Derita Menantu Ke 2

Derita Menantu Ke 2
SENTILAN MERTUA


__ADS_3

Isna dan ilham tak menyangka kehidupan Kinar kini berubah, sehingga isna mengatakan jika toko fashion itu milik Raya kelak, dan Kinar boleh turut andil untuk membesarkannya sampai Raya besar, agar adik iparnya itu bisa mengelolanya membantu Alex.


Kinar sendiri sangat bersyukur, akan tetapi isna hanya melihat Alex sang adik dari balik jendela, dan pamit bersama ilham, setelah Raya di berikan pada Kinar, padahal Kinar sendiri sangat malu pada mbak isna yang memberikan suatu hadiah aset.


"Jaga Raya, dan kamu harus pandai mengelolanya ya."


"Makasih mbak, mbak ga ingin ketemu Alex dulu?"


"Ga usah Kinar, nanti aja kalau dia udah sehat. Baby Raya mbak isna serahkan sama kamu." senyum isna kala itu.


"Iya mbak, Raya udah Kinar anggap anak sendiri kok."


Hingga beberapa minggu kemudian, dimana Alex sudah lebih baik, namun terkadang ada hal aneh mudah emosian padanya, ketika tinggal di kediaman ibunya, dimana penekanan sang ibu membuat Alex sedikit penat.


'Mas, jika Kinar ingin. Kinar benar benar ingin tinggal saja di gubuk, tanpa penat ikut campur pada ibu apalagi di kaitkan serakah pada usaha fashion milik cucunya, bukankan toko itu masih milik mbak isna.'

__ADS_1


"Kinar, jaga baik baik di rumah ya. Mas pamit dulu, kamu yang akrab dan pandai ambil hati ibu."


"Iya mas," senyum Kinar, jika bukan karena pertumbuhan Raya dan Alex yang pesakitan melihat suaminya bekerja menjadi cuci motor, mungkin Kinar tidak ingin satu atap bersama mertuanya, dimana baru tinggal beberapa minggu saja kuping dan segala hati batinnya sangat menyakitkan.


Seperginya Alex, Kinar meletakkan Raya ke dalam box bayi, dimana ia melihat pembukuan digital dari ponsel asal toko fashion itu, dimana isna mempercayakan Kinar yang memegang selama Raya belum 17 tahun. Entah apa rasanya, jadi adik ipar yang mendapat kebaikan seorang kakak ipar yang tersakiti dan karena bayi itulah membuat gangguan mental kakak iparnya, bahkan Kinar turut andil membantu dengan rasa tak enak.


Tiba saja langkah, seseorang membuat Kinar terhenti di pintu kamar, yang akan mengambil minum dan satu tangannya lagi memegang ponsel.


"Kamu pasti bisanya habisin uang suami saja," bentak bu Inggrid.


"Apa? Kenapa kamu jadi sombong sekarang? Apa semenjak pembukuan toko isna kamu jadi belagu ya, ingat kamu tinggal di rumah mertua gak gratis." ujarnya menatap aneh.


"Bu maaf, tapi Kinar hanya membantu mas Alex mengecek dari rumah, sebab mbak isna udah serahin anggap pekerjaan ini karena Raya, agar kebutuhan Raya tidak kekurangan."


"Alasan aja kamu, kalau bukan karena isna. Harusnya kamu itu mikir dong, usaha isna udah berkembang, awas aja kalau sampai bangkrut."

__ADS_1


Terdiam Kinar, sehingga seseorang datang tiba saja, membuat Kinar terkejut.


"Wah, Kinar ada disini sekarang ya Tante?" tiba-tiba Lunar muncul.


"Kamu Lunar. Kok bisa disini?"


"Ya, dia itu keponakan sohib ibu. Udah ibu anggap anak, selama kalian gak tinggal disini. Ibu urus segalanya dan rumah ini sama Lunar, dia juga banyak bantu suplai keluarga ini, andai Alex nikah sama Lunar, pengacara handal sekarang, emang nya kamu." cetus mertua, membuat Kinar terdiam.


Tapi sekarang Lunar, kita enggak bisa lagi masuk turut andil. Si isna itu udah kasih ke dia ini, hanya karena dia ibu dari Raya, padahal kan ibu lebih berhak ketimbang percayakan sama adik ipar." celetuk inggrid, membuat Kinar nampak sedikit tertekan sebenarnya.


"Ayo Lunar, ikut tante!" ajak ibu mertuanya, dimana Kinar merasa bingung kenapa ia harus merasakan, kepahitan tinggal bersama ibu mertua yang membuatnya semakin sakit, jika tak ada mas Alex sentilan ocehannya begitu menyedihkan untuk Kinar yang mencoba mengontrol emosi.


'Sabar sabar ya Kinar. Semua demi Raya dan mas Alex tinggal disini, kalau sudah cukup sepertinya harus beli rumah.' batin Kinar.


Menyebalkan sekali, aku selalu dianggap benalu. Dengan hati sedikit kesal, Kinar segera masuk kamar. Membersihkan diri dan ingin beristirahat. Sepertinya, Alex juga belum pulang. Mungkin, sebentar lagi pulang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2