan kamu di ruang tamu, mbak bawa pembukuan lama. Kamu bisa belajar dari buku ini."
"Iya mbak, makasih banyak ya."
Terdiam Kinar, membuat isna bertanya. "Mbak isna, maaf kalau Kinar lancang. Soal baby Raya. Kenapa mbak isna enggak mau rawat?"
Pertanyaan itu, membuat isna berbicara pada Kinar masa lalunya, jika yang dilihat isna tak sebaik yang dipikirkan, melainkan keteledoran isna yang terlalu dalam mencintai pria di masa lalu.
"Kamu mau dengar?"
"Iya mbak."
Isna pun, langsung memberikan ultimatum masa lalunya, yang sangat pedih. Sehingga ia lebih baik hidup sendirian, ketimbang ia bersama namun suaminya Faiz, tidak percaya akan kandungan keduanya ini, maka dari itu isna enggan merawat baby Raya, dan meminta adiknya Alex, untuk mengadopsi keponakannya itu.
Flashback Masa Lalu Kakak Ipar.
"Isna pergilah, aku ingin bicara empat mata pada istriku!" ujar Faiz mengusir, dan Isna mengambil tasnya pergi lewat pintu belakang.
Beberapa saat kamar itu hening saling diam, dan mereka memulai bicara.
"Mas, kenapa kamu balas aku seperti ini?"
"Isna, aku menyukai Mirna karena dia rapat. Aku merasakan sensasi baru karena dia masih segel. Lagi pula, aku sudah teken kontrak agar dia hamil. Anaknya kita yang rawat, bagaimana. Solusi tepat bukan, agar keluarga kita tak berkicau terus." jelas Faiz.
"Mas, kamu tau kan soal D ..?"
"Tentu! dari mantan kamu itu kan, Diaz soleh tapi sangat brandal. Beruntung kamu aku nikahi, aku tutup aibmu. Maka kamu tutub aibku dengan isna. Ini demi kebaikan kita."
isna sangat menyayangkan, kala Faiz dengan mudah bicara begitu saja dengan enteng. Apalagi memintanya tak masuk akal, meminta Agar isna menerima dengan kemauannya.
"Maksud kamu seperti apa mas?"
"Bodoh! tentu kita buat Mirna melahirkan. Dan ini sudah bulat, tetaplah baik baik saja isna, sebab aku tidak percaya kehamilan kamu saat ini, karena Diaz bilang dia khilaf bermalam denganmu!"
"Mas, kamu ga boleh percaya gitu aja dong."
Jelas isna, ia melihat Faiz keluar dari kamar. Sehingga ia hanya bisa terdiam pilu. Tega sekali mas! kamu tidak menatap dan melihat aku yang sakit begini.
"Apa seorang istri, harus selalu mengikuti kemauan suaminya?"
"Itu pilihanmu, rahasia mu ada padaku." ujar Faiz dengan enteng.
KEESOKAN HARINYA.
__ADS_1
isna yang masih libur bekerja toko pakaian di awal meniti kariernya, ia segera menatap pesan guna mendapat kabar baik. Tapi Faiz setelah memakai dasi, ia meminta isna untuk menjaga rumah.
"isna.." teriak Faiz.
"Ya mas, aku sedang cuci piring."
"Tolong bantu aku, rapihkan!" teriak Faiz.
Sehingga isna menceritakan hari ini sedang tidak enak badan. Tapi kala ia meletakan ponselnya, ia ingat momen dirinya bucin dan manis pada masa lalu dirinya dengan Faiz.
Belum lagi isna sangat bahagia, menurutnya tidak ada pria sebaik Faiz, yang mau menerimanya tidak suci karena sebuah kecelakaan, yang ibu bilang isna kecelakaan karena bersepeda, membuat se-la-put da-ranya robek, itu adalah diagnosa. Tapi bagi Faiz, isna tidaklah segel.
isna merasa ingin sekali bicara pada sang ibu, tapi ia cukup tidak berani, jika kelak masalahnya akan besar tercium oleh keluarga. Bahkan nama baik keluarga dan mertuanya akan hebat marah.
isna juga melihat sebuah foto pernikahan tujuh tahun silam. Ia ingat pertemuan dirinya dengan Faiz seperti tidak punya pikiran. Sama sama dalam pengaruh.
Di cafe Isna bersama Faiz, kala itu.
"Kamu mau apa, Faiz?" sorot mata isna sedikit menyingkirkan tubuhnya dalam genggaman tangan Faiz yang menyentuhnya.
Tatapan mereka saling dekat, isna memang mencoba menetralisir agar ingatannya adalah dendam tak akan berhubungan dengan sang mantan. Namun itu membuat Faiz sepupunya mengejar isna karena kecantikannya.
Lalu benar meninggalkan. Tapi ketika wajahnya hanya beberapa centi saja, Faiz memiringkan pandangannya pada wajah Isna. Bibirnya membuka dan satu tangan menjaga sekedar menahan di rak lemari, sementara satu tangan lagi kembali menarik ke bawah pinggang isna pada tubuhnya semakin dekat.
"Hentikan! jaga sikapmu Faiz!" sinis isna, ia segera bangkit setelah tubuhnya menurun dan berhasil lepas dari lingkaran Faiz yang membuat jantungnya berdebar.
"Aku mau ke kamar mandi, kamu pergilah dari ruangan ini!" teriak isna, menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
Bagaimana bisa aku pergi, ini usahaku mencari uang, juga di sana kamarku! Faiz merebahkan tubuhnya lebar dengan posisi celentang di tengah tengah sofa. Ia begitu lucu mengingat jelas, kala di mata isna itu ada rasa cinta padanya.
'Wanita sekarang itu sangat munafik, jual mahal. Tapi aku suka, kenapa aku baru sadar dia cantik?' rona Faiz yang mengigit bibir bawahnya.
Sementara isna, ia masih mengerjapkan kedua matanya. Seolah ia salah jika itu bukan cinta. Debaran sisi jantung isna masih terasa, saat isna meletakkan salah satu tangannya.
Dasar Faiz gila! dia benar benar membuat aku sulit. Kenapa aku seperti ini padanya. Tapi dia itu benar benar serius kan? Jika pria itu kembali menyakiti, seperti kerabatnya bagaimana? Benak isna bertanya tanya.
Beberapa puluh menit kemudian. Saat isna selesai, ia segera membuka pintu, tapi matanya dikejutkan dengan tatapan punggung pria tanpa alas pakaian. Itu adalah Faiz yang memakai boxer saja, mengganti pakaian dengan piyama.
Bodohnya lagi Faiz dalam pengaruh obat, ia berlaku aneh jika ruangan kerja seperti kamarnya. Faiz membuat senyuman miring kala menyadari jika, isna dibelakangnya sedang terpana.
"Kamu terkejut, berdetak hatimu bukan?" lirih Faiz.
"Kenapa diam, baru sadar ya liat punggung malaikat? mulus, bersih dan cool?" melirik isna tidak melihatnya.
"Apa yang kamu pikirkan, lebih baik berganti pakaian di tempatnya. Ingat kita itu apa?" lirih isna, guna Faiz memakai kembali pakaian, karena mereka saat itu masih dalam ruangan kerja.
"Ki-ta itu a-pa? kita itu akan jadi suami istri, apa perlu aku tunjukan padamu! aku berhak atas dirimu, jadi jangan bicara aku dan kita itu siapa. Jika itu kamu ucap lagi ya isna, aku tidak tahu. Apa aku bisa menahannya atau tidak!"
Ciiiih! gila. Decih isna menyingkirkan matanya agar tak terlalu menatap punggung calon suaminya itu.
__ADS_1
Benar saja ia memang pria yang perfect. Tapi jika sikap dan gayanya bukan malaikat. Melainkan iblis menjelma kesasar di lembah hutan.
"Apa, kamu bicara aku, iblis kesasar di lembah hutan?" tanya Faiz mendekat ke hadapan isna.
"Apa maksudmu isna?" tanya kembali Faiz meraih tangan isna.
"Kau itu sering sekali berganti wanita, dan berganti belantara hutan yang kau cicipi sangat banyak. Jadi apa! jika bukan iblis yang ke sasar di lembah hutan?!" cetus isna.
isna segera pergi dan lebih dulu keluar. Ia tak sanggup rasanya berada di dalam ruangan cafe bersama Faiz. Terlebih Faiz membuat dirinya tidak karuan, bisa mengapung terbang tinggi. Bisa juga terjun bebas tanpa peringatan.
Sementara Faiz tersenyum, memiringkan bibirnya kala mulut isna bicara lantang seperti tadi.
"Ok! fix kamu cemburu padaku isna." lirih Faiz lalu mengekor langkah isna. Yang berlari menjauh.
"Tunggu isna! aku seperti ini karena menyukaimu! menikahlah denganku. Percaya padaku isna! kita akan memiliki keluarga bahagia."
Itu adalah penggalan kata kata akhir Faiz terhadap isna. Yang sangat di sayangkan, ketika isna harus bisa melihat suaminya kembali gila dengan wanita lain. Yang saat ini dekat dengan wanita bernama Mirna.
Makan Malam.
"Hallo sayang! Mama pikir kalian kebablasan ga jadi makan malam?" sindir Mertua isna.
"Mama suka banget sih goda pengantin. isna kan baru aja beberapa hari menjalani kuret. Mana bisa Faiz ..?" bisik papa mertuanya.
"Pah, mama itu tahu. Faiz ga jauh beda kaya kamu dulu. Buktinya mama baru beberapa hari lahiran, kamu udah minta jatah."
"Tapi itukan enggak menyentuh apem basah Mah! Papa waktu itu .." terdiam mertua Isna, kala melihat isna berdiri dengan tatapan aneh.
isna semakin pilu, kebahagian mertuanya memang sempurna. Orangtua mas Faiz menginginkan cucu dari putranya, tapi setelah kuret saat itu isna merasa gagal, hingga pernikahan kedelapan belum juga di karuniai mongmongan.
'Apa aku harus terima, jika mas Faiz memaduku demi seorang anak darah daging mas Faiz?' batin isna
Dan itulah kenyataan isna, berbincang pada Kinar. Dimana ia pernah menikah, karena ia tidak sanggup merawat bayi Raya sendirian, hidupnya hancur sehingga ia menjadi fokus menggeluti usaha fashion, terlebih menjaga jarak pada pria dan mantannya.
Mendengar hal itu, Kinar jadi merasa bersalah, harusnya tadi ia tidak bertanya masa lalu mbak Isna, yakni kakak iparnya itu yang merasa histeris jika melihat anak keduanya sejak lahir.
"Kinar janji, akan merawat Isna, dan tidak akan membiarkan Baby Raya kekurangan kasih sayang sekalipun." ujar Kinar.
"Makasih ya, ya udah kalau kamu dah selesai pembukuan ini kamu pelajari, kamu kembali ke kamar aja. Ga usah pikirkan soal omongan ibu ya!"
"Iy mbak, makasih." pamit Kinar, dimana mbak isna yang baru pulang, sedikit berbincang padanya, dimana Kinar yakin jika mbak isna itu amat baik padanya.
Padahal sebelumnya Kinar juga ingin bertanya soal Amel, apakah ia juga anak mbak Kinar dan suaminya yang bercerai, atau memang kebobolan lagi. Ah, benar benar membuat Kinar urungkan, sebab pertama saja mbak isna cerita, hal itu membuat Kinar tak bisa berkutik bicara.
Tapi Kinar tersadar, ada nama Diaz. Mungkin pria itu, nama itu adalah kekasih mbak isna, namun karena kecantikan mbak isna, dia mau dinikahi Fazi karena sedang hamil.
'Pantas ibu mertua protek, mungkin sebenarnya ia kecewa pada putrinya yang asmaranya gagal, sementara Alex putra semata wayangnya menikahi dirinya karena hutang mertua, ah malang.' batin Kinar merutug kesalahannya.
TBC.
__ADS_1