
Lupa adalah cara Isna yang tidak berhenti sedih, dimana sosok Kinar adik iparnya yang ia lihat seperti bukan dirinya.
"Apa yang terjadi sama Alex. Apa kamu tahu tentangnya?" tanya Isna.
"A-ku juga ga yakin Isna. Tapi kita kehilangan jejaknya, apa mereka tinggal di daerah sini. Tapi makin kesana, makin kecil gangnya, mobil ku ga masuk sepertinya."
Isna sempat mengejar Kinar apakah mereka sedang tidak baik, namun nampak kehilangan jejak, dimana setelah menoleh Kinar sudah pergi dengan motor bebek, Isna meminta Agam mengejarnya namun karena mengejar motor amatlah sulit.
Entah kenapa Kinar pergi ketika melihatnya, dimana ia juga mendapat kabar, jika beberapa hari lalu perceraian Isna dan iparnya sudah diputuskan berpisah, bahkan akte cerai Isna, dalam pengiriman sang pengacara.
"Aku tahu, kenapa enggak ke toko kue kamu yang lama Isna, bukannya di pegang ibu kamu .."
"Aku ngerepotin gak?"
"Enggaklah, tapi sebelumnya ke gerai fashion ku dulu ya. Bentar doang ada yang lupa, enggak jauh kok dari sini."
"Ya udah, makasih ya. Thanks Agam, ta-pi harusnya aku ga pantas pergi, dimana aku ini .."
"Biar ga jadi suudzon, jemput Amel gimana?"
"Ide bagus." senyum Isna.
Isna menatap lurus, dimana Agam tahu apa yang ada dalam pikiran Isna. Wajar dia dulu sahabat, hanya saja saat adanya Agam teman sebangkunya menyukai Isna, ia pikir Isna akan bahagia, andai waktu bisa di putar. Dimana Agam sendiri merasa trauma untuk menikah, ketika pernah ditolak dan kedua kalinya patah hati. Jadi dirinya dengan Isna hanya sebatas rekan kerja, dan sahabat dimana kali ini tidak ada jarak, yang membuat mereka setiap hari bertemu akan sulit.
Sementara Isna kebingungan, kenapa Kinar adik iparnya itu terlihat takut saat melihatnya, tidak seperti di rumah ibu terlihat biasa saja.
__ADS_1
Dan dimana Isna jadi ingat kata kata Lunar, dimana ia adalah kekasih adiknya Alex, dimana ingatan itu membuat Isna sebagai kakak, harus tahu apa yang terjadi antara kehidupan Alex dan istrinya ini.
Flashback Lunar Saat Itu.
“Aku akan buat dia merasakan artinya dikhianati. Juga melihat seberapa setianya dia itu.” jawab Lunar.
“Dengan merebut kekasih kamu juga? Kenapa kamu sampai berpikir begitu, Lunar jangan aneh aneh deh.”
Isna melirik Lunar sepersekian detik, sebelum kembali memasang sorot mata yang datar.
“Isna, kamu tahu kan. Ibuku korban dari kekejaman pelakor. Aku juga akan membalasnya.”
“Tapi kamu bakal dicap sebagai pelakor nantinya, ga perlu dendamlah." ujar Isna.
“Aku nggak peduli, aku terlanjur gemas Isna, dia datang udah hancurin asmara hidupku karena tidak jadi menikah dengan Alex.” kesal Lunar.
“Aku bilang aku nggak peduli.”
Merebut hati adikku, adalah pelakor. Aku tahu caranya, adalah ide balas dendam yang tidak pernah terpikirkan oleh Isna saat Lunar berbicara. Dia tidak tahu kenapa Lunar sebagai anak korban kekejaman pelakor, dimana mirip seperti keponakannya, mempunyai ide seperti itu, apa mungkin karena melihat sang ibu menangis.
“Kamu yakin, Lunar? Kamu siap dengan semua konsekuensinya?”
Tak perlu banyak waktu untuk Lunar menjawab. “Aku sangat siap, mbak Isna. Hanya sebagai penggoda, dimana melihat kesetiaan pelakor pada suaminya.
“Banyak cara balas dendam selain ini, Lunar."
__ADS_1
“Nggak ada cara lain, mbak Isna aku mohon tutupi rencanaku.”
Sebab hanya dengan itu, Lunar juga bisa menuntaskan rasa sesak disini. Ia bisa padamkan api yang membakar seluruh organ tubuhnya. Baru kali ini Lunar merasa sangat marah, kala mbak Isna sang kakak dari kekasihnya, yang pernah baik pada ibu dan dirinya dulu, bisa mendapat perlakuan tidak adil menyedihkan, udah sakit malah di tinggal nikah.
“Aku akan menghancurkan mereka semua, dimulai dari perempuan itu.”
Ucapan Lunar sudah final dan Lunar sudah mengerti. Hingga Isna mengembuskan napas panjang.
Sebab melihat orang-orang itu berlalu lalang dan bebas melakukan apa saja, membuat hati Lunar semakin pedih. Dia dan Ibu tidak punya salah apa pun, mereka tidak berhak menerima perlakuan menyedihkan dari seorang pelakor, yang mana saat Isna sering curhat, yang paling baik padanya juga, mendapat balasan tidak baik. Apalagi Lunar sahabat Isna, dimana Isna ditinggalkan suami karena judi dan main perempuan.
Lunar yang sejak tadi menahan napas akhirnya bergerak untuk memijat pangkal hidungnya.
“Kamu tahu aku akan selalu bantuin kamu, Isna. Aku akan ada di samping kamu apa pun keadaannya. Kalau kamu mau balas dendam dengan cara ini, ayo kita lakukan, tapi jangan berlebihan. Gimanapun aku enggak mau mbak Alex tahu, kalau kamu lakukan aku ikut ikutan diam sebagai kakaknya.”
"Kalau ketahuan, ya kamu cukup bilang. Kamu itu dukung aku, agar rasa sakitnya terbalas. Aku gemas sama pelakor, karena gimana pun, aku mirip di posisi Amel, anak kecil itu kalau enggak kuat iman dan mental bakal kayak aku dendaman." jelas Lunar, membuat Isna sebenarnya sedikit takut, jika ide sahabatnya itu ingin menghampiri Kinar yang kini jadi adik ipar.
"Tapi kamu jangan berlebihan Lunar," pinta Isna.
“Aku punya banyak kenalan dan relasi. Aku akan cari tahu tentang perempuan itu. Jadi aku ga bakalan libatin kamu Isna, lagian aku ga benar benar mau rebut adik kamu, cuma mau kasih teguran gimana rasanya jadi pelakor suaminya di rebut pelakor lagi.” jelas Lunar, membuat Isna mengangguk.
Isna pun yang berjalan pulang, kala itu menghentikan sebuah mobilnya di sebuah gang, dimana Isna memberikan sebuah foto Kinar, sekaligus pulang kerja mereka satu arah, dimana Isna tengah hamil besar membawa mobil pulang.
Isna sebenarnya ketar ketir, niat hati mengadu menceritakan kisah nya, ternyata Lunar senasib dari anak korban yang mempunyai dendam pada nama wanita yang disebut pelakor.
'Duh jangan sampe Lunar kelewat batas deh, salah aku juga nih yang ga bisa rem mulut, cerita soal itu, pada orang yang salah.' deru Isna, dimana ia sudah sampai di sekolah Amel.
__ADS_1
Dan kini Isna harus tahu kontrakan adiknya yang bernama Alex, dan Kinar tinggal, sebab bagaimanapun anak keduanya bernama Raya, di asuh mereka, karena Isna sendiri banyak trouble dalam perceraian, sehingga memulihkan mental yang cukup untuknya. Apalagi Isna takut, jika Lunar sudah datang pada kehidupan mereka untuk mengacau.
TBC.