
Setelah semalam curhatan sang ipar, hal itu membuat Kinar merasa kepikiran, dimana esok pagi seperti biasa yang jelas, Kinar ingin rumah tangganya baik baik saja, apalagi Kinar takut, bahtera rumah tangganya bersama Alex akan di tolak.
Kinar hampir melupakan satu hal, saat ia berada di sebuah pulau, dimana Kinar sempat tenggelam dan kembali di tolong warga.
Menatap cermin, Kinar jadi memandang sebuah kaca, 5 tahun silam..
Dan saat itu kehilangan Kinar bak ditelan bumi, Kinar sangatlah menangis sejadi jadinya. Apalagi Alex saat itu, ia merasa biasa saja.
Sehingga beberapa bulan berlalu, Kinar menatap langit langit dan membuka mata, ia telah dikelilingi seorang ibu paruh baya yang tersenyum padanya.
"Alhamdulillah kamu dah sadar nak! sudah enam bulan kamu koma, nama kamu siapa? sudah ingat?"
Kinar.
Kinar menggeleng, ia berusaha keras mengingat dirinya dimasa lalu. Tapi jawabannya adalah Dia, semakin sakit. Ia hanya masih ingat namanya adalah Kinar, kala ia masih menatap kalung berliontin namanya saja.
"Kinar, seperti di liontin kamu. Cepat sembuh ya ndok! panggil aku ibu, ibu Sum!"
__ADS_1
Kinar mengangguk, hingga beberapa bulan kemudian. Kamu bisa senyum dan mulai bekerja, ia sudah banyak beradaptasi dengan warga sekitar.
"Bu, aku berangkat kerja dulu ya!"
"Iy ndok! baik baik ya. Kalau udah selesai kerjanya, cepat pulang!"
"Iy bu, Kinar pasti cepat pulang. Ga akan kelayapan pokoknya. Nurut sama ibu dan bapake." senyum.
Sementara Kinar, berada dikamar, ia sangat jelas menangis mengeluarkan air matanya. Ia ingat dirinya kecelakaan, menatap wajahnya sedikit luka bakar. Ia sadar siapa dirinya, selama ini hidupnya merana. Dan berada ditangan bu Sum, ia bagai anak yang beruntung. Kinar ingin pulang, tapi takut ibunya takut melihat wajahnya ini.
Hingga beberapa bulan lalu Kinar mengingat jelas, saat ia pertama kali bekerja yang masih terbilang anak baru.
Kinar kembali di minta untuk segera masuk bekerja, terus terang ini adalah detik detik ia bekerja sebagai pengganti kebersihan. Sudah tiga hari ia demam, meski kondisi fisiknya terlihat sehat. Tentu saja akibat beberapa hari lalu ia di minta membersihkan ke ruangan pria sial yang tak pernah Diah bayangkan.
'Andai saja, kulkas tak kosong seperti ini. Hyak!'
Kinar akhirnya, harus berbelanja bahan pokok untuk sepekan. Ia takut kedatangan kerabatnya akan menanyakan, maklum saja Kinar selalu tak boleh serba kosong kebutuhan masak. Ia tak di izinkan makan di luar, karena jajanan yang tak sehat. Maka dari itu stok persediaan tak boleh kosong.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, dengan motor bebeknya. Kinar dengan helm dan warna motor yang terlihat berwarna pink. Ia segera memarkir. Mengambil trolly! tentunya mengambil beberapa bahan pokok seperti sayur dan beras serta frozen. Tak lupa kentang dan camilan. Setelah mengantri di kasir, ia tak sengaja mundur dan menabrak seorang pria yang sedang menelpon.
BRAGH!!
"Uuuh, maaf Pak!" Kinar, terkejut bukan main ketika yang ia lihat adalah pria yang membuat harinya kacau.
"Bisa liat tidak kau." pria itu menatap tajam, lalu ingat perkataan wanita itu untuk tetap acuh.
"Mundur!"
"Hey! Gadis jelek, mundur kamu!"
"Hah .. Apa maksudnya?"
Itu adalah cara Kinar, menatap pria yang kini saling bertautan mata. Bahkan KInar tidak menjawab pertanyaan pria itu, ia malah membentak pria itu yang segera pergi, jijik melihat Kinar.
TBC.
__ADS_1