
Esok harinya, Kinar nampak senyum setelah habis mandi. Di sana Alex yang sudah nampak selesai ibadah, ia merasakan keceriaan Kinar yang setelah memandikan my baby, bahkan sudah diam di babywalker tertidur, mungkin sudah kenyang sehabis minum susu.
"Kinar, apa tidak ada lauk?" tanya Alex, yang saat itu sedang mencuci botol susu.
"Semalam mas Alex tidak memberi aku apa apa loh."
Alex saat itu mencoba sabar, mengelus pundak dan mencium istrinya. Rasa laparnya sejak sore lalu ia tahan, dengan minum air putih. Alex sendiri enggan bicara pada ibunya, jika ia sedang kesulitan ekonomi, sebab ia malas mendengar keributan ibu dan istrinya kelak.
"Mas ada bubur semangkok, tapi cuma kecap aja bumbunya. Kinar masih sisain satu mangkuk buat siang, abang kalau udah panglaris di toko cepat anterin makan buat Kinar ya!"
"Iya, Mas pasti akan cepat pulang." senyum Alex yang kala itu bibirnya terlihat pucat.
Alex mencium kening istrinya, dan tak lupa Kinar hormat mencium tangan suaminya, tak lupa bayi yang saat itu tertidur pulas.
"Ayah pergi dulu ya sayang! Jaga bunda, jangan rewel. Jadi putri Ayah Alex dan bunda Kinar yang baik." kecup pipi yang seperti bakpau.
Kinar sendiri mengantar suaminya sampai gerbang, lalu setelah tak terlihat, ia memetik daun pepaya, disekitar halaman rumahnya, melupakan si bayi di dalam seorang diri yang gusar menangis pelan, tangisan bayi itu pun benar benar pelan tak terdengar oleh Kinar karena di dapur tak ada apapun yang harus ia masak.
Kinar bahkan memetik daun pepaya, dan sejengkal tanah lempung di samping rumahnya, karena semenjak ia kecil, Kinar selalu ikut bantu tanaman yang mungkin bisa banyak manfaat. Ia pun asik memetik, lalu sampai belakang rumah, ia baru sadar suara tangisan anak kecil.
__ADS_1
"Aduh itu anak siapa sih, emaknya gila apa ya. Dasar tetangga enggak peka, punya anak nangis bukan di diemin." Lirihnya, membuat Kinar slow masih memetik dedaunan, selama belasan menit ia segera ke depan rumahnya.
Eeaaak .. Eaaak ..
"Ya ampun. Anak bunda, ya allah maafin bunda nak!"
Kinar berlari dan memeluk anaknya, yang sudah ada dilantai, dengan babywalker terguling begitu saja. Beruntung wajahnya tidak tertutupi, hanya kakinya yang tertindih membuat Kinar merasa bersalah, meski ia tak melahirkan namun keadaan ini membuat Kinar sedikit kebingungan, dan sering lupa jika kali ini ia mempunyai bayi.
"Maafin bunda Kinar ya nak!" peluknya kala itu, membuat sang bayi masih saja menangis keras.
Kinar membuatkan air hangat, dalam gendongan, hari itu pun benar benar membuat Kinar lemas, karena bayinya benar benar tidak mau berhenti menangis.
Kinar kembali mematikan kompor, dan dimana saat itu si bayi masih saja menangis. Kinar yang sudah bolak balik kebingungan, di susui masih saja menangis, membuat Kinar memerah wajah menatap bayi mungilnya itu yang berusia tujuh bulan.
"Kamu bisa diam gak sih! Kamu bikin bunda kesel deh, nangis terus kerjaan kamu hah. Bunda udah buatin susu, bunda udah gantiin popok kamu. Kamu maunya apa sih..." teriak Kinar.
Praang!
Kaleng susu saat itu yang hampir kosong, membuat Kinar benar benar hilang kontrol. Ia membanting kaleng susu berukuran 800 gram, tak lama bayi Raya terdiam seolah menangis tanpa suara.
__ADS_1
Kinar pun mendekap kedua bahu bayi mungil itu, sambil menatapnya dan menunjuk nunjuk.
"Kalau kamu enggak berhenti nangis, bunda akan biarkan kamu kehabisan suara. Tunggu Ayah kamu pulang, kamu boleh ngadu sama Ayah kamu Raya! Bunda capek!" teriak kembali Kinar, membuat bayi itu memiringkan badannya, menangis tanpa suara dan tertidur lama kelamaan.
Mendengar Raya sudah berhenti menangis, Kinar memindahkan bayinya ke kamar. Lalu ia memasak dan menggodok daun pepaya selama satu jam, saat ini Kinar ingin sekali membuat buntil. Karena bahan lauk kosong, membuat akal Kinar berputar apa yang bisa ia masak. Sambil memasak, tak lupa membersihkan ruangan yang terlihat berantakan, mengepel dan menyapunya untuk kedua kali, setelah kering.
"Ah! Selesai juga, tinggal buat kuahnya. Maafin Kinar ya mas, aku cuma bisa buat nasi dan daun pepaya di buntal dengan kuah kuning dengan begitu aku benar tulus bersama kamu." lirihnya.
Kinar sendiri langsung mandi, ia melupakan bayi mungil yang sudah bangun. Menangis kecil tanpa suara, seolah haus tapi tak terdengar. Hal itu membuat bayi itu menangis di sana selama puluhan menit tanpa suara.
Kinar yang baru saja keluar dari kamar mandi, menjemur handuk dan melihat bayinya dengan ketakutan.
"Raya sayang, kamu kenapa nak? Kamu kok nangis kejer ga bersuara, sini sayang! Bunda sayang Raya, bunda hangatkan susunya ya!"
Kecupan demi kecupan, membelai bayi itu disusui yang kala itu, Kinar sendiri belum sempat mengganti daster, belum sempat menyisir sudah kerepotan melihat bayinya.
Kinar menatap bayi mungil itu, menepuk nepuk daa-da bayi itu, mengusap leher bayinya dengan krim penghangat, tapi bayi Raya kembali menangis tanpa suara, setelah susunya habis sebotol.
"Raya.. sayang bunda, kamu kenapa nak?" panik Kinar, seketika menangis dan terlihat seseorang mengetuk pintu, dimana Kinar kali ini panik bingung harus berbuat apa.
__ADS_1
TBC.