Derita Menantu Ke 2

Derita Menantu Ke 2
CEPATLAH HAMIL


__ADS_3

Beberapa jam Alex membawa ke klinik bersama Kinar, dimana mereka berdebat sebentar, sesaat bayi sedang di periksa.


"Kamu apakan seharian ini Kinar, kenapa bayi kita tak bersuara?" Alex tiba saja datang, membuat Kinar serba salah.


"Kinar enggak buat apa apa mas, tadi tuh Kinar petik daun pepaya sebentar di belakang. Dan Raya udah kebangun nangis, setelah itu Kinar beri susu dia tidur. Mas ga percaya sama istri sendiri?" teriak Kinar, yang kala itu menatap kesal pada suaminya.


"Mas percaya! Maaf, cuma kalau ada sesuatu bilang sama mas ya! maafin mas." kecup manis Jari.


"Mas dapat duit berapa hari ini, apa toko rame?"


Deg.


Alex bahkan sudah mencoba lembut, ia masih bersabar sikap Kinar yang kian tambah hari berbeda, ingin sekali membawa Kinar konsultasi ke dokter. Entah pikiran Alex adalah, apakah menemui ibunya, meminjam sedikit uang untuk membawa Kinar checkup.


"Mas cuma punya sedikit rejeki, 657 rb, tapi tadi membawa ke klinik sebesar 250rb. Sisanya hanya ini, maaf ya! Besok mas akan berusaha lagi." senyumnya.


"Kalau perlu lebih pagi mas semua bahan pokok serba naik, kali aja kan pagi pagi ada panglaris yang borong." cetusnya, kala itu Kinar menggendong Raya dan menggantikan pampers.


"Hah, uang segini beli beras, telur dan pampers habis. Bahkan aku ga punya sepeserpun emas loh mas, cincin nikah aja masih digadai buat usaha toko mas Alex kan? lalu mas enggak setujui mama yang minta mobil baru kan?"


"Sabar ya! semua ini ujian, sebagai suami mas akan lebih giat lagi."


Kinar sendiri hanya memutar mata kesal, entah kenapa kehidupannya berubah terbalik. Hal ini membuat Kinar semakin kesal menatap bayi Raya, apakah karena kehadiran bayi ini membuat kehidupannya berubah drastis. Seharusnya bayi ini tidak hadir, jika kehidupan berubah total. Bahkan Mas Alex tidak punya pekerjaan dan proyek seperti dulu.


Eaaaak ... Tangisan Raya, sudah kembali bersuara.

__ADS_1


Alex yang sudah selesai shalat isya, ia melipat sajadah dan memohon ampunan berkali kali, apa kesalahannya sehingga membuat dirinya tidak bisa memenuhi kebutuhan tercukupi untuk istri dan anak yang ia angkat menjadi anak kandungnya, bahkan ia sudah mulai lembut sikap pada Kinar, akan tetapi ujian materi membuat Alex sebetulnya tertekan.


Kinar di kamar yang selesai melipat baju, melihat Alex sudah menaruh bayi Raya di kasur bayi, memasang pelindung agar Raya tidak mudah jatuh.


"Raya sudah tidur..." kode Alex, yang saat itu duduk di belakang Kinar.


"Kinar mandi dulu ya mas! Sehabis ini kita makan, Kinar benar benar capek, kayaknya harus mandi dulu biar seger."


Kinar melepas pegangan Alex, yang sudah berada di gundukan. Bukan tanpa alasan, rasa sakit Kinar memaksa menjadi ibu susu Raya, sehabis iparnya melahirkan dan air yang mengucur ngalir di sebuah PD, membuatnya amat terasa menyakitkan. Apalagi jika ia kelak hamil, membuat Kinar merasa ketakutan yang membuat dirinya tidak bisa berbuat apa apa.


Karena iparnya bekerja, dan tak keluar air susu, hal itu membuat Alex meminta bayi Raya di asuhnya, sampai Kinar hamil, jelas jelas Kinar saja belum menyetujui, tapi Alex sudah membawanya dan meminta Kinar merawat melatih mempunyai anak.


'Adanya bayi membuat Kinar terbelenggu, benar benar tidak bisa bergerak kemanapun.' batin yang saat itu berendam sesaat mengguyur tubuhnya yang lengket.


Kinar sendiri kembali membantu menyiapkan makanan, bahkan membeli tempe orek dan semur tahu ia hangatkan. Kali ini ia melihat Kinar yang memasak daun pepaya ia buntal, maka Alex berinisiatif membantu Kinar menyiapkan di dapur, Alex berjanji akan membahagiakan keluarga kecilnya, dan memperkuat hubungan Kinar dan mamanya yang tak setuju, ketika Alex menikahi Kinar, bahkan restu pun hingga saat ini rasanya tak terucap dari mulut sang mama.


"Ayo Kinar, kita makan!"


"Wah makasih ya, udah bantu siapin semuanya mas."


"Kamu juga pasti sudah capek seharian, ketimbang tinggal di rumah petak, ada kalanya kita harus legowo tinggal bersama mama, kamu mau kan?"


Terdiam Kinar, dimana tinggal dengan mertua membuat Kinar akan kembali tertekan pastinya.


Mereka pun makan bersama, hingga beberapa saat Alex turut membantu mencuci piring, lama mereka duduk setelah makan bersantai, menonton televisi. Alex mendekat ke sofa, menatap Kinar yang kala itu, Kinar sendiri bersandar pada suaminya.

__ADS_1


"Kinar, apa kita .. bisa .. ?"


"Mas lagi ingin itu ya .., udah shalat?"


"Udah .."


Alex pun merapatkan dalam, hingga akan membuat penyatuan pemanasan, dimana Kinar sendiri ketakutan! setiap kala Alex meminta jatah, itu membuat trauma dan sakit luar biasa, namun ia hanya diam saja.


"Tunggu Mas .. maaf! Kinar rasa, jangan sekarang!"


Kinar yang masih ketakutan, meminum air segelas dengan kepanikan. Hal itu membuat Alex membuatkan susu untuk Kinar, ditambah seruas jahe.


"Minum dulu!"


"Iy Mas, makasih. Maafin Kinar tadi .."


"Gak apa, mas mengerti karena mas memaksa kamu untuk segera hamil, mungkin dengan kamu hamil. Mama akan lebih baik. Dan terimakasih sudah menjaga kehormatan kamu, lama lama kamu pasti akan terbiasa."


Deg.


Kinar terdiam, ada rasa kelu membuat pikirannya kembali tergoyah, sehingga Alex disana sudah melepas piyama Kinar dan membuat Kinar yang gemetar, menjadi lemas dan rileks.


Dimana bayi dikamar lain sedang anteng, maka tangisan Kinar air mata jatuh begitu saja, kala Alex sudah membuat Kinar tak berdaya, seolah duri tusukan menancap hingga ke tulang tulangnya.


Pernikahan Alex dan Kinar sudah berjalan dua tahun, namun penuh perjuangan dimana Kinar baru baru ini di sentuh Alex, karena tidak mudah bagi dua insan yang dipaksa menikah langsung melakukan ritual pengantin, atau suami istri pada umumnya.

__ADS_1


"Cup! terimakasih Kinar, jangan lelah hadapi semua ini!" bisik Alex, membuat Kinar sendiri hanya diam dengan senyuman.


TBC.


__ADS_2